
Fira terdiam mendengar pernyataan cinta yang baru saja diucapkan oleh Satya, sungguh dia tidak menyangka jika Satya akan mengatakan semua itu secepat ini.
"Mas Satya sedang tidak bercanda, kan?" tanya Fira dengan ekspresi wajah bingung yang tampak jelas di wajahnya.
"Aku serius Fira, Sejak pertama kali aku bertemu denganmu jantungku tak bisa ku kendalikan dia berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, Karena itulah aku yakin jika aku telah jatuh hati padamu, Apa kamu mau menerima aku? Aku bukanlah orang yang sempurna aku masih punya sejuta kesalahan yang mungkin belum kamu ketahui," ujar Satya yang semakin membuat Fira bingung.
"Aku tidak memintamu menjawab sekarang, Fira, kamu bisa menjawabnya besok ataupun lusa Aku akan tetap menunggu jawabanmu," sambung Setia saat melihat Fira hanya diam tanpa kata.
"Aku akan memberikan jawaban itu besok Mas Satya, saat ini aku masih bingung dan aku butuh waktu untuk memberikan jawaban atas pernyataan yang Mas ungkapkan barusan," jawab Fira.
"Aku akan menunggumu, jangankan besok aku akan tetap menunggumu hingga akhir usiaku," ujar Satya mencoba meyakinkan Fira agar dia bisa memberikan jawaban yang mampu membuatnya tersenyum.
"Ternyata Mas Satya bisa menggombal juga," Fira tersenyum menanggapi gombalan Satya yang menurutnya lucu, Fira bukan tipe gadis yang akan luluh dengan kata-kata, dia lebih suka bukti dari pada janji, karena itulah dia tersenyum lucu menanggapi gombalannya yang di ucapkan oleh Satya.
"Kenapa kamu malah tersenyum lucu setelah mendengar ungkapan hatiku Fira?" tanya Satya yang justru terlihat aneh, selama ini gombalan yang baru saja di ucapkan Satya sangat ampuh dan bisa meluluhkan banyak gadis, tapi Fira justru berbeda dengan gadis lainnya.
"Aku bukan tipe gadis yang mudah luluh dengan rayuan Mas Satya, aku lebih suka tindakan dari pada janji," jawab Fira.
"Aku semakin terpesona denganmu Fira," Satya kembali menggombal.
"Sudahlah, jangan menggombal lagi Mas! aku semakin lapar saat mendengar Mas Satya menggombal," seru Fira yang cukup membuat Satya yakin jika Fira memang gadis yang baik untuknya.
"Kalau kamu lapar lebih baik ikuti aku!" ajak Satya yang kini berjalan menuju stand makanan yang ada di dekat tempat mereka masuk.
"Aku hanya bercanda, Mas," sahut Fira yang merasa jika Satya terlalu menanggapi serius setiap ucapannya.
"Aku juga lapar Fira, lebih baik kita pergi cari makan dulu." Ujar Satya.
Fira hanya tersenyum menanggapi ucapan Satya kemudian melangkah mengikuti langkah kaki Satya yang ada di sampingnya.
"Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan Mas Satya," ujar Dira sesaat setelah dia sampai di rumah.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau menemaniku, dan aku akan menunggu jawabanmu besok Fira," sahut Satya.
"Aku akan memberi jawabannya besok Mas," sahut Fira yang memang tidak pernah ingkar akan janji yang dia buat.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu." Pamit Satya dan Fira hanya mengangguk sebagai jawaban.
Malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya, Fira merasa jika apa yang dia janjikan mulai membebani fikirannya, Fira terus saja bertanya pada hatinya, apa dia mencintai Satya atau dia hanya menjadikan Satya pelampiasan saja? semua pertanyaan itu mulai tumbuh hingga Satya terlelap dalam tidurnya.
"Fira, bangun, Nak!" suara sang Ibu mengejutkan Fira yang tengah lelap dalam mimpi indahnya.
