Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Pandai-Pandailah Memilih Kawan


__ADS_3

Ratna tersenyum menanggapi ucapan Salma, sungguh gadis di hadapannya saat ini benar-benar rendah hati, tak terlihat sedikit pun kesombongan di wajah Salma, dia justru terlihat biasa saja.


"Baiklah, jika itu keinginanmu, maka aku akan mengikutinya," ujar Ratna tersenyum manis pada Salma kemudian menepuk pelan pundak Salma dan berlalu meninggalkan kamar.


"Aku pergi dulu. Hati-hati ada banyak orang bertopeng yang akan mendekatimu setelah ini, pandai-pandailah memilih kawan," bisik Ratna sebelum dia pergi meninggalkan kamarnya.


Salma hanya diam mendengar bisikan Ratna, apa yang di katakannya memang ada benarnya, bagaimanapun Ratna tidak pernah berkata bohong ataupun ikut bergosip seperti kebanyakan santri yang lain.


"Sudah jangan di fikirkan! kamu hanya perlu berhati-hati bukannya mau perang," Tari yang tak sengaja mendengar bisikan Ratna ikut berbisik.


Salma hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi bisikan Tari, keduanya berjalan menuju loker untuk mengambil baju kemudian mengantri kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Selamat ya Salma,"


"Selamat atas pertunangannya Mbak Salma,"


"Selamat Salma, semiga langgeng dan lancar sampai hari H ya,"


Satu persatu ucapan selamat di lontarkan oleh beberapa santri yang kebetulan bertemu dengan Salma di jalan ataupun di kamar mandi.


"Mbak Salma lagi nyari antrian kamar mandi?" sapa seorang Santri.


"Iya, Mbak," jawab Salma.


"Mandi setelah aku aja, jadi gak perlu nunggu lama," ujar Sang Santri.


"Apa setelah kamu mandi tidak ada yang antri atau menunggu giliran?" tanya Salma memastikan jika tawaran sang santri bukan hanya tawaran yang tak nyata.


"Tidak, tenang saja," jawab Sang Santri.


"Baiklah, aku tunggu kamu di teras ya," ucap Salma melenggang pergi menuju teras aula yang berada tak jauh dari kamar mandi, biasanya para santri menunggu antrian di sana.


"Iya, ingat aku mandi di kamar mandi nomor 2 sebelah kanan ya," sang santri memberitahukan letak kamar mandi yang akan dia gunakan.

__ADS_1


"Tari!" panggil Salma pada Tari yang masih berjalan mencari gantian kamar mandi.


"Apa Salma," sahut Tari.


"Sini!" Salma melambaikan tangan memberi isyarat agar Tari mendekat.


Tari yang mendapat lambaian tangan agar mendekat kini berjalan mendekat ke arah Salma.


"Ada apa?" tanya Tari saat berada di dekat Salma.


"Aku udah nemu antrian kamar mandi, ayo ke teras!" ajak Salma.


"Kamu serius?" tanya Tari tak percaya, pasalnya sejak tadi Tari sudah muter-muter mencari antrian kamar mandi tapi tidak ada satupun yang kosong, semua antrian sudah terisi, tapi Salma dengan mudahnya mendapat antrian kamar mandi tanpa harus bersusah payah, sungguh hal yang sangat aneh bagi Tari.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa langsung dapat antrian kamar mandi Salma?" tanya Tari yang masih merasa penasaran dengan Salma, saat ini keduanya sedang duduk di teras Aula di mana biasanya para santri menunggu antrian kamar mandi sambil mengobrol, ada pula yang menunggu sambil mencari ternak di rambut alias kutu rambut yang kadang hinggap tanpa permisi dan menghisap darah seenaknya.


"Tadi waktu aku baru mau jalan ada santri yang nawarin untuk mandi setelah dia mandi, meski terasa aneh aku tetap aja mengiyakan tawarannya, lumayan dari pada kita susah-susah cari antrian," jelas Salma.


