Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sahabat Terbaik


__ADS_3

Salma bekerja begitu keras hingga sore menjelang, rasa lelah dan letih kini menguasai dirinya, seluruh badan Salma terasa remuk redam, rasa dingin mulai merasuki dirinya.


Malam telah tiba bersama sejuta mimpi yang siap menemani tidur setiap insan, mimpi indah dan buruk siap menemani tuannya, tapi hal itu sangat berbeda dengan Salma yang saat ini masih belum bisa terlelap, rasa sakit di sekujur tubuhnya mengganggu tidur malam yang seharusnya nyenyak.


"Salma, kamu baik-baik saja?" lirih Tari saat dia tidak sengaja terbangun dari tidur lelapnya.


Tari yang terbangun tanpa sengaja menyentuh tangan Salma yang tidur tepat di sampingnya, maklumlah di pesantren para santri biasa tidur berdampingan dengan jarak yang cukup dekat.


Salma tidak menyahuti ucapan Tari, dia terdiam sambil menutup mata, tapi badannya gemetar dengan gigi yang beradu menghasilkan sebuah bunyi yang menandakan jika saat ini dia sedang kedinginan.


"Salma, badanmu panas sekali," ucap Tari mulai panik saat dia bangun dan memegang dahi Salma yang terasa begitu panas.


"Air, haus Tari," lirih Salma yang masih bisa di dengar oleh Tari.


"Air, kamu mau minum? tunggu sebentar!" sahut Tari yang langsung berdiri berjalan mengambil segelas air untuk Salma minum.


"Bangun dulu Salma!" titah Tari seraya membantu Salma duduk.


"Kenapa bisa jadi kayak gini sih?" Tari malah bertanya pada Salma yang terlihat lemah.


"Diamlah Tari! badanku sakit semua," suara Salma terdengar begitu lemah, tapi masih bisa di dengar oleh Tari.


"Habis, kamu bandel, sudah ku bilang jangan di terusin! kamu harus istirahat tapi tetep aja kamu bandel,"


bukannya diam Tari malah semakin mengomel, tapi selain mengomel Tari juga mengambilkan satu baskom air untuk mengompres dahi Salma yang masih terasa panas.


"Semoga saja dengan begini panasnya bisa turun," lirih Tari seraya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.

__ADS_1


Tari terus menjaga Salma hingga tidak terasa dia tertidur dengan posisi duduk bersandar di loker, sungguh Salma sangat beruntung memiliki sahabat seperti Tari yang begitu perhatian dan memiliki hati tulus menganggapnya sahabat.


"Tari, bangun! ayo jamaah subuh," samar-samar suara Mbak Ratna terdengar membangunkan Tari yang masih terlelap dalam dunia mimpi, matanya terasa begitu berat hingga dia tak mampu membukanya lagi, Tari baru tertidur beberapa menit yang lalu dan kini Mbak Ratna sudah membangunkannya.


"Emm," Tari menggeliat merasakan seluruh tubuhnya yang terasa begitu pegal karena tertidur dengan posisi duduk.


Sesaat Tari lupa jika semalam dia sedang merawat Salma hingga dia mengingatnya dan langsung mengecek keadaan Salma yang masih terlelap di sampingnya.


"Astaghfirullah, semalam Salma demam tinggi Mbak Ratna," seru Tari sambil memegang dahi Salma dan benar saja dahi Salma masih terasa panas bahkan jauh lebih panas dari semalam.


"Ya allah Mbak, badan Salma makin panas," Tari kembali bersuara membuat Mbak Ratna langsung memegang dahi Salma untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Ya Allah, kamu bener Tari, kalau begitu kamu tidak usah ikut jamaah, sekarang kamu ambil wudhu'! biar Salma aku yang jaga setelah itu kamu sholat di sini saja, jagain Salma!" titah Mbak Ratna yang terdengar begitu khawatir dengan keadaan Salma.


Mendengar perintah Ratna, Tari langsung berjalan dengan langkah lebar menuju tempat wudhu' kemudian segera kembali ke kamar agar Ratna bisa ikut berjamaah.


