
Acara khitan Umik Wardah telah berlalu, kini Salma kembali menjalankan aktifitasnya, sejak kejadian di pesantren Umik Wardah membuat Salma jauh lebih berhati-hati,bahkan Salma juga sengaja menjaga jarak pada Ghozi, dia tidak ingin mendapat amarah dari Kafa lagi dan Salma selalu mengingat peringatan yang di berikan oleh Kafa padanya.
"Mbak Salma!" panggil seorang santri.
"Iya, ada apa Mbak?" sahut Salma mengalihkan pandangannya ke arah santri yang tadi memanggilnya.
Saat ini Salma sedang bersantai menikmati sore hari bersama Tari di bawah jemuran, Salma dan Tari sengaja mandi lebih awal agar bisa menikmati suasana sore di pesantren meskipun mereka menikmatinya di bawah jemuran sembari mengobrol sesuatu yang sebenarnya tidak berfaedah, tapi hal itu terasa mengasyikkan dari pada harus duduk diam di kamar.
"Mbak Salma di panggil Mas Kafa, katanya di tunggu di dapur." Jawab Sang santri.
"Iya, Mbak, terima kasih ya," sahut Salma.
"Ciee, yang di tungguin calon suami, khem, khem," goda Tari sesaat setelah santri yang memberitahukannya pergi.
"Tari, ketemu Mas Kafa bukanlah hal yang baik untukku, kau tahu bukan? akan ada banyak kata menyakitkan dan tatapan yang menusuk jiwa jika aku bertemu dengan Mas Kafa," ujar Salma dengan ekspresi kurang suka yang terpancar tepat di matanya.
"Kamu yang sabar aja, jangan khawatir! sebentar lagi Mas Kafa pasti akan jatuh hati padamu, aku yakin dia akan bucin sebucin bucinnya ke kamu, percaya sama aku!" Tari berusaha membesarkan hatinya agar tidak terlalu sedih.
"Aku tak pernah berharap seperti itu Tari, harapanku hanya satu, sempga saja tutur katanya bisa sedikut lebih manusiawi dan tatapannya tidak setajam itu saat menatapku," Salma mengungkapkan isi hatinya, dia tidak ingin Salma terus bersedih dan memiliki keraguan dengan keputusannya menerima perjodohan yang sudah setengah jalan itu.
"Sudah jangan berkecil hati! apa yang kamu harapkan itu pasti akan terwujud suatu hari nanti, semuanya hanya soal waktu, kamu hanya perlu bersabar untuk mewujudkan semuanya, semangat Salma!" ujar Tari memberi semangat pada Salma yang kini merasa jauh lebih baik setelah mendengar ucapan Tari.
__ADS_1
"Sudah sana pergi! jangan malah bengong di sini!" titah Tari yang kini melihat Salma malah diam mematung sambil menatap ke arahnya.
"Oke, aku pergi dulu. Kamu hati-hati di sini sendirian, saranku lebih baik kamu balik ke kamar dari pada entar di temenin Mbak Kunti," Salma memberi peringatan sebelum dia pergi, tapi Tari masih terlihat santai menanggapinya hingga Salma pergi dan tak terlihat lagi.
"Lama-lama merinding juga sendirian di sini," lirih Tari yang merasa tak enak hati berada di bawah jemuran sendirian tanpa ada yang menemani.
Sejenak Tari menatap ke seluruh penjuru meneliti apakah ada santri lain yang sedang berada di sekitarnya, tapi Tari tidak menemukan siapapun di sana, hanya ada Tari seorang diri duduk santai di bawah jemuran.
"Astaghfirullah, ternyata sejak tadi aku cuma berdua dengan Salma di sini," lirih Tari sambil melirik ke arah belakang di mana terlihat sedikit gelap karena terlalu banyak baju yang di jemur, jemuran yang di tempati Tari saat ini memang memiliki atap, jadi ada sisi yang terlihat sedikit lebih gelap karena tidak ada cahaya masuk, biasanya para santri menggunakan jemuran itu saat hujan turun, jadi mereka tidak perlu khawatir ataupun bingung mau menaruh di mana baju yang belum kering tapi sudah kedahuluan hujan.
