
Kafa berjalan pelan berharap tak ada satu orang rumah pun yang tahu jika dirinya keluar dari rumah semalam ini.
"Syukurlah semua orang sudah tidur," gumam Kafa seraya menuntun motor yang sering dia gunakan untuk balapan.
Tapi perkiraan Kafa meleset, Kafa salah jika merasa semua orang sudah tertidur, karena saat ini Ghozi masih setia duduk di balkon kamarnya, Ghozi memang menepati kamar tamu, tapi kamar tamu yang dia tempati spesial berada di lantai dua tak terlalu jauh dari kamar utama milik Kafa dan Salma.
"Mas Kafa mau ke mana malam-malam gini?" lirih Ghozi menatap curiga ke arah Kafa yang terus mendorong motornya keluar dari gerbang.
Ghozi memang curiga dan penasaran ke mana Kafa pergi, tapi saat ini dirinya masih merasa sangat lelah setelah menyetir perjalanan jauh, Ghozi mencoba berfikir positif dan berusaha tidak berfikir macam-macam, Ghozi kembali masuk ke dalam kamar kemudian beristirahat.
Malam semakin larut, menyebarkan hawa dingin yang menyebar ke seluruh tubuh, kini denting jam sidah menunjukkan pukul tiga dini hari, tepat saat itulah Kafa kembali.
Langkah Kafa begitu pelan hingga tak terdengar, malam ini dia aman karena tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kepergiannya yang tiba-tiba. Kafa kembali naik ke atas kasur seraya memeluk guling ternyaman yang entah sejak kapan sering dia rindukan jika Kafa sedang keluar dari rumah.
Semua terlihat biasa saja dan aman terkendali hingga malam usai berganti pagi semuanya tetap sama seperti hari kemarin. Salma membantu Mbok Sumik memasak dan Ghozi bersantai menikmati matahari pagi bersama Kafa di tepi kolam.
"Rencana kamu hari ini apa?" tanya Ghozi.
"Entahlah," jawab Ghozi.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu harus kembali ke sini?" Ghozi kembali bertanya, sebenarnya ada banyak pertanyaan yang tersimpan dalam benak Ghozi.
"Suatu saat aku pasti akan menceritakan semuanya padamu dan meminta bantuan jika aku sudah tidak mampu mengatasinya sendiri," jawab Kafa dengan pandangan kosong menatap kolam yang terlihat bersinar karena pancaran matahari.
__ADS_1
"Aku harap masalahmu tidak berimbas atau membahayakan Salma, ingatlah Salma tanggung jawabmu saat ini," Ghozi mengatakan apa yang ada dalam hatinya.
"Salma itu istriku, jadi kau tidak perlu khawatir tentangnya karena aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya," tegas Kafa.
Ghozi langsung diam tanpa kata, dia tak lagi menjawab ataupun mengutarakan pertanyaan pada Kafa.
"Mas Kafa, Ghozi, sarapan sudah siap, ayo sarapan!" ajak Salma sesaat setelah dia sampai di tepi kolam dan melihat kedua laki-laki yang ada di tepi kolam sedang bersantai.
Keduanya berjalan beriringan mengikuti langkah Salma menuju ruang makan, Ghozi dan Kafa terlihat begitu lahap menyantap makanan yang di masak oleh Salma dengan bantuan Mbok Sumik, semuanya terlihat tenang dan makan penuh kenikmatan, hingga seorang tamu mampu merubah segalanya.
"Assalamualaikum, every body, Honey I'm coming." Suara menggelegar seorang gadis mengejutkan seisi rumah, terutama Kafa, spintan Kafa terdiam mematung setelah mendengar suara gasis yang sangat dia kenal, suara familiar seorang Intan begitu menyakitkan telinga.
'Sial, kenala dia datang ke sini?' batin Kafa.
Tanpa banyak kata Kafa berjalan cepat mendekat ke arah Intan yang masih berdiri di ruang tamu dan belim masuk ke dalam rumah.
