
Sore telah berlalu dan sholat maghribpun telah di laksanakan, kini waktunya makan telah tiba, Salma yang merasa lapar sejak sore tak lagi bisa menahannya, kebiasaan makan di kota dan di pesantren jauh berbeda, di tempat tinggal Salma saat ini makanan baru akan siap tersaji setelah sholat maghrib di laksanakan, berbeda dengan kebiasaan Salma di pesantren, waktu makan di pesantren sore hari sekitar pukul tiga sampai pukul lima, di atas jam lima kantin yang menyediakan makan akan tutup.
Sebenarnya tadi Salma sempat mengajak Mbok Sumik untuk makan kemudian berencana mengajak Kafa dan Ghozi, tapi Mbok Sumik mencegahnya dan mengatakan jika kebiasaan makan di tempat itu jam enam lbih atau habis sholat maghrib.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa makan juga," lirih Salma yang masih bisa di dengar oleh Kafa.
"Kamu lapar Salma?" setelah mendengar rasa syukur yang keluar dari mulut Salma, Kafa spontan langsung bertanya, pasalnya ekspresi wajah Salma menunjukkan jika dia merasa begitu lega bisa makan, ekspresi yang sama dengan ekspresi seseorang yang sedang berpuasa.
"Tentu saja aku lapar, biasanya jam segini aku sudah kenyang dan mengaji dengan tenang, tapi di sini aku baru bisa makan," seloroh Salma.
"Lain kali kalau lapar langsung makan saja! jangan nunggu kita!" titah Kafa.
"Mana bisa begitu, makan itu enaknya bareng-bareng," ujar Salma yang menolak perintah Kafa.
"Sudahlah, jangan berdebat! lebih baik kalian langsung makan, kalau mau debat nanti aja di kamar kalian, aku pusing dengernya," sela Ghozi, dia mengeluh atas perdebatan yang terjadi hingga membuatnya pusing.
"Masf Ghozi," ucap Salma.
"Tidak apa-apa Salma, aku hanya mengingatkan saja," sahut Ghozi dengan senyum yang ramah.
"Loh Mbok Sumik ke mana?" tanya Salma yang baru menyadari jika Mbok Sumik tidak ada di meja makan.
"Dia akan makan sendiri di kamarnya." Jawab Kafa.
"Loh kenapa mesti makan di kamar? kenapa tidak makan bareng kit aja?" tanya Salma yang merasa tidak lengkap karena Mbok Sumik tidak ada.
"Entahlah," sahut Kafa cuek.
Salma langsung berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamar Mbok Sumik untuk mengajaknya bergabung makan bersama di meja makan.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
"Mbok Sumik!" panggil Salma.
"Iya, ada apa Neng?" jawab Mbok Sumik dari dalam kamar seraya membuka pintu.
"Mbok ngapain di kamar?" tanya Salma setelah Mbok Sumik keluar dari kamar.
"Mbok baru selesai ngaji Neng, memangnya ada apa Neng Salma cari Mbok? bukannya sekarang sudah jamnya makan?" jawab Mbok Sumik menatap heran ke arah Salma.
"Sekarang memang waktunya makan, itu sebabnya aku ke sini mau nyusulin Mbok Sumik biar bisa makan bareng," Salma menhelaskan alasan dirinya datang ke kamar Mbok Sumik.
"Tapi Neng, Mbok biasa makan setelah kalian makan," ucap Mbok Sumik.
"Kenapa nunggu kita selesai makan? kenapa tidak makan bersama?" tanya Salma sedikit tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Mbok Sumik.
Dulu Mbok Sumik memang sering makan bersama Kafa di meja makan sebelum Intan hadir di kehidupan Kafa, Mbok Sumik tidak lagi di izinkan makan bersama di meja makan dengan alasan pembantu memiliki tempat sendiri untuk makan bukan di tempat makan bersama majikan, dan Kafa yang cuek hanya diam saja mendengar ucapan Intan. Sejak saat itu Mbok Sumik memilih mengalah makan di kamar ataupun di dapur setelah Kafa dan yang lain makan.
