Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Aku Tidak Secantik Itu Mas


__ADS_3

Perjalanan yang tadi terasa begitu membahagiakan dan di warnai kehesraan memperlengkap suasana hati yang tengah berbunga berubah menjadi perjalanan penuh kekhawatiran, segala hal buruk merasuk ke dalam fikiran, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.


Motor melaju lebbih cepat dari sebelumnya hingga Kafa dan Salma sampai di rumah lebih cepat dari perkiraan, Kafa langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah melihat Salma turun dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah biasa.


"Ummi kenapa? apa masih sakit perutnya? atau perlu Kafa panggilkan dokter?" serbu Kafa dengan rentetan pertanyaan yang cukup membuat Ummi tersenyum senang, pasalnya apa yang Kafa lakukan saat ini menunjukkan jika dirinya sangat perduli padanya.


"Ummi baik-baik saja, Nak, Kafa tidak perlu khawatir, Ummi sakit perut karena nyeri datang bulan yang sudah biasa Ummi rasakan, Kafa tidak perlu khawatir soal itu," jawab Ummi sambil mengusap lembut penuh kasih sayang kepala Kafa yang berasas di sampingnya.


"Jika ada sesuatu terjadi padamu saat ini, aku pasti akan menyalahkan diriku Ummi, maafkan Kafa yang selalu merepotkan dan menyusahkanmu," ujar Kafa yang cukup membuat Salma tercengang, pasalnya selama ini Kafa terlihat bersikap biaa saja hingga terkadang terkesan cuek pada Ummi, tapi di balik semua itu ternyata Kafa sangat perhatian dan menyimpan cinta yang begitu dalam untuk sang Ummi.


"Kenapa Kafa bilang seperti itu? Ummi tidak pernah merasa di repotkan ataupun di sudahkan oleh Kafa, semua yang terjadi ataupun yang Ummi lakukan juga Ummi rasakan atas kehendak yang maha kuasa, jadi Kafa jangan pernah merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada Ummi," tutur Ummi yang tak ingin Kafa terus memelihara perasaan yang bisa menghancurkan dirinya suatu hari nanti jika ada sesuatu yang terjadi pada Ummi.


"Apa sekarang nyerinya sudah sembuh Ummi?" tanya Salma yang sejak tarian kini mulai angkat bicara sambil berjalan mendekat ke arah Ummi.


"Sudah, jangan khawatir! nyeri yang Ummi rasakan sudah mulai reda, tadi Ummi minum obat pereda nyeri," jawab Ummi dengan senyum yang terlihat begitu menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.


"Kamu bawa Apa, Nak?" tanya Ummi saat melihat Salma membawa satu kantong plastik berukuran cukup besar si tangannya.


"Astaghfirullah, Salma sampai lupa kalau bawa makanan, ini ayam bakar yang tadi mau kita makan bersama-sama, Mas Kafa sengaja membungkusnya dan berencana memakannya bersama-sama di sini jika Ummi sudah sembuh," jelas Salma.

__ADS_1


"Tunggu Ummi di luar! sepuluh menit lagi Ummi akan ke sana dan makan ayam bakar bersama denganmu," titah Ummi yang menandakan jika saat ini Ummi masih butuh waktu untuk menghilangkan rasa nyeri di perutnya.


Biasa nya Ummi butuh setengah sampai satu jam untuk menghilangkan rasa nyeri yang selalu datang bersama tamu bulanannya, dan kesembuhan itu dia dapat setelah dia minum obat nyeri datang bulan, mendengar permintaan Ummi, Kafa dan Salma hanya bisa mengikutinya tanpa banyak protes ataupun bertanya, keduanya seolah mengerti dengan keadaan sang Ummi.


Malam penuh kebahagiaan dan bercampur kekhawatiran telah terlewati, ayam bakar yang di bawa Kafa dan Salmapun telah ludes tak tersisa, semua anggota keluarga tidur dalam keadaan kenyang.


