Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Makan Soto Ayam Bersama Ummi


__ADS_3

Pagi cerah nan indah kembali menyambut jiwa-jiwa manusia yang di penuhi dengan semangat berkobar, menyongsong hari esok yang lebih baik dari hari kemarin.


Pagi ini Tari kembali di mintai tolong Ummi untuk menemaninya berbelanja di pasar, pasalnya hari ini semua bahan masakan sudah mulai habis tak tersisa.


"Tari!" panggil Ummi yang melihat Tari sedang menyapu dapur, Tari memiliki kebiasaan yang tak pernah dapat larangan dati Ummi.


Tari selalu membersihkan dapur sebelum mulai memasak, setelah semuanya bersih Tari baru memulai memasak makanan untuk hari ini.


"Iya, ada apa Ummi?" sahut Tari sejenak menghentikan kegiatan bersih-bersih yang sejak tadi sedang di kerjakan oleh Tari.


"Setelah membersihkan dapur, temani Ummi pergi ke pasar ya." Pinta Ummi dengan ekspresi wajah penuh harap Ummi berucap.


"Baik, Ummi," jawab Tari.


"Kalau begitu Ummi tunggu di ruang keluarga. Kalau semuanya sudah selesai Tari langsung temui Ummi di sana!" pesan Ummi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Tari yang terlihat masih bersih-bersih.


"Baik, Ummi," Tari kembali menjawab pertanyaan Ummi dan menyanggupinya.


Tari membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkan dapur yang sejak tadi kotor, hingga akhirnya semuanya beraih tak tersisa.


"Ummi!" lirih Tari seraya berjalan mendekat ke arah Ummi yang duduk bersama dengan Ghozi.


"apa semuanya sudah selesai, Nak?" sahut Ummi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Sudah, Ummi," jawab Tari yang kini justru menunduk.


"Apa mobilnya sudah siap Ghozi?" kali ini pertanyaan Ummi tertuju pada Ghozi yang duduk teoat di sampingnya.

__ADS_1


"Sudah, Ummi," jawabsn yang ssma muncul dari bibir Ghozi.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? ayo berangkat!" ajak Ummi berdiri seraya memberi isyarat agar Tari dan Ghozi mengikuti langkahnya.


Ghozi terus saja menatap lekat ke arah Tari sedang Tari terlihat enggan melihat ke arah Ghozi. Tapi keduanya berjalan bersama mengikuti langkah Ummi keluar dari rumah menuju halaman di mana mobil yang akan di gunakan sudah terparkir cantik di sana.


Perjalanan menuju pasar cukup memajan waktu, tak ada satu kata yang terucap, mobil terasa begitu hening karena tak ada yang memulai pembicaraan, hingga mobil sampai di pasar yang di tuju.


"Ghozi tunggu di sini atau mau pergi dulu? mungkin Ummi butuh waktu satu jam untuk membeli semua kebutuhan dapur," tanya Ummi.


"Sebenarnya Ghozi ingin membeli sebuah barang di suatu tempat yang tidak jauh dari sini, jika Ghozi tinggal dulu dan akan kembali sebelum Ummi selesai belanja apa boleh?" Ghozi menjawab pertanyaan Ummi dengan sebuah pertanyaan, tapi Ghozi yang ingin segera membeli barang untuk dia yang tersayang memilih untuk memberanikan diri meminta izin pada Ummi untuk pergi dulu.


"Tentu saja, pergilah dan kembalilah satu jam lagi!" jawab Ummi.


"Baik, Ummi, kalau seperti itu Ghozi pamit pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Ghozi melangkah masuk ke dalam mobil sesuai dengan apa yang suda di rencanakannya.


Tari dan Ummi berbelanja dengan oenuh keseruan, membeli setiap barang yang menurut mereka penting dan sangat di perlukan.


"Tari juga merasa cukup lapar Ummi, tumben sekali barang yang di beli lebih banyak dari biasanya?" tanya Tari yang merasa heran dengan sang Ummi, biasanya Ummi tak herbelanja sebanyak sekarang.


