Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Bertemu Khizkil


__ADS_3

"Alhamdulillah, jika kamu mau menerima nasehat Ummi, semoga apa yang Ummi ajarkan bisa kamu amalkan," ujar Ummi yang mengungkapkan harapannya.


"Ummi, sebenarnya di sini sedang ada acara apa? kok ramai sekali?" tanya Salma, dia begitu penasaran melihat betapa ramai dan banyak orang yang terlihat seperti tamu berada di pesantren.


"Hari ini adalah hari syukuran keponakan Ummi yang seminggu lalu baru di khitan," jawab Ummi.


"Kenapa Ummi tidak bilang pada Salma sebelumnya?" tanya Salma yang merasa sungkan karena tak membawa apapun untuk di berikan pada keponakan Ummi.


"Memangnya kenapa Ummi harus bilang dulu sama Salma?" bukannya menjawab Ummi malah balik bertanya.


"Salma jadi tidak enak Ummi, masak Salma datang tidak bawa apapun," Salma memberitahukan alasan dia yang meminta Ummi memberitahukannya lebih dulu.


"Kamu tenang saja, kemarin Kafa sudah menyiapkan hadiah untuk kamu bawa dan kamu kasih ke keponakan Ummi." Jelas Ummi.


"Hadiah? benarkah? tapi sejak berangkat tadi Salma tidak melihat Mas Kafa membawa hadiah Ummi," ujar Salma.


"Hadiahnya ada dalam bagasi, nanti kamu ambil bareng Kafa, sekarang kita ikuti susunan acaranya dulu. Setelah itu kamu bisa memberikan hadiah itu pada keponakan Ummi." terang Ummi.


"Kenapa tidak di berikan sekarang Ummi?" Salma masih saja terus bertanya, entah mengapa saat ini dia merasa seperti mengobrol dengan Ibunya sendiri, karena itulah dia terus mengungkapkan rasa penasarannya tanpa ragu pada Ummi.


"Keponakan Ummi itu sangat dekat dengan Kafa, jika kamu dan Kafa memberikan hadiahnya sekarang bisa di pastikan jika keponakan Ummi akan terus menempel pada Kafa, dia tidak akan mau duduk tenang di tempat yang sudah Umiknya siapkan," Ummi kembali menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Salma sedang Salma yang bertanya hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Acara demi acara sudah di mulai dan di lewati dengan penuh khidmat, rasa bosan mulai hinggap dan terlihat jelas di wajah Salma, sebelumnya dia tidak pernah mengikuti acara seperti yang dia ikuti sekarang, sambutan-sambutan yang cukup panjang di tambah ceramah agama yang monoton membuat mata Salma mengantuk dan syukurnya Ummi menyadari apa yang terjadi pada calon menantunya itu.


"Jika kamu mulai merasa bosan, pergilah jalan-jalan! kamu bisa melihat suasana pesantren ini dan kamu bisa kembali lagi ke sini setelah satu jam ke depan." Tutur Ummi yang sukses membuat Salma merasa begitu bahagia, bagaimana tidak saat ini Salma benar-benar melihat sosok sang Ibu dalam diri Ummi, Ibu yang selalu mengerti dengan apa yanh dia rasakan tanpa perlu Salma jelaskan.


"Apa Salma benar-benar boleh pergi jalan-jalan dulu Ummi?" tanya Salma yang merasa sedikit ragu dengan apa yang akan dia lakukan.


"Boleh, pergilah!" titah Ummi dengan ekspresi meyakinkan membuat Salma yakin untuk pergi seperti apa yang di katakan Ummi.


"Kalau begitu Salma pergi dulu Ummi, assalamualaikum." Pamit Salma melenggang pergi meninggalkan Ummi yang masih setia duduk di tempatnya sambil tersenyum manis ke arah Salma.


