
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Pamit kariyawati yang tadi mendapat perintah mencari kariyawan.
"Hm," sahut Kafa singkat tanpa menoleh ke arahnya.
"Saya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" ujar Kariyawan yang baru saja datang, wajahnya terlihat pias di penuhi rasa takut,
"Siapa namamu?" tanya Kafa yanh masih terlihat dingin dan berwibawa.
"Iwan Tuan," jawab Kariyawan baru yang ternyata bernama Iwan.
"Iwan, ini untukmu," ujar Kafa seraya memberikan satu amplop berwarna coklat ke hadapannya.
"Apa ini Tuan?" tanya Iwan yang terlihat semakin pias, fikiran Iwan sudah melayang jauh melanglang buana mencari tahu sendiri apa yang ada di dalam amplop coklat yang di berikan oleh Kafa.
Kafa tak menjawab pertanyaan Iwan, dia hanya diam memperhatikan reaksi Iwan setelah melihat apa yang ada di dalam amplop itu.
"Masya allah, ini uang untuk apa Tuan?" Tanya Iwan dengan tangan bergetar dia mengeluarkan satu ikat uang berwarna merah yang ada di dalam amplop.
Iwan berfikir jika uang itu uang pesangon yang di berikan Kafa pada Iwan, sungguh Iwan tidak ingin di pecat oleh Kafa, dia sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Tuan, aku tidak ingin di pecat, aku masih ingin tetap bekerja di sini, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," ujar Iwan dengan penuh kepedihan yang terlihat di wajahnya.
"Apa yang kamu bicarakan Iwan?" sahut Salma terkejut, dia yang sejak tadi penasaran dengan maksud Kafa yang memberikan seikat uang pada Iwan kini mulai berfikir buruk.
"Mas, apa benar ini uang pesangon?" tanya Salma dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Siapa bilang kalau uang itu merupakan uang pesangon?" Kafa yang sengaja diam karena ingin melihat reaksi Iwan kini mulai bersuara.
"Jika bukan uang pesangon, terus ini uang apa Tuan?" Iwan menjawab pertanyaan Kafa dengan sebuah pertanyaan yang mewakilkan seluruh perasaannya.
"Itu bonus untukmu," jawab Kafa singkat.
"Tuan Kafa serius memberikan uang ini sebagai bonus?" Iwan yang awalnya berfikir buruk tentang makna dari uang yang di berikan oleh Kafa kini malah terlihat tidak percaya dengan apa yang di berikan oleh Kafa.
"Kalau kamu tidak mau taruh kembali di atas meja!" titah Kafa, dia tidak ingin mengambil pusibg tentang uang yang tidak terlalu banyak baginya.
"Terima kasih Mas Kafa, semoga allah melancarkan rezeki Mas Kafa dan memberikan keberkahan di setiap kehidupan Mas Kafa, juga memberikan kebahagiaan untuk Mas Kafa dan Neng Salma, terima kasih," spontan Iwan yang merasa begitu bersyukur dengan rezeki tak terduga yang dia dapatkan saat ini, sungguh Iwan tak pernah menyangka jika dirinya akan mendapatkan bonus.
"Jangan senang dulu Iwan!" ucap Kafa yang langsung membuat Iwan terbelalak sambil menatap ke arah Kafa.
"Jangan katakan hal ini pada kariyawan ataupun kariyawati lainnya! aku berikan bonus itu karena kamu bisa membuat istriku tersanjung dengan kinerjamu, tapi kamu jangan besar kepala setelah aku berbicara seperti ini! tetaplah bekerja seperti biasa!" Kafa mengingatkan Iwan agar dia merahasiakan bonus yang sebenarnya akan di berikan setiap akhir tahun itu.
"Baik, Mas Kafa, sekali lagi yerima kasih Mas Kafa, Neng Salma," ujar Iwan.
"Sudah jangan berterima kasih lagi! sekarang kembalilah bekerja dan berpura-puralah tidak terjadi apapun di sini!" sahut Kafa yang tak ingin melihat Iwan terlalu lama berada di ruangan yang sama dengan Salma sang istri tercinta.
Apa yang terjadi di ruangan itu tak luput dari perhatian Salma, dia tersenyum senang melihat apa yang di lakukan oleh Kafa, sungguh suaminya itu sangat manis, tanpa Salma bilang Kafa seperti sudah mengerti dengan apa yang ada di fikirannya, sedang Iwan melangkah keluar dari ruangan Kafa meninggalkan dua sejoli yang terlihat begitu harmonis.
"Ngapain kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Salma menatap aneh ke arah Salma yang masih terlihat tersenyum tidak jelas di hadapan Kafa.
"Aku cuma ngerasa bahagia melihat apa yang di lakukan Mas Kafa, terima kasih atas semua kebaikan yang Mas Kafa berikan," jawab Salma dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Aku juga butuh hadiah atas apa yang sudah aku lakukan tadi Salma," ujar Kafa yang cukup membuat Salma bingung karenanya.
"Hadiah apa Mas Kafa? aku akan membelikan apapun yang Mas Kafa mau, asal jangan yang terlalu mahal! aku tidak akan sanggup membelinya jika Mas Kafa memilih sesuatu yang mahal," jawab Kafa.
"Aku tidak ingin kamu belikan sesuatu, yang aku inginkan sesuatu yang tidak perlu kamu bayar," ujar Kafa.
"Sesuatu yang tidak perlu aku bayar? apa Mas?" tanya Salma sambil mengerutkan dahi menatap bingung ke arah Kafa.
Kafa tersenyum devil mendengar pertanyaan Salma, dalam benaknya ada ide brillian yang tersimpan dalam benak Kafa.
"Aku tidak ingin mengabulkan permintaan yang tidak masuk akal seperti itu," Salma berusaha menolak sebelum Kafa meminta hal-hal yang tidak mungkin di lakukan olehnya.
"Tenang saja, aku hanya meminta sesuatu yang pasti bisa kamu lakukan dan akan menghasilkan pahala bagimu," ujar Kafa yang semakin membuat Salma bingung karenanya.
"Apa sesuatu itu Mas?" Salma kembali bertanya dengan ekspresi penuh rasa penasaran.
"Kiss me!" jawab Kafa.
Mata Salma terbelalak kaget setelah mendengar apa yabg Kafa katakan, mana mungkin Salma men***um Kafa di kantor seperti saat ini? Meskipun di dalam kamar Salma masih canggung jika harus men***um Kafa lebih dulu.
"Mas Kafa serius memintaku men**um Mas Kafa di sini?" Salma terlihat ragu sengan ala tang Kafa perintahkan.
"Apa wajahku terlihat bercanda Salma?" jawab Kafa.
"Tidak juga, hanya saja aku~" Salma terdiam membisu sambil menunduk tak mampu melihat kearah Kafa.
__ADS_1