"Entahlah, Ummi tidak tahu, mungkin karena sudah lama tidak belanja Ummi jadi kalap seperti tadi," Ummi mengatakan sejujurnya.


"Bagaimana kalau kita makan soto ayam itu Ummi?" usul Tari saat melihat warung soto ayam di tengah pasar, tempatnya cukup ramai, karena itulah Tari berfikir untuk mengajak Ummi makan di sana, karena setahu Tari tempat yang ramai dengan pengunjung biasanya memiliki rasa yang enak.


"Boleh juga, sepertinya enak Tari." Ummi yang memang merasa lapar sejak tadi langsung berjalan mendekat ke arah warung yang tadi di tunjuk oleh Tari.


"Ummi duduk di sini dulu! biar Tari yang memesankan makanannya untuk Ummi," ujar Tari, Ummi hanya mengangguk menyetujui apa yang Tari katakan.

__ADS_1


Dengan oenuh semangat Tari berjalan mendekat ke arah sang penjual kemudian memesan dua porsi soto untuk dirinya dan Ummi, setelah itu Tari kembali duduk di samping Ummi yang kini sibuk melihat ponselnya dan mengetik beberapa kata dan mengirimnya ke nomor Abah.


"Silahkan di nikmati Mbak, Buk!" ucap pelayan yajg membawakan dua pirsi soto ayam lengkap dengan es jeruk dan kerupuk pesanan Tari.


Ummi tersenyum melihat Tari yang begitu mengerti dengan apa yang di lakukan Tari, puteri angkatnya yang satu ini sangat mengerti apa yang di inginkan Ummi tanpa harus di beri tahu, entah kebetulan atau kesukaan keduanya memang sama Ummi tidak tahu itu.


"Terima kasih," jawab Tati yang langsung melahap soto ayam yang tadi dia bawa.


Tari dan Ummi melahap habis soto ayam yang di beli, berkeliling pasar memang sunghuh melelahkan, tak terkecuali bagi Tari dan Ummi.


Tari yang lebih dulu menghabiskan makanan mulai berdiri berniat mengambil tissu yang ada di meja sebelah tapi sayang sungguh sayang, Tari yang langsung berdiri tanpa melihat jika ada orang di samping dia berdiri, Tari menyenggol seseorang yang berasa di sampingnya.


"Astaga!" teriak seorang gadis yang tadinya berjalan dengan membawa satu gelas es teh di tangannya.


"Maaf, maaf," ujar Tari seraya meraih tissu yang sejak tadi ingin dia ambil dan mengusapkannya ke wajah gadis pembawa es teh tadi.


"Stop! stop!" cegah sang gadis menjauh dari tangan Tari yang ingin membersihkan air teh di wajahnya.


Mendengar perintah sang gadis, Tari hanya diam terpaku, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi, meski Tari melalukannya tanpa sengaja tetap saja Tari yang salah.


"Maaf ya Mbak," sekali lagi Tari meminta maaf atas insiden tak mengenakkan yang baru saja dia rasakan.


"Malau mau berdiri atau mau ngapa-ngapain itu lihat-lihat dulu! kalau kayak gini bagaimana?" protes sang gadis.


"Maaf Mbak, tadi saya tidak tahu kalau ada orang di belakangku," Tari sudah berulang kali meminta maaf, tapi gadis yang dia mintai masf terlihat enggan memberinya maaf.


"Masf, Maaf, enak banget bilang Maaf, lihat wajah dan bajuku! semuanya basah gara-gara kamu!" gertak sang gadis.

__ADS_1


"Maaf Mbak, bukannya puteriku sudah berkali-kali minta maaf? kenapa Mbaknya masih emosi seperti itu?" sela Ummi yang langsung merangkul pundak Tari yang terdiam.


Tari memang bukan gadis yang lemah, dia juga bisa melawan banyak preman, tapi kali ini Tari merasa dirinya memang bersalah, karena itulah Tari hanya diam tanpa bisa membalas perkataan gadis itu.


__ADS_2