
"Mas Kafa!" Salma kembali memanggil Kafa yang tak kunjung terdengar jika dia sedang mendekat.
"Tunggu sebentar!" sahut Kafa yang kini berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Kafa sesaat setelah berada telat di depan pintu.
Mendengar suara Kafa sudah ada di depan pintu Salma memberanikan diri menampakkan kepalanya keluar dari kamar mandi.
"Mas, tolong ambilkan pembalut dan dalemanku!" dengan seluruh keberanian yang di miliki dan menyingkirkan rasa malu yang kini menjalar dalam diri Salma, dia berusaha mengatakan apa yang sedang dia butuhkan.
"Tunggu di sini! aku akan mencarikannya untukmu." Kafa berjalan beberapa langkah namun langkahnya itu terhenti saat dia mengingat sesuatu.
"Salma!"panggil Kafa sebelum Salma benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa Mas Kafa?" tanya Salma menatap aneh ke arah Kafa yang justru berbalik ke arahnya.
"Kamu menyimpannya di mana Salma?" Kafa balik bertanya, dia benar-benar tidak tahu di mana Salma menyimpan benda keramatnya itu.
"Aku menyimpannya di laci yang terletak di bawah tempat penyimpanan kerudung," jelas Salma.
"Apa semuanya kamu simpan di situ?" Kafa kembali bertanya.
"Iya, Mas Kafa," jawab Salma.
"Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu." Ujar Kafa yang akhirnya berjalan menuju ruang penyimpanan pakaian.
"Laci di bawah tempat penyimpanan kerudung," lirih Kafa mengingat apa yang di katakan oleh Salma.
Kafa terus mencari hingga dia menemukan laci yang di maksud oleh Salma, satu setel daleman berwarna pink kini sudah ada di tangan Kafa, tak lupa juga dengan satu roti penampungan juga Kafa ambil dari tempatnya.
"Ishh, baru juga ngerasain surga dunia, sekarang malah harus puasa lagi," keluh Kafa seraya membolak balikkan roti penampungan yang kini ada di tangannya.
Tok ... tok ... tok ....
Kafa mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, mencoba memberitahu Salma jika dirinya sudah mengambilkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Salma!" panggil Kafa karena Salma tak kunjung bersuara meski Kafa sudah mengetuk pintunya beberapa kali.
"Sebentar!" Salma baru menyahut setelah Kafa memanggilnya dengan nada lebih tinggi.
"Ini barang yang kamu minta," ucap Kafa.
Perlahan Salma membuka pintu kamar mandi, dia kembali menampakkan kepalanya agar bisa melihat Kafa.
"Mana Mas?" pinta Salma mengulurkan tangan.
"Ini untukmu, bukankah aku pintar memilih warna yang kamu suka," ujar Kafa sambil menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Salma yang langsung menutup pintu menyembunyikan pipinya yang kini memerah akibat Kafa.
"Gemesnya, seandainya gak datang sekarang tu bulan, bisa di pastikan aku akan menghabisinya," gumam Kafa masuk ke ruang ganti baju mengambil baju yang akan dia gunakan kemudian berjalan keluar dari kamar menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur, Kafa tidak mungkin menunggu Salma selesai dengan urusannya yang bisa memakan waktu berjam-jam.
"Mau ke mana Mas Kafa?" tanya Mbok Sumik saat melihat Kafa berjalan dengan langkah celatmmmm cepat menuju kamar mandi dengan handuk yang melilit indah di lehernya.
"Mandi Mbok," jawab Kafa singkat dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa peduli pada siapapun atau apapun yang sedang memanggilnya.
Mbok Sumik hanya bisa menatap heran ke arah Kafa tanpa bertanya lagi karena Kafa yang langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa perdulikan apapun lagi. Jam di dinding terus berputar menyadarkan setiap hamba yang belum sadar untuk apa dia di ciptakn
"Mas Ka~" suara Salma menggantung di udara, pasalnya kamar yang tadi berpenghuni kini mendadak kosong melompong tanpa ada satu orang pun yang ada si sana.
