Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Meminta Izin Pada Ummi


__ADS_3

"Makanannya sudah datang, lebih baik kita makan dulu sebelum dingin." Jawab Ghozi yangs engaja tak ingin menjawab pertanyaan Kafa.


Kafa yang mendengar jawaban Ghozi hanya bida diam tanpa melawan karena apa yang di katakan Ghozi memang benar.


Jika saat ini Kafa sedang menikmati serabi sambil menggali informasi tentang Salma dan Tari, maka berbeda dnegan Salma dan Tari yang sedang menikmati suasana pesantren.


"Salma!" lirih Tari.


"Apa?" sahut Salma.


"Apa kamu tidak bosan berada di sini terus tanpa bisa keluar mencari suasana baru?" tanya Tari, saat ini Tari merasa begitu jenuh dengan suasana dan kegiatan yang sama, dia yang terbiasa bebas pergi ke manapun dan melakukan apapun tanpa ada yang melarang kini harus terdiam di satu lingkungan yang sama dengan kegiatan yang sama pula.


"Entahlah Tari, sejak Ibu tiada aku tak bisa merasakan apapun, semua terasa hambar, aku hanya mengikuti alur dari takdir yang telah di tentukan dan harus aku jalani." Jawaban yang membuat Tari merasa kasihan juga ibah.


"Kamu yang sabar Salma, semua kejadian itu ada hikmahnya, buktinya sekarang kamu bisa jadi calon mantu Ummi, pemilik pesantren yang terkenal dan besar ini, kamu tak perlu susah payah lagi untuk mencari sesuap nasi seperti dulu, karena aku yakin semua kebutuhanmu akan terpenuhi," ucap Tari mencoba membesarkan hati Salma yang terlihat bersedih.


"Tari, sebuah kebahagiaan itu tak bisa di ukur dari materi, ingatlah jika dalam kehidupan utu tidak hanya soal kepuasan jasmani tapi ada rohani yang juga perlu di bahagiakan," tutur Salma.


"Sudah, jangan bersedih! bagaimana kalau kita minta izin Ummi untuk jalan-jalan keluar sebentar? bukankah saat ini kita sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan kegiatan kita?" usul Tari.


"Apa Ummi akan memberi izin pada kita?" Salma terlihat ragu mengingat peraturan yang ada di pesantren.


Setiap santri putri di larang keluar dari area pesantre dan pondok putri kecuali jika ada hal yang darurat atau pulang karena ada sesuatu yang terjadi di rumah.


"Apa kau lupa jika kita ini bukan santri biasa?" tanya Tari.


"Maksud kamu apa Tari?" Salma yang tak mengerti maksud dari ucapan Tari kembali bertanya.


"Kita ini santri istimewa dan kamu sudah di anggap seperti puteri Ummi sendiri jadi untuk apa kamu ragu?" Tari mencoba meyakinkan Salma.

__ADS_1


"Meski seperti itu status kita tetaplah seorang santri Tari," Salma masih saja terlihat ragu.


"Sudah jangan ragu! kita coba saja dulu! kalau gak di coba bagaimana kita bisa tahu Salma," Tari yang sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Salma memilih untuk langsung mencobanya dari pada terus berdebat.


"Baiklah, ayo kita coba!" ajak Salma.


Keduanya berjalan menuju rumah Ummi dengan harapan agar mereka mendapat izin sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Tari.


"Assalamualaikum," ucap keduanya hampir bersamaan.


Suasana rumah Ummi terlihat begitu sepi tak ada yang menyahuti salam Tari dan Salma.


"Assalamualaikum, Ummi," Tari mengulangi salamnya dengan harapan ada yang menyahut.


"Waalaikum salam," suara Ummi terdengar mendekat membuat hati keduanya lega.


Tari dan Salma berjalan masuk mengikuti langkah Ummi menuju ruang keluarga.


"Tumben jam segini mencari Ummi, ada apa?" tanya Ummi dwngan ekspresi heran melihat kedua gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri itu datang.


