
"Cara paling ampuh itu mencari cinta yang baru, agar cinta lama bisa hilang sepenuhnya," jawab Ghozi.
"Di pesantren mana bisa cari cinta yang baru, kita aja jarang sekali ketemu cowok, yang ada cuma cewek, mask iya jeruk makan jeruk, isshhh ngeri aku, naudzubillah semoga aku di jauhkan dari yang begituan, amit-amit tujuh turunan," ujar Tari seraya mengepalkan tangan dan mengetukkannya ke tanah beberapa kali.
Melihat tingkah lucu Tari sukses membuat Ghozi tersenyum karenanya, sungguh Tari terlihat begitu lucu saat ini.
"Kamu kenapa senyum-senyum gak jelas seperti itu?" tanya Tari menatap heran ke arah Ghozi yang masih saja tersenyum melihat ke arah Tari.
"Emang kenapa kalau senyum? gak boleh? bukankah senyum itu ibadah, jadi aku yakin jika ibadah itu tidak perlu sebuah alasan," jawaban yang sungguh menjengkelkan di dengar oleh telinga.
"Astaga, kenapa kamu jadi orang yang gak jelas gitu sih Ghozi," ucap Tari.
"Aku hanya ingin menghiburmu saja Tari, dengan aku bersikap seperyi tadi, ku harap fikiranmu teralihkan, jangn memikirkan dia yang tidak memikirkanmu! rugi tahu," tutur Ghozi yang sukses membuat Tari semakin merasa sulit untuk melupakanny.
Bagaimana bisa Tari melupakan Ghozi yang saat ini justru menghiburnya. Dan kenapa dia harus terus bertemu dengan Ghozi setiap kali dia sendiri dan ingin melupakan cinta tak terbalasnya.
"Kamu bilang kita harus melupakan cinta lama dengan cinta yang baru, apa itu artinya aku harus mencintai orang lain agar aku bisa melupakan dia yang tidak mencintaiku?" Tari mulai membahas kembali rasa cinta yang masih hinggap di hatinya.
"Kamu benar Tari, lupakan dia dan cari pelabuhan hati yang menurutmu jauh lebih baik dari dia!" jawab Ghozi penuh dengan semangat, entah mengapa dia sangat senang memberi Tari semangat meski saat ini hatinya sendiri sedang hancur tidak berbentuk.
"Jika aku memilihmu, apa yang akan kamu lakukan?" Tari sengaja ingin melihat ekspresi wajah Ghozi jika dia mengatakan apa yang sebenarnya ada di hatinya, meski Tari tidak mengatakannya langsung, tapi Tari tetap ingin mengungkapkannya meski hanya samar.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Tari membuat Ghozi terdiam seribu bahasa, sungguh Ghozi tidak menyangka jika Tari akan mengatakan hal yang mengejutkan seperti sekarang.
"Jangan di ambil hati ataupun di anggap serius! aku hanya bercanda Ghozi," sambung Tari saat melihat Ghozi malah terdiam mematung setelah mendengar ucapan Tari.
"Eh, a~aku sudah menduganya," sahut Ghozi dengan nada gugup.
Sebenarnya Ghozi sangat kaget mendengar apa yang di katakan oleh Tari, dia sangat bingung mau menjawab apa, baginya Tari memang baik dan gadis yang unik juga tergolong langkah, Tari yang apa adanya membuat Ghozi semakin yakin jika dia memang gadis yabg tepat untuk di jadikan pendamping hidup, hanya saja hati Ghozi masih memilih Salma yang jelas-jelas sudah terikat dengan Kafa, cinta memang aneh tapi rasa cinta tidak bisa di kendalikan begitu saja, karena rasa cinta itu datang dan pergi dengan sendirinya dan yang mengatur rasa cinta itu hati bukan logika, apalah daya diri jika hati sudah memilih.
"Sudahlah, aku pergi dulu." Pamit Tari setelah merasa suasana yang tadi enjoy kini menjadi sedikit canggung dan tegang setelah Tari mengatakan hal mengejutkan bagi Ghozi.
"Kamu mau ke mana?" bukannya membiarkan Tari pergi Ghozi malah bertanya ke mana dia akan pergi.
"Kita memang senasib Tari, jadi jika nanti takdir memihak dan menyatukan kita, apa kamu mau?" pertanyaan yang cukup membuat Tari terdiam dan syok dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.
"Aku hanya bisa ngikutin takdir, jadi apa yang di takdirkan untukku maka akan aku terima dengan penuh rasa syukur," jawab Tari seraya berjalan meninggalkan Ghozi yang masih berdiam diri di tempat tanpa bergerak.
Sebenarnya Tari sangat senang dan berharap jika apa yang fi katakan Ghozi akan menjadi nyata, meski Tari sangat senang dia tidak bisa langsung memperlihatkannya, karena bagi Tari harga dirinya lebih tinggi dari apapun, dia tidak ingin sampai Ghozi tahu jika dia mencintainya, Tari tidak ingin di remehkan karena rasa cintanya.
"Jika dia memang jodohku, aku yakin kita akan bersatu. san aku yakin akan ada jalan yang bisa mempersatukan kita, dan jika tidak maka aku yakin akan ada Ghozi lain yang jauh lebih yang akan datang dan menggantikannya," lirih Tari sambil berjalan masuk ke dalam area pondok putri, fikiran Tari sedang waras, jadi dia berfikir jernih tidak seperti tadi saat dia gabut.
"Assalamualaikum," ucap Tari sesaat setelah sampai di kamar.
__ADS_1
"Tari!!!" suara cetar Salma terdengar, biasanya suara dia lembut, tapi entah mengapa sekarang malah terdengar cetar membahana.
"Jawab dulu salamnya Salma!" kali ini Tari yang mengingatkan Salma atas kesalahan yang telah dia perbuat.
"°Waalaikum salam," jawab Salma dengan nada cepat yang cukup membuat Tari heran.
"Kamu kenapa Salma? apa ada masalah?" tanya Tari saat melihat perubahan nada bicara Salma.
"Kamu tahu Tari, sejak tadi aku nungguin kamu, aku juga nyari kamu di setiap tempat yang biasa kamu datangi, tapi kamunya tetap tidak ada, kamu dari mana?" tanya Salma.
" Aku habis nyepi, emang kamu nyari aku ada apa?" Tari kembali melempar pertanyaan pada Salma.
"Aku mau ngajakin kamu masak, tapi gak jadi karena kamu gak ada tadi," jawab Salma.
Mendengar kata masak yang berarti berujung makan makanan enak, karena masakan Salma yang enak kini mulai terbayang di kepala Tari, meskipun dia sudah makan pagi, tapi Tari tetap saja terbayang-bayang makanan saat Salma mengatakan Masak bersama.
"Ayo kita masak!" ajak Tari dengan penuh semangat mengajak Salma untuk memasak.
"Tidak jadi, sekarang aku mau tidur aja, capek." Tolak Salma yang saat ini memang lelah dan ingin beristirahat.
"Yach, gak jadi makan enak aku," semangat yang tadi terlihat berkobar kini malah menghilang bak di telan bumi, Tari hanya bisa menerima keputusan Salma tanpa bisa melawan ataupun mendebatnya, selain itu Tari juga merasa lelah ingin beristirahat, menghadapi kenyataan pahit dan selalu di hadapkan dengan hal yang sama sungguh membutuhkan kekuatan yang tidaklah sedikit. Dan Tari harus mengistirahatkan diri juga fikirannya sekarang.
__ADS_1