
Sejenak suasana menjadi hening, tak ada satupun yang berkomentar semuanya terdiam, Kafa dan Alif saling pandang setelah memakan habis satu bola-bola tahu Rambutan yang tadi mereka ambil dari atas piring.
"Bagaimana rasanya?" suara Salma membuyarkan tatapan mata Kafa dan Alif yang seolah bertukar pendapat lewat mata batin.
"Khem," Kafa mulai mengatur suaranya, meski sebenarnya rasa camilan yang di buat oleh Salma memang enak dan Kafa menyukainya, sangat tidak mungkin bagi Kafa untuk berterus terang dan mengatakannya langsung, rasa gengsi yang cukup besar masih menguasai hari Kafa.
"Lumayan," jawab Kafa, tapi hal yang berbeda di tunjukkan oleh Alif yang kini malah langsung mencomot kembali camilan yang di buat oleh Salma.
Melihat Alif begitu lahap memakan camilan yang dia buat membuat Salma merasa begitu senang, dia tersenyum bahagia menatap ke arah Alif yang masih sibuk mengunyah bola-bola tahu rambutan dan mencobanya dengan saos juga mayonaise.
"Sepertinya Adik kecil ini sangat menyukai camilan buatanku, apa itu artinya rasa camilannya enak?" ujar Salma seraya menatap lurus ke arah Alif yang masih saja makan dengan lahap.
Alif seolah tak mendengar apa yang di katakan oleh Salma, dia tetap saja makan dengan nikmatnya tanpa peduli pada apapun, sangat berbeda dengan Kafa yang kini mulai merasa malu melihat Adik kesayangannya begitu lahap memakan camilan buatan Salma.
"Alif!" Kafa menyenggol lengan Alif yang baru saja memasukkan satu camilan dengan saos mayonaise ke dalam mulutnya.
"Apa sih Kak? ganggu aja," keluh Alif yang mendadak lupa jika ada Salma di ruangan itu.
"Makannya biasa aja, ada calon Kakak iparmu lihat sejak tadi." lirih Kafa yang hanya bisa di dengar oleh keduanya.
"Sorry Kak, untuk kali ini aku tidak cs denganmu, masakan calon Kakak ipar memang enak banget dan aku menyukainya," ujar Alif jujur.
"Benarkan, masakanku enak," ujar Salma tersenyum penuh kebanggaan karena Alif sudah mengakui masakannya.
__ADS_1
"Jangan senang dulu! ini masih camilan yang aku yakin pasti mudah untuk membuatnya, aku masih belum tabu bagaimana rasanya masakan Kak Salma," ujar Alif, dia benar-benar bocah berwatak dewasa, Salma heran melihat Alif yang bersikap layaknya orang dewasa di umurnya yang mungkin masih delapan tahun.
"Jika Alif ingin tahu masakan Kakak, Alif tinggal datang aja ke pesantrennya Kak Kafa, Kakak sering membantu Ummi memasak di sana bahkan Kakak juga membantu memasak di kantin pondok," jawab Salma penuh dengan kepercayaan diri yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku akan ke sana nanti, dan Kak Salma harus bisa memasak makanan yang enak untukku!" ujar Alif penuh dengan ketegasan dia memberi perintah.
"Jika camilannya enak kenapa tidak di habiskan?" tanya Salma menatap ke arah camilan yang masih tersisa di piring.
"Aku akan menghabiskannya. Kakak tenang saja," ujar Alif yang kini mulai memakan kembali camilan yang di buat oleh Salma dwngan lahap.
Sedangkan Kafa masih saja menjaga gengsinya, dia tak melanjutkan makan, dia memilih untuk bermain ponsel mengecek semua email yang masuk, laporan keuangan tokoh dan swalayan yang di kelolahnya saat ini.
"Kak Salma belajar dari mana masak makanan seenak ini?" tanya Alif dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Kalau makan jangan sambil ngobrol! entar kalau keselek bakal sakit rasanya,"Salma mengingatkan adik kecil berwatak dewasa yang ada di depannya untuk tidak berbicara sambil makan.
