Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sasa Membujuk Tari


__ADS_3

"Kapan aku pernah berbohong padamu? aku mengatakan apa yang memang aku rasakan Sayang, dan kamu bisa memegang ucapanku ini," Kafa mencoba meyakinkan Salma tentang apa yang dia katakan.


"Terima kasih untuk segalanya Mas, dan aku akan mengingatkanku jika kamu lupa," ujar Salma dengan senyum yang masih terlihat di wajahnya.


"Mengingatkan apa?" belum juga satu menit, tapi Kafa sudah lupa dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Tuh kan, Mas Kafa sudah lupa, padahal belum satu menit Mas ngomong tadi," jawab Salma yang kini memasang wajah kecewa.


"Aku ingat Sayang, tadi aku cuma bercanda kok," ujar Kafa yang cukup membuat Salma tersenyum karenanya.


"Sekarang aku serahkan semuanya padamu! apa pun yang kamu minta, pasti akan aku turuti," ucap Kafa.


Salma benar-benar meminta apa yang dia inginkan, apapun tanpa terkecuali, semuanya dia minta tanpa berfikir terlebih dahulu, Salma percaya jika suaminya mampu membelikan apapun yang dia mau di pasar rakyat itu, karena itulah Salma meminta hampir semua makanan yang di jual di sana dan membaginya kepada mereka yang tidak mampu sepanjang perjalanan sampai di rumahnya.


Jika Kafa dan Salma tengah menikmati indahnya dunia saat menjadi pengantin baru, maka berbeda dengan Ghozi yang masih setia bungkam sampai saat ini.


Hari demi hari terlewati, tanpa terasa, besok adalah hari pertandingan antara Salma dan Intan, atau bisa di bilang istri dan mantan pacar yang tidak mau di putusin.


"Ummi!" panggil Ghozi dengan suara pelan penuh kesopanan.


"Iya, ada apa Ghozi?" sahut Ummi yang sedang duduk sambil membaca kitab bulughul marom yang akan di ajarkan pada santrinya nanti setelah sholat isya'.


"Lusa adalah hari pertandingan Neng Salma dan Intan, sesuai dengan permintaan Ummi, Ghozi mengingatkan, apa Ummi akan pergi?" tanya Ghozi yang baru saja datang.

__ADS_1


"Benarkah?" spontan Ummi seolah tak percaya jika hari itu tiba, Ummi terasa waktu berlalu begitu cepat hingga dia lupa jika waktu Salma dan Intan bertanding telah tiba.


"Iya, Ummi," jawab Ghozi dengan penuh ketegasan Ghozi berucap.


"Baiklah, Besok kita akan berangkat," ujar Ummi enteng.


"Kalau Ummi pergi dari pesantren, terus siapa yang jaga pesantren Ummi?" Ghozi kembali bertanya.


"Abah sudah pulang tadi sore, dan Ummi akan membicarakan masalah ini bersama beliau," Ummi menjelaskan rencana yang spontan keluar dari bibir Ummi.


"Kalau begitu Ghozi pamit dulu Ummi, Assalamualaikum." Pamit Ghozi melenggang pergi meninggalkan Ummi yang masih setia duduk di tempatnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Ummi segera berdiri melangkah menuju kamar untuk menyiapkan semua yang sia perlukan dan apa saja yang akan dia bawa, jantung nya berdebar begitu kencang mengingat jika Salma sang puteri sekaligus menantu kesayangannya akan bertanding dengan Intan sang ulat bulu itu.


"Assalamualaikum, Ummi memanggilku?" tanya Tari sesaat setelah Tari masuk ke dalam rumah.


"Duduklah!" pinta Ummi sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Tanpa menjawab ucapan Ummi, Tari langsung duduk tepat di samping Ummi yang sedang duduk.


"Tari! besok Ummi mau pergi ke kota dan bertemu dengan Salma juga Kafa, apa kamu mau jika Ummi ajak ke sana?" tawar Ummi dengan senyum yang mengembang di wajahnya, kebahagiaan terpancar jelas tanpa perlu di tebak kebahagiaan itu sudah terlihat.