"Iya sebentar, Bu," sahut Fira yang memang tidak sulit untuk di bangunkan.
"Ada apa, Bu?" tanya Fira yang merasa masih lelah karena semalam dia memang tidur larut malam karena memikirkan jawaban yang akan di berikan pada Satya.
"Sudah siang, gak baik anak gadis tidur terlalu siang," tutur Ibu Santi.
Seperti itulah Ibu Santi, dia selalu mendidik sang putri agar menjadi gadis yang baik dan mengerti dengan tata krama yang tidak tertulis tapi di terapkan di masyarakat.
"mas Satya benar-benar tidak menggangguku pagi ini, aku harus jawab apa ya nanti," gumam Fira.
Biasanya Satya akan datang atau mengirimkan makanan setiap pagi, atau hanya sekedar mampir untuk melihat keadaan Fira dan Ibunya, b tapi hari ini sangat berbeda dengan hari-hari biasanya, Satya sama sekali tidak terlihat barang hidungnya, hingga sore menjelang, suara motor Satya terdengar berhenti di depan rumah Fira.
"Satya sudah datang, aku harus menjawab pernyataannya," lirih Fira yang baru saja selesai membersihkan diri berjalan keluar membuka pintu.
"Mas Satya," lirih Fatimah saat melihat Satya yang kini berpenampilan berbeda dari biasanya, Satya lebih terlihat tampan dan segar.
"Apa aku tidak di izinkan masuk?" tanya Satya saat melihat Fira hanya diam mematung sambil melihat ke arahnya.
"Siapa bilang aku tidak mengizinkanmu masuk? masuklah!" titah Fira dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Satya duduk tepat di hadapan Fira yang kini juga ikut duduk bersamanya.
__ADS_1
"Bagaimana? apa jawabanmu, Fira?" tanya Satya langsung pada intinya.
"Aku memutuskan untuk menerima Mas Satya," jawab Fira.
Satya yang sejak semalam tak bisa tidur karena memikurian jawaban Fira akhirnya bisa tersenyum penuh bahagia, akhirnya Fira menerimanya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," sahut Satya.
"Loh ada Satya," ujar Ibu Santi yang baru saja pulang dari warung.
"Iya, saya baru saja sampai, Bu," sahut Satya.
"Kebetulan Ibu baru saja selesai masak, ayo masuk! kita makan bersama," ajak Ibu Santi.
"Tidak perlu repot-repot Bu, saya hanya sebentar," sahut Satya.
"Makan dulu Mas Satya, Ibu sudah masak banyak hari ini," sela Fira yang tahu jika Satya pasti merasa sungkan dengan tawaran sang Ibu, padahal dia sering sekali membawa makanan untuk mereka sebelumnya.
"Baiklah, aku akan makan," jawab Satya yang kini mengikuti langkah Ibu Santi dan Fira untuk makan bersama mereka.
Satya tersenyum lebar mengingat jika pernyataan cintanya dapat di terima oleh Fatimah, sungguh dia merasa begitu senang karena cintanya bisa terbalaskan.
"Terima kasih makanannya, Bu," ujar Satya sesaat setelah makan.
"Sudah, tidak usah sungkan! anggap saja rumah sendiri!" sahut Ibu dan Satya hanya tersenyum menanggapinya.
"Fir, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" tawar Satya, di dekat rumah Fira memang terdapat taman yang biasa di kunjungi oleh banyak orang saat hari minggu seperti ini.
"Boleh juga," jawab Fira.
"Bu, jika Fira saya ajak jalan-jalan ke taman yang ada di ujung gang Boleh?" tanya Satya.
__ADS_1
"Boleh, tapi hati-hati!" sahut Ibu Santi, dia memang percaya dwngan Satya yang tidak mungkin bersikap buruk pada Fira, karena itulah Ibu Santi mengizinkan Satya mengajak Fira pergi.