
"Bagaimana keadaanmu? apa Mas Kafa menyakitimu atau mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaanmu?" Tari langsung membrondongi Salma dengan berbagai pertanyaan yang cukup membuat Salma tercengang.
"Pertanyaan macam apa itu Tari? kamu bertanya seolah-olah aku baru saja bertemu dengan musuh bebuyutanku," ujar Salma.
"Aku hanya khawatir saja padamu, takut Mas Kafa khilaf, sejarah dia selalu bersikap kurang baik padamu selama ini, jadi wajar jika aku merasa khawatir karenanya," Tari mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"I'm fine, tenang saja, Mas Kafa sekarang baik kok sama Aku," ucap Salma meyakinkan Tari.
"Syukurlah kalau begitu," sahit Tari sambil tersenyum menatap ke arah Salma yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
"Sudah jangan terlalu khawatirkan aku mending sekarang kamu istirahat saja! sini duduk! kita makan buah bareng." Ajak Salma yang langsung di turuti oleh Tari.
"Jika kamu memaksa maka aku akan memakannya," sahut Tari.
"Tari, Tari, kamu bisa aja," ujar Salma sambil menggelengkan kepala menatap wajah Tari yang saat ini tersenyum.
Keduanya makan dengan penuh canda dan tawa, sungguh tak ada kenikmatan lain yang bisa di dustakan keduanya.
Jika Salma dan Tari sedang menikmati makanan yang dulu jarang pernah bisa mereka nikmati maka berbeda dengan Ummi yang kini terlihat begitu bahagia sekaligus sibuk untuk menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan sang putera semata wayang, Ummi menghubungi semua orang yang terlibat dalam persiapan pernikahan yang akan berlangsung dengan tujuan memberitahukan jika acara pernikahannya di majukan, jangan tanyakan lagi bagaimana sibuk dan terkejutnya mereka, tapi semua itu bisa di selesaikan dengan bayaran yang lebih tinggi yang Ummi berikan.
Bahkan Ummi berani membayar dua kali lipat jika salah satu dari mereka tidak mau menuruti ucapan Ummi.
"Mbk Mila!" panggil Ummi saat keduanya kini sedang berada di ruang keluarga untuk mengganti tanggal pernikahan yang tertera di dalam surat undangan yang telah selesai di cetak, untungnya Ummi punya cukup banyak pasukan untuk membantunya, beberapa santri yang tengah libur dari kegiatan sehari-hari juga ikut membantu Ummi untuk mengganti tanggal juga hari pernikahan Kafa yang sudah tertulis di kartu undangan.
__ADS_1
"Mbak, tolong bantu ganti ya!" pinta Ummi dengan senyum yang tidak pernah luntur sejak dia pulang tadi sampai saat ini.
"Baik, Ummi," jawab Mila yang langsung membawa tumpukan kartu undangan ke aula untuk segera melaksanakan apa yang di perintahkan sang Ummi bersama teman-temannya yang lain.
Mila dan semua teman-temannya beramai-ramai mengganti tanggal dan hari pernikahan yang telah tercetak di kartu undangan dengan penuh semangat sambil sesekali berbincang membicarakan tentang nasib baik Salma yang bisa menikah dengan Kafa pemilik pesantren. Sedang Ummi yang melihat semangat Mila juga teman-temannya dalam membantunya langsung berjalan masuk ke dalam dapur kemudian membuat beberapa camilan juga es sirup yang bisa di minum oleh Mila dan yang lain.
"Mbak Mila!" panggil Ummi sambil melambaikan tangan memberi kode bahwa Mila di minta untuk datang mendekat.
"Iya, Ummi," sahut Mila berjalan mendekat ke arah Ummi.
"Ajak salah satu temanmu ikut bersama Ummi!" pinta Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Mila yang memang begitu taat pada Ummi sang guru.