"Sudahlah, jangan banyak berfikir! mulai saat ini kita makan bersama di meja makan titik," Salma menggandeng tangan Mbok Sumik melangkah menuju meja makan dan bergabung bersama yang lain.
"Ayo makan!" ajak Salma mengambil nasi untuknya dan memberikan piring ke depan tempat Mbok Sumik duduk, sedang Kafa hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan Salma tanpa ada niat protes ataupun mengganggu keduanya. Kafa hanya diam di tempat dengan makanan yang sudah di ambilkan Salma sebelumnya.
Kini suasana di meja makan terasa begitu lengkap setelah Mbok Sumik juga ikut makan bersama di meja makan, semua makan dengan tenang, hanya dentingan sendok, garbu dan piring yang saling beradu.
"Aku mau istirahat dulu, nanti bangunin aku jika waktu sholat isya' telah tiba," pesan Salma yang memilih langsung beristirahat ke kamar tanpa ingin mengobrol lagi.
"Kamu tidurlah! nanti aku yang akan membangunkanmu," jawab Kafa.
"Aku juga bisa bangunin kamu Salma, bagaimana kalau nanti aku yang bangunin?" sahut Ghozi.
__ADS_1
'Tak'
Satu jitakan jemari tangan Kafa mendarat indah di kepala Ghozi.
"Ishhh, sakit tahu," keluh Ghozi.
"Diam atau aku tambahin jitakannya?" sahut Kafa dengan mata yang melotot.
Ghozi langsung diam tanpa kata, tak ada lagi kata yang terucap dari bibir indahnya, sedang Salma tersenyum lucu menghadap ke arah Kafa dan Ghozi kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan menuju kamar.
Salma langsung terlelap dalam tidurnya sesaat setelah dia menaruh badannya di atas tempat tidur, mungkin rasa lelah yang menguasai diri Salma setelah perjuangan Salma untuk sampai di kota tadi pagi masih terasa padahal tadi Salma juga sudah beristirahat.
Ghozi dan Kafa mengobrol dengan asyiknya hingga waktu sholat isya'pun tiba, Kafa berpamitan untuk membangunkan Salma sesuai dengan apa yang dia minta, sedang Ghozi kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat sekalian melanjutkan tidur siang yang tadi tertunda dan kini menjadi tidur malam.
"Salma, bangun! sudah isya' kota sholat dulu." Kafa menggoyang tubuh Salma dengan lembut.
"Hm," sahut Salma, sejak pertama mau tidur Salma sudah niat jika dirinya akan bangun dan sholat karena itulah dia sangat mudah di bangunkan.
"Sholat dulu! nanti kamu bisa sambung tidur lagi," tutur Kafa.
"Iya," Salma berjalan menuju kamar mandi meski dalam keadaan setengah sadar, tapi Salma berjalan ke kamar mandidengan langkah santai.
Salma melaksanakan sholat isya' bersama dengan Kafa, rasanya sangat berbeda, bisa berjamaah sendiri di kamar dengan seseorang yang sudah halal bagi kita memberi sensasi yang berbeda.
"Mas Kafa mau di buatin sesuatu?" tawar Salma, sebenarnya dia sangat lelah dari ekspresi wajahnya terlihat jelas jika Salma masih sangat lelah tanpa harus di jelaskan.
"Tidak ada, lebih baik kamu lanjutkan istirahatmu yang tadi tertunda." Titah Kafa yang terdengar perhatian.
"Terima kasih," sahit Salma dengan senyum manis yang tampak indah di wajahnya.
__ADS_1
Malam semakin larut, kota di mana Salma tinggal saat ini seolah tak pernah tidur, masih terlihat ada banyak kendaraan berlalu lalang, Salma kini terlelap dalam mimpinya, tapi berbeda dengan Kafa yang kini bersiap untuk pergi setelah mendapat satu notif pesan dalam ponselnya.