Tari yang mulai merinding langsung berdiri, berjalan cepat mencari sandal jepitnya, awalnya Tari masih bersikap biasa saja hingga dia selesai memakai sandal, setelah sandal terpasang Tari langsung tancap gas, meski dia tidak lari tapi langkah kakinya begitu lebar, dengan tergesa-gesa Tari pergi meninggalkan jemuran yang memang sepi tak berpenghuni, hanya ada berbagai macam model baju yang terpajang di sana.
Apa yang di lakukan Tari sangat jauh berbeda dengan apa yang di lakukan oleh Salma, jika Tari berjalan cepat agar segera menjauh dari jemuran, maka berbeda dengan Salma yang berjalan begitu pelan, rasanya sangat malas untuk melangkah menemui Kafa.
"Waalaikum salam," jawab Kafa yang sejak tadi fokus menatap layar ponselnya, kini dia beralih melihat Salma yang baru saja masuk ke dalam dapur.
"Apa Mas Kafa manggil Salma?" tanya Salma.
"Iya, aku ingin kamu buat camilan yang kemarin kamu buat untuk Alif!" titah Kafa yang sukses membuat Salma kaget.
"Camilan? bukankah Mas Kafa kurang menyukainya? kenapa sekarang minta di buatkan?" tanya Salma seraya menatap heran ke arah Kafa.
__ADS_1
"Kurang menyukainya bukan berarti tidak suka, aku hanya ingin memakannya lagi sekarang." Tegas Kafa.
"Baiklah, biar aku lihat dulu apa bahannya ada di kulkas atau tidak," Salma memang selalu memilih mengalah dengan Kafa dari pada harus melawannya.
'Kemarin aja bilang rasanya lumayan, tapi sekarang malah minta di buatin lagi, bilang aja kalau sebenarnya rasanya enak dan kamu sebenarnya menyukainya hanya saja kamu gengsi untuk mengakuinya,' batin Salma yang terus menggerutu sambil mencari bahan yang di butuhkan di dalam kulkas.
"Apa bahannya ada?" tanya Kafa berjalan mendekat ke arah Salma.
"Semua bahan sudah ada Mas Kafa, hanya mie kuningnya saja yang tidak ada," jawab Salma.
"Cuma mie kuning biasa kan?" tanya Kafa memastikan.
"Iya," jawab Salma singkat.
"Baiklah, kamu kerjakan apa yang busa kamu kerjakan! lima menit lagi mienya akan datang." Ujar Kafa.
Kini Kafa mulai mengetik sesuatu di ponselnya, entah apa yang di ketik Salma sama sekali tidak peduli, yang dia tahu saat ini hanya satu sesegera mungkin membuat camilan yang di minta oleh Kafa. Karena hanya tinggal mie yang di pakai di akhir step jadi Salma bisa membuatnya sekarang.
Dengan serius Salma membuat adonan bulat yang nanti akan dia balut dengan mie, dan Kafa yang kini duduk tepat di depan Salma hanya diam dan memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh Salma.
"Mas Kafa bisa menunggu di dalam rumah jika bosan di sini," ucap Salma mencari alasan agar Kafa segera pergi meninggalkannya, Salma merasa tidak nyaman jika di perhatikan seperti yang di lakukan Kafa saat ini ketika dia memasak.
__ADS_1
"Cepat selesaikan apa yang menjadi tugasmu! jangan hiraukan keberadaanku! anggap saja aku tidak ada," sahut Kafa tanpa merubah posisinya.
Sungguh Kafa selalu saja bisa membuat Salma jengkel dengan sikap dan ucapannya, Salma yang mendengar ucapan Kafa memilih diam dari pada membalas ucapan Kafa yang akan berujung perdebatan tak berfaedah dan akhirnya camilan yang tengah dia buat tidak akan pernah jadi.