
"Isma tetangga sebelah, sudah jangan di makan! berikan saja sama satpam komplek di depan!" Kafa mengubah perintahnya.
"Baiklah," Salma hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan oleh Kafa tanpa bisa melawannya.
Ghozi menatap curiga ke arah Kafa, sebelumnya Kafa bukan tipe orang yang tega membuang ataupun menolak pemberian orang lain, sekalipun apa yang dia terima bukanlah sesuatu yang dia sukai, tapi Kafa tetap akan menerimanya dengan senyum yang pasti membuat si pemberi merasa senang.
Tapi kali ini terlihat sangat berbeda, ada sesuatu yang sedang di sembunyikan Kafa, dan Ghozi sudah siap untuk mencari tahu kebenarannya, sebenarnya Ghozi tetap bertahan di kota dan belum bisa pulang bukan hanya menjaga Salma, dia juga mendapat tugas untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kota hingga membuat Kafa terpaksa kembali ke sana.
Suasana sarapan di pagi hari seharusnya terasa begitu tenang dan damai, tapi kedamaian itu sirna seketika saat Intan datang dan mengacaukannya.
"Suasana di kota itu sepi ya," celetuk Salma.
Saat ini Salma, Kafa dan Ghozi sedang duduk santai di teras rumahnya, keadaan di depan rumah memang begitu sepi, maklumlah sekarang sudah hari senin hari di mana hampir seluruh kesibukan terjadi.
"Kalau hari senin seperti ini memang sepi, kebanyakan tetangga kita kerja kantoran, makanya tiap hari aktif akan terasa sepi karena mereka sudah aktif kerja juga," jawab Kafa.
"Oh gitu ya?" Salma hanya manggut-manggut mendengar jawaban Kafa.
"Kalau Mas Kafa kerja apa? kenapa aku tidak pernah melihat Mas Kafa bekerja seperti mereka?" sambung Salma, dengan polosnya dia bertanya tentang pekerjaan yang di tekuni Kafa suaminya.
"Dia Bos dari toserba Salma, apa kamu tidak tahu soal itu?" Ghozi yang sejak tadi ikut duduk di teras menyela dan menjawab pertanyaan Salma yang menurutnya sudah wajar untuk di tanyakan.
"Enggak," jawab Salma polos.
__ADS_1
"Wah kamu harus mengajaknya jalan-jalan ke toserba Mas Kafa, istri juga berhak tau apa pekerjaan suaminya, tapi jika Mas Kafa tidak mau mengajak Salma jalan-jalan, bagaimana kalau jalan-jalannya bareng aku saja?" Ghozi yang sangat mengerti kepribadian Kafa memancingnya agar Kafa mau mengajak Salma pergi mengunjungi toserba miliknya.
"Enak aja, dia istriku, besok aku akan mengajaknya ke sana." Sahut Kafa dengan nada ketus yang di sambut senyum manis oleh Ghozi.
Salma hanya diam dan nampak malas untuk menanggapi ucapan Kafa juga Ghozi, Salma tidak masalah jika Kafa tidak memberi tahu apa pekerjaannya karena Salma sudah yakin jika Kafa sangat mengerti mana yang halal dan mana yang haram, Salma juga sadar jika pernikahan keduanya memang bukan pernikahan yang di dasari dengan cinta, tapi pernikahan karena perjodohan jadi semuanya terkesan wajar-wajar saja bagi Salma.
"Aku ke kamar dulu. kalian lanjutkan saja ngobrolnya," pamit Salma yang mendapat anggukan kepala dari Kafa dan senyuman manis dari Ghozi.
"Senyam senyum aja dari tadi, entar kering tu gigi baru tahu rasa kamu," hardik Kafa saat melihat Ghozi tersenyum begitu manis ke arah Salma.
"Senyum itu ibadah Mas Kafa, jadi kita harus perbanyak senyum agar amal ibadah kita semakin banyak," ujar Ghozi dengan senyum yang kembali terlihat di wajahnya.
"Kamu mau sampai kapan di sini?" Kafa terlihat kurang senang jika Ghozi berada di sana.
"Pengganggu," lirih Kafa tapi masih bisa di dengar oleh Ghozi.
"Kalau aku ngontrak selama setahun di rumah sebelah kira-kira bisa enggak ya di jadikan solusi yang ampuh?" Ghozi menengadah seolah bertanya pada sesuatu yang entah apa.
"Jangan!" spontan Kafa.
"Kok jangan? kenapa Mas Kafa? bukankah kamu bilang Aku peganggu dan itu artinya Mas Kafa merasa terganggu dengan kehadiranku, bukankah lebih baik jika aku menyewa rumah sekalian agar tidak menjadi peganggu lagi?" usul Ghozi yang sudah pasti tidak akan di setujui oleh Kafa.
Entah sejak kapan Kafa merasa jika posisinya takut di geser Ghozi di mata dan hati Salma yang kini sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka merebut apa yang telah sah menjadi milik orang, dan Mas Kafa tidak perlu khawatir ataupun ragu pada Salma, dia gadis yang baik dan setia jadi, sangat tidak mungkin dia akan berpaling ataupun mencari tempat lain untuk bersandar," tutur Ghozi.
"Siapa juga yang takut Salma berpaling? aku sama sekali tidak peduli tentangnya," sahut Kafá yang terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya pada Salma.
"Benarkah? apa itu artinya aku masih boleh mendekat dan tebar pesona di hadapan Salma?" Ghozi merasa begitu gemas setiap kali mendengar sangkalan Kafa tentang perasaan yang dia miliki, padahal sudah sangat jelas Kafa mencintai Salma.
"Coba saja kalau berani!" ancam Kafa dengan tatapan tajam yang selalu membuat siapapun yang melihatnya enggan untuk meneruskan niatnya.
"Ha ha ha ha ...." Ghozi tertawa lebar mendengar jawaban Kafa.
"Jangan gengsi untuk mengakui perasaanmu! katakan sebelum terlambat, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!" pesan Ghozi sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Kafa yang terdiam setelah mendengar perkataan Ghozi.
'Apa benar aku sudah jatuh cinta pada Salma?' batin Kafa mulai bertanya.
Kafa terus bertanya jauh ke dalam hatinya mencari jawaban yang seharusnya sudah dia dapatkan dulu.
Apa yang di lakukan Kafa sangat berbeda dengan apa yang ada di fikiran Salma, saat ini dirinya sedang duduk di balkon melihat ada banyak orang sedang mengendarai kendaraannya di jalan raya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Kenapa aku merindukan pesantren ya? ahh makin lama aku merasa semaakin mirip anak kecil," lirih Salma dengan tatapan kosong memandang ke arah depan.
Suasana pesantren memang selalu memiliki daya tarik sendiri, tak ada rasa jenuh meski kita berada dalam ruangan dan lingkungan sama setiap hari, dan kita pasti akan merindukan suasana pesantren saat kita sudah tak lagi ada di sana meski kita berada di luar dan mendapat kebebasan untuk pergi ke manapun kita mau, tetap saja pesantren tempat paling nyaman dan tenang untuk di singgahi, ayat-ayat suci al-qur'an akan selalu terdengar setiap sore, apa lagi nasehat pengasuh yang selalu memekakan telinga tapi bermanfaat untuk kita dan kita baru menyadarinya saat kita sudah tak lagi tinggal di sana.
"Ngapain kamu ngelamun di sini?" suara Kafa terdengar mengejutkan Salma yang asyik melamun dan mengenang masa-masa indah saat berada di pesantren.
__ADS_1