"Ummi sudah siapkan beberapa camilan dan es sirup untuk kalian, ambil dan makanlah bersama yang lain!" Ummi kembali memberi perintah seraya menunjuk ke arah meja di mana makanan dan minuman yang Ummi buat tadi berada.
"Masya allah, terima kasih Ummi," ucap Mila merasa sangat beruntung mendapat guru yang begitu mengerti juga perhatian padanya.
"Harusnya Ummi yang berterima kasih karena kamu dan teman-temanmu sudah mau membantu Ummi," jawab Ummi sambil mengelus lembut punggung Mila yang berdiri tepat di sampingnya, apa yang Ummi katakan sukses membuat Mila dan temannya tersenyum.
"Sudah, kalian bawa makanan dan minuman itu ke teman-temanmu biar kalian bisa menikmatinya lebih dulu, setelah itu kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Mila melenggang pergi meninggalkan dapur bersama temannya.
__ADS_1
Semua orang terlihat begitu sibuk dengan segala macam persiapan untuk pernikahan Kafa dan Salma, tapi hal lain terlihat sangat berbeda, Kafa terlihat sibuk bernegoisasi dengan dokter yang merawat Salma, Kafa berusaha keras memenuhi keinginan Salma yang sudah ingin kembali ke pesantren.
"Bagaimana Dok? apa Salma bisa pulang sekarang?" tanya Kafa dengan ekspresi wajah penuh harapan.
"Maaf Mas Kafa, Neng Salma masih harus tetap tinggal di sini sampai obat anti biotiknya habis," jawab Sang Dokter.
"Apa obatnya tidak bisa di berikan di rumah saja, Dok?" tawar Mas Kafa.
"Obat yang di berikan harus lewat infus Mas Kafa, kalau pulang bagaimana Neng Salma bisa sembuh?" sahut Sang Dokter.
Dokter Harun adalah dokter yang menangani Salma di rumah sakit dan kebetulan dokter Harun adalah Dokter pribadi yang biasa di panggil ke pesantren untuk mengobati para santri ataupun keluarga Kafa jika dalam keadaan darurat, Dokter Harun juga tahu jika Salma adalah calon istri dari Kafa
"Apa tidak bisa di berikan di rumah saja Dok?" Kafa masih mencoba menawar.
"Bisa saja, asal Mas Kafa mau menyewa perawat pribadi untuk menjaga Neng Salma, jadi sekalipun saya tidak datang ada suster yang akan memberikan obatnya tepat waktu, dan saya akan memeriksa sekali dalam sehari," Dokter Harun menhelaskan apa yang harus di lakukan Kafa jika dia menginginkan Salma pulang ke rumah.
Mendengar penjelasan Dokter Harun sukses membuat Kafa terdiam, dia sanggup dan sangat mampu untuk membiayai Salma selama di rumah, hanya saja, Kafa harus membicarakan masalah ini pada Salma yang akan menjalani perawatan.
"Saya akan bicarakan dulu dengan Salma, jika dia setuju dengan syarat yang Dokter berikan maka saya akan segera menghubungi Dokter." Ujar Kafa.
"Baiklah Mas Kafa, saya masih bertugas di sini sampai nanti jam dua siang, jadi kalau Mas Kafa mau pulang hubungi saya sebelum jam dua siang!" titah Dokter Harun.
"Baik Dok, terima kasih untuk semuanya, saya permisi." Pamit Kafa melenggang pergi meninggalkan ruangan Dokter Harun menuju kamar Salma untuk meminta pendapatnya tentang syarat yang di berikan oleh Dokter Harun.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Kafa terus saja berfikir bagaimana caranya agar dia bisa membawa Salma ke kota dan tetap memastikan keamanannya, permintaan Salma untuk pulang tidak menjadi prioritas karena dia pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, tapi masalah yang akan di hadapi nanti akan jauh lebih sulit untuk di lewati hingga satu ide muncul dalam benaknya, membuat senyum Kafa kembali terlihat.