Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Izin Menginap


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Intan mengetuk pintu dengan senyum yang terlihat begitu manis, hatinya berdebar-debar menantikan pertemuan pertamanya dengan sang calon mertua, sebuah harapan telah dia gantung tinggi agar bisa segera menjadi menantu Ibu Kafa.


"Permisi!" seru Intan.


"Iya, siapa?" sahut seorang santri sambil membuka pintu.


"Apa Kafa nya ada?" tanya Intan.


"Eh Kafa, maksudnya Mas Kafa putera Ummi?" sang santri bertanya dengan ekspresi herannya.


"Iya, bener, apa dia ada di sini?" Intanmenjawab pertanyaan Santri itu dengan sebuah pertanyaan.


"Silahkan masuk!" ujar Sang Santri mempersilahkan Intan masuk dengan senyum ramah meski sebenarnya hatinya merasa heran dengan gadis yang ada di hadapannya.


"Terima kasih," ucap Intan dengan senyum yang di buat seramah mungkin.


"Mohon tunggu sebentar! saya akan panggilkan orangnya." Pamit Santri itu yang mendapat anggukan dari Intan.


Sang Santri yang bernama Mila, seorang santri yang biasa membantu Ummi saat di butuhkan kini berjalan masuk ke dalam rumah, tapi Mila tak mencari Kafa melainkan menemui Ummi yang sejak tadi membersihkan ruang keluarga bersamanya.


"Ummi!" panggil Mila dengan suara lirih tapi sopan.


"Iya, ada apa?" sahut Ummi.


"Di depan ada tamu Ummi," jawab Mila.


"Tamu siapa?" Ummi kembali bertanya.


"Saya tidak tahu karena saya baru melihatnya, dia cari Mas Kafa katanya," jelas Mila.


"Terima kasih sudah di kasih tahu, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu! biar aku yang menemuinya." Titah Ummi seraya melenggang pergi meninggalkan Mila yang kini melanjutkan pekerjaannya.


Ummi berjalan menuju ruang tamu dengan hati di penuhi rasa penasaran, pasalnya sudah lama sejak Kafa pergi dari rumah dan memilih tinggal di kota tepatnya di rumah peninggalan sang nenek dari Ummi tak ada satupun teman Kafa yang datang berkunjung.

__ADS_1


"Kira-kira siapa ya yang berkunjung," gumam Ummi sambil terus berjalan menuju ruang tamu.


Ummi terdiam memaku menatap seorang gadis yang duduk bersila di ruang tamu, dia terlihat santai dengan baju yang menurut Ummi tidak sopan, meski berlengan panjang dan celana panjang tapi ketat, dia terlihat bukan seorang santri, Ummi masih terus diam mematung tak menyapa gadis yang juga fokus menatap layar ponselnya.


"Khem," Ummi berdehem dengan tujuan menyadarkan sang gadis yang masih saja terlihat fokus menatap layar ponsel.


"Eh, Tante!" respon Intan yang langsung menaruh ponselnya ke dalam tas kemudian berdiri meraih tangan Ummi kemudian mencium punggung tangannya.


"Kamu siapa?" sergah Ummi menatap heran ke arah dang gadis yang baru saja mencium punggung tangannya.


"Perkenalkan nama saya Intan Ummi," jawab Intan memperkenalkan diri dengan senyum penuh kebanggaan.


"Intan, kamu mau cari siapa?" tanya Ummi yang masih saja menatap Intan dengan tatapan penuh rasa heran.


"Kafanya ada Tante?" kini Intan yang bertanya


"Kafa, ada," jawab Ummi.


"Saya ke sini mau cari Kafa, Tante," jelas Intan dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


"Terima kasih, Tante," ucap Intan tak memperdulikan ekspresi Ummi yang terlihay jelas heran bercampur kaget, bagaimana tidak heran dan kaget? ini pertama kalinya ada tamu yang berpenampilan seperti Intan, biasanya teman Kafa selalu berpakaian rapi dan sopan seperti seorang santri, mereka sudah mengerti dengan lingkungan yang mereka datangi, sungguh sangat jauh berbeda dengan penampilan Intan saat ini.