"Kenapa ekspresi wajahmu tidak bersahabat seperti itu? apa salahku?" sahut Intan tanpa ada rasa bersalah, dia berjalan mendekat ke arah kursi dan duduk di sana.
"Keluar!" usir Kafa yang tak ingin Salma atau yang lain mengetahui kedatangannya.
"Tega sekali kau mengusirku, aku tidak terima kau perlakukan seperti ini," bantah Intan dengan ekspresi wajah tak kalah emosi dengan Kafa.
"Aku sudah menuruti semua yang kamu inginkan, sekarang apa lagi yang kau mau? aku juga bisa melawanmu, apa kau sudah lupa berapa banyak santri yang ada di pesantrenku? aku yakin jumlah mereka jauh lebih banyak dari anak buahmu ataupun anak buah sepupumu itu," Kafa terpaksa menggunakan nama santri yang memang cukup banyak di pesantrennya untuk menggertak Intan agar dia segera pergi, padahal aslinya Kafa tidak akan berani menyangkut pautkan masalahnya dengan Santri yabg yang sedang menimba ilmu itu.
__ADS_1
Bahkan keberadaan Kafa di kota ini termasuk bukti jika dirinya lebih memilih menjaga para santrinya dari pada tinggal diam dan membiarkan Intan dan sepupunya merusak ketenangan di pesantren.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi jangan lupa nanti malam kamu harus datang lagi," jawab Intan dengan ancaman yang cukup membuat Kafa jengah.
"Aku akan datang, sekarang pergilah!" ucap Kafa.
"Baiklah Honey, ini makanan untukmu, seperti biasa aku akan memberikan makanan ini setiap pagi, jadi, di makan ya!" Intan meletakkan makanan di atas meja, makanan yang sering di beli dari restauran langganan Intan.
Jika di ruang tamu sedang terjadi ancam mengancam, maka jauh berbeda dengan apa yang terjadi ruang makan, semua orang termasuk Mbok Sumik yang duduk di samping Salma kini duduk dengan tegang dan penasaran, siapa yang datang? awalnya Salma ingin menyusul tapi Ghozi mencegahnya, entah mengapa hati Ghozi mencegah Salma untuk pergi dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa Mas Kafa?" tanya Salma sesaat setelah Kafa berjalan kembali ke dalam dapur.
"Biasa, tetangga ada yang memberikan makanan untuk kita, tapi aku rasa lebih baik di buang saja," jawab Kafa enteng seraya menaruh makanan yang tadi di bawa Kafa di atas meja makan.
"Jangan di buang Mas Kafa! gak boleh buang-buang makanan mubazir tau, kalau Mas Kafa tidak mau lebih baik Salma saja yang makan," sahut Salma dengan ekspresi polosnya.
'Maaf Salma, aku terpaksa berbohong padamu,' batin Kafa menatap sendu ke arah Salma yang terlihat berbinar saat melihat isi dari kotak makan yang di bawa Kafa.
"Wah tongseng daging, baunya harum sekali, pasti lezat ini," ujar Salma.
"Jangan di makan! buang saja!" titah Kafa, entah mengapa hati Kafa terasa di iris saat melihat Salma menatap tongseng daging itu dengan mata yang berbinar.
"Kan aku sudah bilang, mubazir Mas Kafa, memangnya kenapa sih dengan makanan ini? sepertinya baik-baik saja," sahut Salma yang terlihat enggan membuang makanan yang di bawa Kafa.
__ADS_1
"Kalau aku bilang buang, ya buang, kenapa sih kamu keras kepala banget, emang kamu gak pernah makan tongseng daging seperti itu sampai-sampai kamu mau makan tongseng pemberian dari I~" Kafa tak lagi meneruskan kata-katanya, dia sadar jika dia pasti akan keceplosan dan Salma juga Ghpzi pasti akan marah besar jika tahu yang sebenarnya.
"I siapa Mas Kafa?" Salma yang sejak tadi terlihat polos kini mulai berfikir yang macam-macam setelah mendengar Kafa menyebut huruf I di akhir kalimat yang sengaja di hentikan.