"Loh kok sepi? Mas kafa Ke mana ?" gumam Kafa mendapati kamar yang sudah kosong tak berpenghuni.
"Apa mungkin Mas Kafa keluar dari kamar ya?" Salma kembali bergumam.
Salma yang yakin jika suaminya itu keluar dari rumah kini mulai berjalan meninggalkan kamar menuju kamar mandi bawah, Salma menebak Kafa pasti ada di sana untuk membersihkan diri karena waktu untuk sholat ashar tinggal sedikit.
"Mbok Sumik!" sapa Salma dengan senyum indah yang tampak terlihat di wajahnya.
"Iya, ada apa Neng? apa ada yang perlu di bantu?" sahut Mbok Sumik sambil tersenyum ramah ke arah Mbok Sumik.
"Apa Mbok melihat Mas Kafa?" tanya Salma yang tak ingin berbohong, dia juga ingin segera menemukan Kafa.
"Tadi Mbok lihat Mas Kafa masuk ke dalam kamar mandi Neng, dan Mbok tak melihat lagi, apakah Kafa sudah keluar dari kamar mandi atau belum," jawab Mbok Sumik yang cukup membantu.
__ADS_1
"Baiklah Mbok, terima kasih," jawab Salma yang justru duduk di meja makan setelah berterima kasih kepada Mbok Sumik.
"Loh, Neng Salma kok duduk di sini? bukannya tadi sedang mencari Mas Kafa?" tanya Mbok Sumik menatap heran ke arah Salma yamg justru terlihat tersenyum manis ke arah Mbok Sumik.
"Aku capek Mbok, jadi aku tunggu Mas Kafa di sini saja, nanti dia juga bakal muncul," jawab Mbok Sumik.
Mbok Sumik tersenyum mendengar jawaban Salma yang memang masuk akal.
"Apa Mbok tidak punya camilan?" tanya Salma menatap kosong ke arah meja makan yang kini terlihat kosong tanpa makanan.
"Ada Neng Salma, camilannya masih utuh dan Mbok baru mengisinya, jadi toplesnya Mbok taruh di lemari penyimpanan makanan ringan," tutur Mbok Sumik yang langsung berjalan mendekat ke arah tempat penyimpan makanan ringan.
"Neng Salma mau makan yang mana?" tawar Mbok Sumik sambil memperlihatkan hampir semua makanan yang ada si sana.
"Aku ingin kripik kentang Mbok," jawab Salma menatap kripik kentang yang terlihat menggiurkan.
Mbok Sumik mengambilkan satu bungkus kripik yang ada di meja makan, kemudian mulai menyantap kripik yang terasa begitu nikmat.
"Mbok gak makan kripik ini juga?" tanya Salma pada Mbok Sumik yang hanya menggeleng.
"Enak loh Mbok," Salma mencoba memamerkan makanan yang tengah dia makan itu.
"Tidak Neng, nanti kalau Mbok pengen pasti bakal Mbok makan," jawab Mbok Sumik yang saat ini merasa enggan untuk memakan kripik yang di makan Salma.
Dan benar saja, Kafa yang di cari kini terlihat berjalan mendekat ke arah dapur dengan memakai baju kokoh yang sukses membuat Kafa terlihat semakin tampan.
"Huss bengong aja." Kafa melambaikan tangan tepat di depan wajah Salma.
"Mas kok tampan," kata-kata yang seharusnya tak terucap dan tersimpan rapi di mulut kini keluar begitu saja tanpa bisa di hentikan.
"Sejak dulu aku emang tampan, kamu aja yang tidak sadar," ucap Kafa.
"Ishhh nyesel aku muji Mas Kafa," sahut Salma.
"Kenapa harus menyesal?" tanya Kafa dengan ekspresi penuh rasa penasaran.
__ADS_1