'Apa dia teman Kafa di kota? tapi kenapa bajunya kekecilan begiti? atau dia anak orang tidak punya sampai baju kekecilan seperti itu masih saja di pakai?' batin Ummi mulai berkelana mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang telah timbul dalam benaknya.


Tok ... tok ... tok ....


"Kafa!" panggil Ummi dengan sedikit emosi karena beliau tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul dalam benaknya.


"Sebentar, Ummi," sahut Kafa berdiri dari tempat dia bersantai.


"Ada apa, Ummi?" tanya Kafa setelah membuka pintu kamar.


"Ada gadis mencarimu, dia sedang menunggumu di ruang tamu." Jelas Ummi.


"Gadis? tamu? siapa Ummi?" Kafa juga terlihat heran mendengar penjelasan Ummi, pasalnya saat ini Kafa tak memiliki janji dengan siapapun.

__ADS_1


"Ummi tidak tahu karena Ummi baru melihatnya, tapi satu hal yang Ummi tahu jika pakaian gadis itu kekecilan, jika dia memang termasuk orang yang kurang mampu, kamu bisa bilang pada Ummi!" ujar Ummi.


"Baju kekecilan bagaimana maksud Ummi?" Kafa yang tak mengerti langsung bertanyasebelum sang Ummi pergi.


"Bajunya ketat banget, sampai gak tega Ummi lihatnya, kalau butuh baju yang lebih baik kamu temui Ummi! biar Ummi yang kasih." Pesan Ummi sebelum akhirnya pergi menuju ruang keluarga untuk meneruskan pekerjaannya.


"Baju ketat, apa namanya Intan?" Kafa yang langsung mengerti dengan orang yang di maksud sang Ummi mulai menebak.


"Iya, benar, tadi dia bilang namanya Intan," jawab Ummi.


"Mem~" suara Ummi terpotong dan tak lagi terdengar karena Kafa langsung berjalan menuju ruang tamu dengan hati yang di penuhi emosi.


"Intan!" panggil Kafa sesaat setelah sampai di ruang tamu.


"Kafa," sahut Intan menoleh ke arah Kafa.


"Kamu ngapain ke sini?" sarkas Kafa menatap tajam ke arah Intan yang kini merubah ekspresinya.


Intan yang tadi sudah membayangkan akan merasa bahagia ketika Kafa menemui dan menyambutnya dengan sebuah senyum yang begitu manis, tapi apa yang di dapatkan tak sesuai dengan apa yang di peroleh.


Kafa nampak marah tak menyukai apa yang di lakukan oleh Intan, kedatangan Intan terlihat tak di sukai oleh Kafa.


"Aku kangen sama kamu Honey, apa aku salah kalau aku datang ke rumah kekasihku sendiri?" jawab Intan dengan ekspresi penuh kesedihan.


"Aku minta kamu kembali pulang sekarang!" titah Kafa.


"Apa? pulang? kamu tega menyuruhku langsung pulang setelah perjalanan yang begitu jauh, aku menyetir mobil sendirian jika kau tak tahu itu." Ujar Intan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


"Ada apa ini, Nak?" sela Ummi yang mendengar ada keributan di ruang tamu.


"Tante, Kafa memintaku langsung pulang setelah menempuh perjalanan jauh, sedang aku ke sini sendirian, aku dati kota Tante," ucap Intan dengan ekspresi wajah memelas.


Mendengar penuturan Intan membuat Ummi semakin bingung harus bagaimana? di sisi lain Ummi kasihan pada Intan tapi di sisi lain Ummi juga tak mengerti Intan itu siapa dan tujuannya ke sini untuk apa, Ummi yang masih bingung beralih menatap ke arah Kafa memberi isyarat pada Kafa apa yang harus dia lakukan.


"Baiklah, kamu bisa istirahat di sini sampai besok, tapi ganti pakaianmu dengan baju yang lebih sopan!" Kafa yang juga tak tega melihat Intan akhirnya mengizinkan Intan untuk tinggal satu hari di pesantren.

__ADS_1


"Ummi, apa teman Kafa boleh menginap dan biarkan dia tinggal di kamar kosong sebelah kamar Ghozi?" tanya Kafa pada sang Ummi berharap sang Ummi mau mengizinkannya.


__ADS_2