"Mungkin saja, tapi kalau hanya memberi antrian kamar mandi tak masalah bagiku, setiap hari seperti ini aku jyga seneng," ujar Salma sambil tersenyum amnis ke arah Tari.


"Ishhh senyummu itu, bikin enek aku lihatnya," ujar Tari.


"Biarin, orang senyum itu ibadah ngapai kamu yang enek bin sewot, bibir-bibir aku, suka-suka akulah," ucap Salma seraya terus tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Aku malah serem lihat senyummu Salma," cicit Tari.


Drama di kamar mandi telah usai, saat ini Salma tak perlu susah-susah cari antrian yang biasanya sangat sulit di dapatkan, entah mengapa ada santri yang begitu baik memberi antrian pada keduanya.


"Salma!" lirih Tari.


Keduanya kini tengah bersantai di Aula belakang menikmati suasana pesantren yang mulai sepi karena sebagian besar santrinya telah masuk sekolah diniyah.


"Ada apa?" tanya Salma menghentikan kegiatannya membaca buku yang pernah di berikan oleh Ghozi saat ketiganya sedang mengaji bersama.

__ADS_1


"Aku laper, kita ke dapur kantin yuk! aku mau minta makan sama Mbok Bat," ajak Tari yang tiba-tiba merasa lapar di siang hari.


"Astaghfirullah, ini masih jam berapa Tari? dan kamu sudah kelaperan," ujar Salma heran menatap ke arah Tari yang sudah berdiri di hadapannya, wajah tak sabar dan lapar terlihat jelas di wajah Tari saat ini.


"Kamu gak tahu aja bagaimana rasanya Salma, laper itu kayak nunggu do'i yang pergi dan entah kapan akan kembali, sungguh menyebalkan tau gak," cicit Tari.


"Halah kamu ngomong kayak belum makan dari pagi aja, padahal tadi pagi makan udah ngabisin dua porsi dan sekarang udah bilang lapar lagi," ucap Salma menatap heran ke arah Tari.


"Sudahlah, jangan banyak komentar, aku laper banget ayo ke kantin!" Tari yabg terlihat sudah tidak sabar kini meraih jemari Salma agar dia ikut berdiri dan segera berjalan mengikutinya menuju kantin.


"Iya, iya, sabar donk." Sahut Salma.


"Ini udah sabar, kamunya aja yang kelamaan," jawab Tari yang masih setia memegang tangan Salma dan menuntunnya untuk ikut bersamanya berjalan menuju kantin.


Salma dan Tari berjalan beriringan menuju kantin, bayangan nasi hangat dan tempe goreng juga telor goreng tepung sudah terbayang-bayang di fikiran Tari, di tambah sayur kangkung yang menjadi makanan favoritenya menjadi menu makan saat ini, sederhana memang, tapi akan terasa begitu nikmat jika kita memakannya dengan penuh rasa syukur.


"Mbok Bat!" suara nyaring Tari terdengar menggema di ruangan khusus milik Mbok Bat.


"Mbok!!" Tari kembali memanggil Mbok Bat, Ibu kantin sekaligus rekan kerja keduanya.


"Astaghfirullah, jangan teriak-teriak sekencang itu kali Tari!" keluh Salma yang merasa sedikit risih dengan suara keras Tari.


"Habisnya, Mbok Bat di panggil gak nyahut-nyahut, kan sebel jadinya, mana laper banget lagi," ucap Tari membela diri.


"Kalau kamu teriak semakin kenceng, maka kamu akan semakin lapar," tutur Salma.


"Kamu bener juga, kenapa aku gak kefikiran ya," cicit Tari sok polos.


"Mana bisa kamu mikir sampai ke situ kalau di otakmu isinya cuma makanan doank," ujar Salma.


"Biarin, yang penting aku kenyang dan sehat," bela Tari yang tak mau kalah dengan ucapan Salma.


"Salma, Tari! kalian sedang apa di sini?" tanya Mbok Bat yang baru saja datang bersama dengan Kafa yang ada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2