"Sayang, bangun!" suara lembut nan indah memanjakan telinga Salma yang masih asyik berkelana di dunia bantah beranta.


"Sayang, jogging yuk!" suara lembut itu kembali terdengar, kali ini suara lembut itu mengusik kenyamanan Salma, perlahan dia merasa terganggu hingga terbangun.


"Mas, ada apa? kenapa pagi-pagi buta seperti ini kamu membangunkanku?" tanya Salma.


"Sudah pagi, jangan rebahan di atas kasur terus, gak baik Sayang, lebih baik kita lari pagi biar sehat," jawab Kafa dengan senyum yang mengembang menyambut pagi hari Salma.


"Tumben Mas Kafa ngajak lari pagi," lirih Salma merasa aneh dengan sikap Kafa pagi ini.


"Kenapa? apa kamu tidak suka kalau aku ajak lari pagi, atau Kamu sekarang lebih suka kita olahraga di atas ranjang?" goda Kafa yang cukup membuat Salma membuka mata lebar, bagaimana mungkin dia berolahraga ranjang selagi ini setelah semalam Kafa mengajaknya berolahraga sampai dua ronde.


Tanpa membalas ucapan Kafa, Salma langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi menghindari Kafa yang bisa di pastikan akan melakukannya dengan atau tanpa persetujuannya jika Salma tak segera pergi untuk menghindar.

__ADS_1


"Kamu terlihat semakin imut saat ketakutan Salma," gumam Kafa dengan senyum lucu yang kini terlihat di wajah Salma.


Sepuluh menit waktu yang di butuhkan oleh Salma untuk bersiap, dia kini sudah siap dengan baju trendy tapi tetap tertutup yang memang sudah Kafa siapkan di kamar mandi.


"Isssh, kamu terlihat semakin cantik dengan baju itu, Aku jadi nyesel beliin baju itu untukmu," ucap Kafa sesaat setelah Salma keluar dari kamar mandi.


"Kok nyesel sih Mas? harusnya Mas Kafa senang dengan penampilannya yang seperti ini," sahut Salma sambil mengerutkan dahi bingung mendengar komentar sang suami yang mengatakan jika dirinya telah menyesal karena telah membelikan baju yang terlihat sangat cocok dengan Salma saat ini.


"Aku gak rela ada mata laki-laki lain yang akan menatapku penuh kagum nanti," Kafa mengatakan alasan dirinya yang mengatakan ketidak relaannya.


"Mas Kafa ini aneh, harusnya Mas Kafa bangga punya istri yang gak malu-maluin kalau di ajak jalan, lah ini malah enggak rela," ujar Salma merasa aneh dengan sikap Kafa, kebanyakan laki-laki akan memperlihatkan penuh bangga istrinya kepada seluruh teman atau siapapun yang dia kenal jika istrinya itu cantik jelita, tapi hal lain justru di rasakan oleh Kafa.


"Aku tidak perduli sekalipun kau anggap aneh, tapi aku lebih suka melihatmu cantik di dalam kamar, khususnya di depanku, dan aku lebih suka kamu terlihat jelek di depan orang lain selain diriku," jelas Kafa yang terlihat acuh taacuh dengan pendapat orang lain, termasuk pendapat Salma sekalipun.


"Kita jadi jalan sekarang, atau mau lanjut berdebat di sini?" tanya Salma saat melihat Kafa yang justru anteng duduk di atas kasur tanpa ada niat untuk berdiri dan keluar sesuai dengan rencana yang tadi dia ucapkan.


"Sudahlah, resiko punya istri cantik, harus rela di lihat orang lain," lirih Kafa sambil menunjukkan wajah pasrah tanpa ada daya.


"Aku tidak secantik itu Mas, jadi jangan terlalu berlebihan! Aku malu tau," keluh Salma yang merasa jika dirinya tidak terlalu cantik hingga Kada tidak rela jika ada yang melihatnya di luar rumah nanti.

__ADS_1


__ADS_2