"Aku tinggal jamaah dulu. Nanti setelah sholat jamaah aku akan laporin hal ini ke Ummi." pesan Ratna sebelum pergi meninggalkan Tari dan Salma untuk ikut sholat berjamaah.


Tari masih saja terlelap dalam tidurnya dengan suhu tubuh yang terasa semakin panas.


"Ya Allah Salma, kenapa bisa jadi separah ini?" lirih Tari kembali mengompres dahi Salma, sementara itu Ratna yang sudah selesai sholat subuh berjamaah kini berjalan menuju rumah Ummi untuk memberitahukannya jika saat ini Salma sedang sakit.


"Assalamualaikum, Ummi," ucap Ratna sesaat setlah sampai di rumah Ummi.


"Waalaikum salam, ada apa Ratna?" jawab Ummi yang tadinya duduk kini langsung berdiri melihat wajah khawatir Ratna dan langkah Ratna yang tergesa-gesa.


"Ummi, Salma sakit, badannya panas sekali," jawab Ratna.

__ADS_1


"Apa? Salma sakit, kok bisa?" sela Kafa yang langsung mengutarakan pertanyaan konyol yang sungguh lucu untuk di dengar.


"Kafa! kalau sakit ya sakit aja, kenapa harus tanya kok bisa segala, kamu ini kok aneh-aneh aja," sahut Ummi sambil menggelengkan kepala mendengar pertanyaan sang putera yang terdengar lucu.


"Ummi bener juga," lirih Kafa menyadari pertanyaannya yang terbilang konyol.


"Sudahlah, aku mau lihat keadaan Salma dulu." Ujar Ummi seraya pergi meninggalkan Kafa yang masih terlihat berdiri di tempat, sedang Ummi sudah berjalan dengan langkah lebar menuju asrama untuk menemui Salma dan melihat keadaannya.


"Tari, bagaimana keadaan Salma?" tanya Ummi sesaat setelah sampai di asrama.


"Tidak ada perkembangan Ummi, badan Salma malah semaķin panas," jawab Tari yang terlihat masih sangat khawatir menatap ke arah Salma yang maaih terbaring lemas.


"Salma," lirih Ummi memanggil Salma sambil memegang dahinya. Tapi Salma tak merespon, sebenarnya dia mendengar dan tahu jika Ummi datang dan sedang memanggilnya, tapi rasa lemas dan sakit di sekujur tubuhnya membuat Salma tak mampu menyahutinya.


"Ya Allah Salma, badan kamu panas sekali," seru Ummi dengan raut wajah panik yang tergambar jelas di wajahnya.


"Tari, kamu tunggu di sini! kita bawa Salma ke rumah sakit, biar Ummi panggil Kafa untuk ambil mobil." Pesan Ummi berjalan meninggalkan kamar dengan langkah lebar agar cepat sampai.


"Kafa!" panggil Ummi begitu lantang mengejutkan Kafa yang sedang duduk. santai di ruang keluarga.


"Ada apa Ummi?" sahut Kafa seraya berdiri menghampiri Ummi dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Salma badannya panas banget, kamu siapin mobil kita bawa dia ke rumah sakit!" titah Ummi.


"Apa separah itu Ummi? sampai harus di bawa ke rumah sakit segala," Kafa masih saja terlihat seperti orang yang tidak menyukai Salma, tapi percayalah jika hatinya saat ini jauh lebih khawatir di bandingkan dengan yang lain.


"Sudah jangan banyak tanya! lebih baik kamu sekarang pergi siapkan mobil. Ummi tunggu kamu di asrama Salma." Jawab Ummi tak terbantahkan lagi.

__ADS_1


Kafa yang mendengar jawaban Ummi langsung peegi menuju garasi untuk memanasi mobil kemudian segera menyusul Ummi ke asrama Salma.


Semua santri terfokus pada Ummi yang berjalan tergesa-gesa menuju asrama Salma. Begitu pula dengan mobil pribadi milik Kafa yang masuk ke dalam pesantren dan parkir tepat di depan asrama. Bisik-bisik santri terdengar samar-samar di telinga tapi Tari memilih diam dari pada meladeninya, karena yang terpenting saat ini adalah kesehatan Salma.


__ADS_2