Salma yang sudah mendapat izin langsung melangkah meninggalkan Ummi berjalan-jalan mencari sesuatu yang bisa menghiburnya. Langkah Salma terhenti saat dia melihat ada begitu banyak bunga di sebuah taman yang indah jauh dari keramaian yang ada di halaman depan pesantren, taman itu terletak di bagian belakang pesntren tepat di belakang rumah mewah yang tadi sempat dia masuki.


"Masya allah, indah sekali tamannya," lirih Salma melihat begitu banyak bunga mawar merah dan putih juga tanaman melati yang kini sedang berbunga, semerbak harum wangi melati begitu memanjakan indra pemciuman Salma.


"Siapa Kamu?" suara seorang laki-laki mengejutkan Salma yang tengah asyik menikmati aroma bunga melati yang ada di hadapannya.


"Aku Salma, maaf kamu siapa?" Salma menjawab pertanyaannya seraya kembali melempar pertanyaan pada sang laki-laki yang kinu berdiri tegak di hadapannya, hati Salma merasa aneh dengan kehadiran laki-laki itu, bagaimana bisa ada seseorang di taman bunga yang sepi seperti sekarang jila di halaman depan masih ramai dengan acara yang di adakan oleh pemilik pesantren.


"Aku putera pemilik pesantren ini." Jawabnya dengan tegas.


'Anak pemilik pesantren? bukankah pemilik pesantren ini adik Ummi? aku tadi lihat dia masih sangat muda, mana mungkin dia bisa punya anak sebesar dia,' batin Salma mulai mengoceh tentang kejanggalan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu!" hardik laki-laki yang sekarang ada di hadapannya.


"Maaf, aku tidak pernah punya maksud apapun, apa lagi bermaksud jahat, tadi aku sedang merasa bosan dengan semua acara yang berlangsung, jadi aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa jenuh, dan aku melihat taman bunga yang begotu indah juga harum ini, makanya aku langsung ke sini untuk melihatnya," Salma yang tak ingi laki-laki di hadapannya itu salah faham, dia memilih untuk menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya.


"Aku Khizkil, kamu bisa memanggilku Izki! acara di smdepan memang membosankan dan aku rasa kita memiliki selera yang sama, jadi kamu boleh berkeliling melihat taman bunga ini." Ujar Laki-laki itu yang ternyata bernama Khizkil.


"Kamu sendiri kenapa ada di sini? bukankah seharusnya kamu menemani adikmu di halaman depan jika kamu benar Putera dari pemilik pesantren ini," tanya Salma.


"Dia adik dari istri baru Abi, dan aku masih butub waktu lebih lama untuk menerima istri baru Abi sepenuhnya," jawab Izkil, entah mengapa dia bisa bercerita pada gadis yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua darinya.


"Sebelumnya aku minta maaf, Izkil, bukan maksudku untuk ikut campur urusanmu, tapi apa aku boleh bertanya tentang keluargamu?" dengan ragu-ragu Salma bertanya, dia takut jika Izkil akan tersinggung atau menganggapnya buruk jika dia bertanya tentang keluarganya.


"Entah mengapa aku merasa nyaman berada di dekatmu, meski kita baru saja bertemu, jadi kamu bisa bertanya apapun padaku." Jujyr Izkil.


"Baiklah, kamu bilang tadi istri baru Abi, apa yang kamu maksud tadi Umik Wardah?" tanya Salma dengan ekspresi ragu.


"Iya, dia Umik baru lebih tepatnya istri baru Abi," jawabnya jujur.


"Jika Umik Wardah istri baru Abi kamu lantas Ibu kandungmu ke mana?" tanya Salma.


"Maaf, jika pertanyaanku menyinggungmu," sambung Salma yang takut menyinggung perasaan Izkil.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Umikku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu tepat di hari ulang tahunku yang ke sepuluh," jawab Izkil.


"Dan kau tahu, taman ini milik beliau, Umikku sangat menyukai taman bunga ini dia sering menghabiskan waktu di sini, karena itulah aku lebih suka di sini dari pada bergabung di sana bersama mereka," Izkil kembali menceritakan apa yang terjadi padanya.


__ADS_2