"Sebenarnya kami ingin meminta izin Ummi," jawab Tari, dia memang tidak suka bertele-tele.


"Minta izin untuk apa?" tanya Ummi semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya di inginkan keduanya.


"Begini Ummi, kami ma~ em," Salma tak bisa mengutarakan apa yang dia dan Tari inginkan, rasa ragu yang sejak tadi dia rasakan kini semakin besar seolah membungkam mulutnya.


"Kami jenuh berada di pesantren terus dengan suasana dan kegiatan yang sama Ummi, apa boleh kami meminta izin untuk keluar mencari suasana baru dan kembali nanti sore sebelum petang?" tanya Tari sedikit greget dengan Salma yang masih saja terlihat ragu dan tak mau mengatakan apa tujuan merwka datang.


Mendengar permintaan Tari membuat Ummi terdiam, sejenak dia berfikir apa yang harus dia jawab.

__ADS_1


"Apa kalian benar-benar bosan berada di pesantren ini?" pertanyaan yang sukses membuat Salma dan Tari bingung.


"Bukan begitu Ummi, kami senang kok berada di pesantren," sahut Salma yang tak enak hati jika sampai Ummi berfikir jika dirinya da Tari sudah bosan dan tak ingin tinggal di pesantren lagi.


"Kami hanya butuh suasana baru Ummi, jalan-jalan keluar pesantren dan mengecek kondisi rumah kami sebentar sudah cukup menghilangkan rasa jenuh yang kami rasakan, kami bilang jenuh bukan berarti kami bosan di sini, kami hanya butuh sedikit hiburan," jelas Tari.


"Oh, Ummi kira kalian sudah bosan tinggal di sini," ucap Ummi sambil tersenyum lembut ke arah keduanya.


"Sama sekali tidak Ummi, kami senang tinggal di sini," sahut Salma.


"Baiklah, Ummi akan memberi kalian izin untuk melihat keadaan rumah dan sedikit jalan-jalan, tapi ingat sebelum jam lima sore kalian harus segera kembali ke pesantren!" jawaban yang di tunggu-tunggu oleh keduanya akhirnya terdengar juga, seulas senyum bahagia terlihat jelas di wajah Tari dan Salma menandakan betapa bahagianya mereka mendapatkan izin dari Ummi.


"Alhamdulillah, terima kasih Ummi," ucap Salma seraya mendekat ke arah Ummi dan meraih tangannya dan mencium punggung tangan Ummi di susul Tari yang melakukan hal yang sama.


"Tidak perlu berterima kasih, cukup jaga diri dan kepercayaan Ummi saja," sahut Ummi.


"Pasti Ummi, kita gak bakal ngecewain Ummi kok," jawab Tati dengan penuh semangat.


"Berangkatlah! hati-hati dan jangan lupa kembali tepat waktu!" pesan Ummi sebelum Tarib dan Salma berlalu.


"Sukurlah kita dapat izin, ahhh kenapa aku jadi sesenang ini hanya karena bisa keluar dari penjara suci ini?" ungkap Tari dengan keheranan yang dia rasaka,.


"Sudah jangan lebai Tari! lebih baik kita segera. bersiap-siap. Ingat waktunya hanya sampai jam empat, sebelum jam lima kita harus kembali!" Salma mencoba mengingatkan Tari yang masih melompat kegirangan.


"Aku tahu itu Salma, kamu tenang saja, ayo cepat!" kali ini Tari yang berjalan cepat sambil menggandeng tangan Salma mengajaknya pergi menuju asrama untuk bersiap. Sedang Salma yang sudah terbiasa dengan sikap Tari hanya tersenyum lucu sambil menggelengkan kepala.


"Jangan buru-buru seperti ini juga Tari!" keluh Salma yang kesulitan mengimbangi langkah Tari.


"Tadi di suruh cepet, sekarang ngeluh, dasar kau ini membingungkan," ujar Tari memperlambat langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2