"Baiklah, terserah Alif, Kak Salma hanya mengingatkan apa yang baik dan yang tidak baik untuk di lakukan," Salma yang merasa malas untuk berdebat dengan Alif memilih mengalah dan membiarkan Alif menang berdebat kata-kata dengannya.
Saat semua sedang fokus dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba pintu kamar terbuka nampaklah Khizkil yang sedang berdiri dengan gagahnya di tengah pintu dengan satu bungkus kado yang terlihat cukup besar di tangannya.
"Kaka Khizkil!" panggil Alif yang sukses mengalihkan pandangan Kafa dari pinsel ke arah di mana Khizkil berada.
"Hay Alif, bagaimana keadaanmu?" tanya Khizkil.
__ADS_1
"Aku baik Kak, masuklah! aku punya camilan enak!" titah Alif.
"Benarkah?" sahut Khizkil santai tak memperdulikan tatapan mata Kafa yang sudah tajam menatapnya, sedang Salma hanya menunduk tanpa kata, dia masih ingat tatapan Kafa yang penuh amarah menatapnya tadi saat Kafa melihat dirinya sedang mengobrol di taman bunga.
"Benar, dan kau tahu Kak siapa yang buat camilan enak ini?" Alif kembali berbicara.
"Memang siapa yang buat?" tanya Khizkil polos, padahal dia sangat tabu jika yang membuat camilan itu Salma, tadi Khizkil tak sengaja melihat Salma memasak di dapur, sebenarnya Khizkil tadi ingin menghampiri Salma tapi niatnya itu dia urungkan karena ada banyak orang yang sedang melakukan tugas mereka masing-masing di dapur itu, jika nanti Ummi dan Umik sudah mengumumkan siapa Salma sebenarnya maka Khizkil akan malu karena ketahuan mendekati calon saudaranya sendiri.
"Kaka Salma, dia pandai sekali buat camilan yang rasanya best," Alif mengacungkan kedua jempol ke arah Khizkil.
"Wahh benarkah? apa aku boleh mencobanya Alif?" tanya Khizkil sambil melirik ke arah Salma yang masih setia menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya sedang Kafa semakin jengkel dengan sikap tak berdosa yang di tunjukkan oleh Khizkil.
"Tentu saja, ayo kita makan bersama!" jawab Alif.
"Kenapa cuma kita yang makan Salma dan Kafa kenapa tidak ikut makan?" tanya Khizkil saat melihat Salma masih menunduk tanpa menyentuh makanannya dan Kafa yang masih setia menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Benar juga, Kak Salma dan Kak Kafa ayo ikut makan! kita makan bersama!" ajak Aluf dengan ekspresi wajah pemuh keceriaan dan semangat yang berkobar, sangat jauh berbeda dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan saat pertama kali bertemu dengan Salma.
"Tidak terima kasih, aku sudah kenyang," sahut Kafa.
"Kaka Salma ayo cobain! masakan Kakak enak loh," kini giliran Salma yang mendapat ajakan dari Alif.
"Tidak usah Alif, Kakak tadi sudah memakannya di dapur, jadi Alif saja yang makan, Kakak tidak ikut," jawab Salma.
__ADS_1
Melihat ketakutan yang terpancar dalam diri Salma membuat Khizkil merasa kasihan, seandainya saja dia yang lebih dulu bertemu dengan Salma bisa di pastikan jika saat ini Salma akan menjadi gadis yang paling bahagia di muka bumi ini, karena Khizkil tidak akan pernah membuat Salma bersedih ataupun ketakutan seprti saat ini.
Khizkil tak bisa memungkiri jika Salma memang gadis yang menarik dan istimewa di bandingkan dengan gadis-gadis yang dia temui sebelumnya, tapi Khizkil tidak bisa memaksakan diri karena saat ini Salma sudah terikat dan akan menjadi milik Kafa, keponakan dari Umik barunya.