Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Nasi goreng Buatan Salma


__ADS_3

Malam telah tiba, semua kegiatan juga sudah selesai, kini Tari dan Salma duduk di aula menikmati semilir angin yang berhembus.


"Salma," lirih Tari.


"Apa?" sahut Salma tanpa mengubah posisinya menengadah ke atas langit melihat betapa cerah dan indahnya malam ini.


"Kamu ngerasa laper gak?" tanya Tari.


"Lumayan sih, emang kenapa?" Salma balik bertanya.


"Aku laper banget, tadi aku makan sedikit gegara sungkan sama Abah," jawab Tari.


"Sama," sahut Salma.


"Bagaimana kalau kita masak mie instan atau apalah yang penting bisa makan." Usul Tari.


"Ide bagus, tapi di mana kita bisa masak jam segini Tari?" Salma kembali bertanya.


Tari diam memikirkan cara agar dirinya bisa masak dan mendapat makanan.


"Mbok Yem!" seru Tari.


"Kamu yakin Mbok Yem tidak tidur jam segini?" Salma sedikit ragu setelah mendengar nama Mbok Yem, pasalnya saat ini sudah jam sembilan malam lebih.


"Kalau kita tidak mencoba bagaimana kita bisa tahu?" ujar Tari berdiri dari pisisinya sambil memberi isyarat pada Salma agar mengikutinya.

__ADS_1


"Kamu bener juga, ayo berangkat!" Salma langsung berdiri mengikuti langkah Tari karena dia juga merasa lapar sama seperti Tari.


Keduanya berjalan menuju kamar Mbok Yem yang berada tak jauh dari kantin dan mencoba mencari keberadaan Mbok Yem.


"Assalamualaikum, Mbok Yem!" panggil Tari dengan suara sedikit keras.


'Ceklek'


Pintu kamar terbuka, tampaklah Mbok Yem sedang berdiri dengan daster yang kini dia pakai.


"Ada apa, Nduk?" tanya Mbok Yem.


"Mbok, aku laper, apa aku bisa memasak mie instan atau apapun yang bisa mengganjal perut lapar kami?" ujar Tari.


"Mbok, kalau misalnya kita masak nasi goreng aja gimana? apa boleh? atau kita harus bayar berapa?" tanya Salma.


"Khusus untuk kalian gratis, kalau kalian mau masak langsung masak aja! kalian tahu kan di mana bumbu dan tempat memasaknya," jawab Mbok Yem.


"Masya allah, Mbok Yem baik banget, terima kasih ya Mbok," ungkap Tari dengan ekspresi senang, meski dia hanya mendapat nasi dan tempe goreng sisa jatah makan para santri untuk sore hari, tapi Tari begitu bersyukur bisa mendapat makanan gratis, biasanya kalau di rumah dia akan kasbon atau ngutang dulu ke warung dekat rumahnya jika kelaparan tengah malam dan dia tak punya uang untuk membelinya. Tari memang sosok yang tegar, sejak Neneknya meninggal dia menjadi pribadi mandiri lebih tepatnya terpaksa mandiri karena kedua orang tuanya tak lagi peduli padanya, mereka sudah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.


"Tari!" panggil Salma saat melihat Tari yang sedang antusias melihat bumbu yang ada di tempat bumbu khusus milik Mbok Yem.


"Apa?" sahut Tari sejenak menghentikan kegiatannya mencari bumbu untuk nasi goreng yang akan dia buat.


"Bagaimana kalau kita buat nasi goreng bawang saja?" usul Salma.

__ADS_1


Saat Ibu Salma masih hidup, Salma sering sekali di buatkan nasi goreng dengan bumbu bawang merah yang di iris tipis dan cabe yang juga di iris tipis, bumbunya memang sederhana, tapi rasanya luar biasa nikmat karena Ibu Salma membuatnya dengan cinta.


"Nasi goreng bawang bagaimana maksud kamu, Salma?" tanya Tari yang tak mengerti dengan masakan yang Salma masuk.


"Kamu lihat saja bagaimana cara membuatnya!" titah Salma yang langsung beraksi mengambil bawang merah dan beberapa buah cabe juga garam dan micin sebagai penyedap rasa.


Salma memasak nasi goreng dengan lihainya, aroma bawang merah yang di goreng semerbak memenuhi ruangan, Salna terus memasak tanpa memperdulikan sekelilingnya.


"Alhamdulillah, siap juga," lirih Salma kemudian mengambil nampan yang cukup lebar untuk wadah nasi goreng dan membawanya mendekat ke arah Tari.


"Kamu yakin nasi goreng seperti ini enak?" tanya Tari dengan tatapan ragu menatap nasi goreng yang kini berada di hadapannya, tampilan nasi goreng buatan Salma memang kurang meyakinkan karena warna nasinya masih sama putih hanya ada beberapa irisan bawang dan cabe rawit yang bertaburan bercampur jadi satu di dalam nasi.


"Coba dulu! baru komentar," ujar Salma berjalan menuju tempat penyimpanan alat makan untuk mengambil sendok.


Tari tersenyum manis ke arah Salma mencoba meluluhkan hatinya, Tari memang asing dengan nasi goreng bawang buatan Salma meski dulu dia sering sekali menginap dan tinggal di rumah Salma tapi sekalipun dia tak pernah melihat Salma dan Ibunya memasak nasi goreng yang sama seperti nasi goreng yang di masak Salma saat ini. Karena dulu sang Ibu memasaknya saat Salma merasa lapar di tengah malam saja.


"Hmmm," satu suapan berhasil mendarat indah di dalam mulut Tari, meski awalnya Tari merasa ragu tapi setelah merasakan nikmatnya nasi goreng bawang buatan Salma.


"Bagaimana rasanya?" tanya Salma antusias sambil melihat lekat ke arah Tari yang kini kembali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Emmm," sahut Tari kembali menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya seraya menunjukkan dua jempol ke arah Salma yang berarti masakan Salma terasa enak.


"Gitu aja pakai ngehina tadi, setelah tahu rasanya aja langsung lahap, kayak orang takut gak kebagian aja," ujar Salma.


"Sudah, kalau kamu masih mau mengomel aku habisin juga nasi gorengnya," ujar Tari sambil terus makan tanpa memperdulikan sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2