"Tentu saja, Ummi, aku sangat mau, sudah lama aku tidak bertemu dengan Salma dan melihat seperti apa dia Sekarang," Tari menjawab dengan cepat dan menceritakan semua yang dia rasakan selama ini.

__ADS_1


"Kalau kamu mau, kamu bisa bersiap. Bawa apa yang ingin kamu bawa! jangan lupa bawa baju ganti, mungkin kita akan ada di sana dalam beberapa hari," tutur Ummi.


"Baiklah, kalau begitu Tari permisi dulu Ummi." Pamit Tari melangkah pergi meninggalkan Ummi yang tadi mengangguk sebagai tanda jika dirinya mengizinkan Tari untuk kembali ke dalam pondok putri.


Denting jam terus berputar ke kanan, meninggalkan setiap kejadian yang akan menjadi kenangan di kemudian hari, siang telah berlalu berganti malam hingga mentari kembali muncul, Sasa tak pernah berhenti merengek untuk ikut bersama Tari.


"Aku ikut ya Mbak," sudah ke berapa kalinya Sasa merengek dan meminta Tari untuk mengajaknya ke kota, dengan sejuta alasan Sasa terus berceloteh meminta dan tak jarang memaksa Tari untuk setuju mengajaknya.


"Mau ke mana, Sasa?" sahut Tari sambil menghembuskan nafas kasar, dia sudah seperti emak-emak yang punya kepentingan tapi tak bisa berangkat karena putrinya tak mau melepaskannya.


"Aku mau ikut ke kota dan bertemu dengan Neng Salma," Sasa menjelaskan apa yang menjadi keinginannya.


"Sayang, kamu tidak bisa ikut, besok masih ada ujian yang harus kamu ikuti, jika kamu absen dan tidak hadir Mbak Tari khawatir kamu tidak naik kelas nanti," Tari memberitahukan alasan dirinya tudak mengajak Sasa ikut, saat ini para Santri memang sedang menghadapi ujian kenaikan kelas, dan ujian terakhir ini menentukan layak atau tidaknya mereka naik kelas.


"Biarlah, Sasa tidak naik kelas juga tidak apa-apa, atau Mbak Tari memberikan soal ujiannya itu sekarang dan Sasa akan mengerjakannya dengan cepat, bukankah Mbak Tari juga ustadzah di sini," Sasa yang memang cukup cerdas akhirnya mencetuskan ide yang cukup cemerlang bagi anak seusia dirinya, tapi Tari tetap tidak bisa melakukan apa yang Sasa minta, karena apa yang Sasa minta bisa mencoreng nama baiknya, Tari bisa di anggap curang atau tidak jujur jika itu terjadi.


"Maaf Sayang, Mbak Tari tidak bisa melakukannya, lagi pula Mbak ke kota hanya beberapa hari saja, jadi Sasa baik-baik di sini nunggu Mbak pulang, atau Sasa mau Mbak bawakan apa? nanti kalau ada kesempatan Mbak akan mencarikannya untukmu," Tari hanya bisa melakukan apa yang dia lakukan sekarang tanpa bisa mengabulkan apa yang Sasa minta.


Selain karena alasan Sasa sedang menghadapi ujian, Tari juga tak bisa mengajaknya karena dirinya hanya ikut Ummi bukan pergi sendiri.


Sasa menunduk, cukup sudah dia berusaha membujuk Tari dengan berbagai alasan yang awalnya dia kira akan berhasil, tapi Tari tetap saja menolaknya, sambil menunduk Sasa berucap, "Baiklah, Aku akan menunggu Mbak Tari di sini, hati-hati di jalan nanti," Sasa terus menunduk sambil melangkah pergi meninggalkan sedih.


'Maafkan Mbak, Sasa, apa yang Mbak lakukan adalah hal yang baik untukmu, semoga kamu tidak marah karena itu,' batin Tari sambil terus menatap Sasa yang pergi menjauh dan menghilang di balik tembok.

__ADS_1


__ADS_2