Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Membuat Salma Emosi


__ADS_3

'Buat kopi aja harus manggil aku, dasar ribet,' batin Salma merasa jika Kafa termasuk orang yang ribet karena hanya masalah secangkir kopi yang seharusnya bisa dia kerjakan sendiri malah menyuruh orang lain untuk mengerjakannya.


"Jika melakukan sesuatu itu harus ikhlas! jangan menggerutu!" ujar Kafa dengan nada sinis.


"Siapa juga yang menggerutu? sejak tadi aku diam," sahut Salma tanpa menoleh ke arah Kafa yang duduk di kursi meja makan.


"Wajahmu tak sejalan dengan kenyataan," sahut Kafa.


'Aneh, apa dia beberan dengar aku mengomel atau dia hanya mengira-ngira dari ekspresi wajahku saja?' batin Salma mulai bertanya-tanya.


"Aku hanya minta secangkir kopi, tapi kenapa kamu lama sekali buatnya?" suara Kafa kembali mengejutkan Salma yang sedang sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Astaghfirullah, bersabarlah! airnya belum benar-benar mendidih, memangnya Mas Kafa mau sakit perut gara-gara aku buatin kopi dengan air yang kurang matang," seru Salma yang sukses membuat Kafa terdiam tanpa berbicara lagi.


"Ini kopinya," ujar Salma memberikan secangkir kopi pada Kafa.


"Buatkan aku nasi goreng!" Kafa kembali memberi perintah pada Salma yang terlihat terkejut dengan perintah yang di berikan olehnya.


'Apa? perintah lagi, astaga, kenapa putera Ummi yang satu ini suka sekali memberi perintah, mana sikapnya seenaknya sendiri lagi.' Batin Salma menggerutu dengan sikap Kafa yang terkesan seenaknya sendiri.


"Kenapa diam? kamu terpesona dengan suaraku? atau kamu tidak bisa memasak nasi goreng?" tanya Kafa yang sukses menyulut emosi Salma.


"Maaf Mas Kafa yang baik hati dan sangat besar kepala, saya Salma tidak sedang terpesona ataupun tidak bisa memasak, hanya saja saya terkejut kenapa Mas Kafa tiba-tiba minta di buatin nasi goreng siang-siang seperti ini?" Salma mencari alasan agar Kafa tak lagi berbicara seenaknya sendiri.


"Memangnya kalau mau makan nasi goreng harus ada jamnya?" tanya Kafa menatap remeh ke arah Salma yang sedang berdiri di harapannya.

__ADS_1


Salma hanya diam tak lagi mau menjawab, Salma memilih pergi mengambil nasi dan bumbu yang akan dia masak dari pada harus meladeni ucapan Kafa. Sedang Kafa diam sambil tersenyum tipis melihat Salma yang kini mulai memasak nasi goreng sesuai keinginannya.


"Masak yang bener! awas kalau sampai rasanya tidak enak!" suara Kafa kembali terdengar, begitu tegas dan menuntut.


"Mas Kafa tenang saja, aku sudah sering memasak nasi goreng, jadi, jangan khawatir!" seru Salma dan Kafa hanya menganggukkan kepala sebahai jawabannya.


Cukup lama Salma berkutat di dapur sedang Kafa sudah perhi masuk ke dalam kamar untuk mengecek beberapa laporan keuangan yang masuk lewat email.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Salma sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan. Satu porsi penuh nasi goreng telah siap di makan tapi Kafa yang memesannya tak terlihat batang hidungnya, Salma sempat menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Kafa, tapi keadaan tetap sepi dan Kafa masih tak terlihat.


"Ke mana ya orangnya" lirih Salma, melihat tak ada satupun orang yang ada di dapur Salma memilih untuk mencari Kafa di tempat lain.


"Ummi!" panggil Salma saat melihat Ummi sedang duduk dengan setumpuk kertas berwarna putih yang Salma tahu pasti hasil ujian madrasah para santri.


"Begini Ummi, tadi Mas Kafa memintaku membuatkannya nasi goreng, tapi saat Salma selesai memasak Mas Kafanya tidak ada, apa Ummi tahu di mana Mas Kafa?" tanya Salma jujur.


Sedang Ummi hanya diam mematung mendengar penjelasan Salma tentang keberadaannya di rumah Ummi, rasa heran bercampur curiga kini menghampiri Ummi, bagaimana bisa Kafa meminta Salma membuatkan nasi goreng, padahal dari awal bertemu Kafa terlihat kurang menyukai kehadiran Salma dan hal itu di sadari oleh Ummi, apa mungkin sekarang Kafa susah bisa menerima kehadiran Salma, tapi kenapa bisa secepat itu? biasanya Kafa akan sangat sulit menerima orang baru dalam hidupnya apa lagi ini seorang Salma, gadis yang akan di jodohkan dengannya.


"Ummi!" Salma yang melihat Ummi terdiam kembali memanggilnya, sedang yang di panggil tetap tak merespon, dia terlihat sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Ummi!!" Salma kembali memanggil Kafa untuk yang kedua kalinya agar dia merespon dan benar, Ummi langsung merespon panggilan Salma.


"Eh, i~iya ada apa?" sahut Ummi gelagapan, pasalnya sejak tadi dia sedang sibuk dengan fikirannya sendiri dan tak menghiraukan keberadaan Salma yang berdiri di hadapannya.


"Apa Ummi tahu Mas Kafa ada di mana?" Salma kembali bertanya tentang keberadaan Kafa.

__ADS_1


"Ummi tidak tahu, mungkin Kafa ada di kamarnya, kamu bisa mencarinya di sana." Jawab Ummi mengira-ngira keberadaan Kafa.


"Baiklah, terima kasih Ummi," ucap Salma.


Ummi tersenyum seraya menatap kepergian Salma yang kini melangkah menjauh hingga menghilang di balik tembok. Ummi masih saja tersenyum menatap lurus ke arah Salma tadi berada meski kini Salma tak lagi terlihat karena telah menghilang di balik tembok.


'Semoga keduanya mendapat anugerah cinta agar mereka bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan dengan rasa cinta yang sudah mulai tumbuh satu sama lain,' batin Ummi yang tak pernah berhenti berharap agar apa yang di inginkannya bisa terwujud, sedang Salma terus saja berjalan menuju kamar Kafa untuk memberitahukan jika nasi goreng yang dia minta telah siap.


Tok ... tok ... tok ....


Perlahan Salma mengetuk pintu kamar Kafa, dia berharap tak lagi ada yang salah sehingga Salma tak perlu lagi mendengar kata-kata pedas dari mulut Kafa.


"Mas Kafa!" panggil Salma.


"Tunggu sebentar!" sahut Kafa dari dalam kamar, kata sebentar yang terdengar sama sekali tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, Kafa sedikit lebih lama membuka pintu Kamar dan hal itu cukup membuat Salma kesal, ingin rasanya saat ini Salma mendobrak pintu yang ada di hadapannya dan meneriaki Kafa, menuntaskan segala emosi yang dia rasakan, tapi apalah daya Salma tak mungkin melakukannya.


Salma hanya bisa diam menatap kosong ke arah pintu sambil menunggu pintu itu terbuka, tiga menit berlalu tapi Kafa masih saja tak membuka pintunya.


'Ceklek'


Akhirnya pintu yang sejak tadi di tunggu-tunggu kini telah terbuka, nampaklah Kafa berdiri tegak di depan Salma.


"Ada apa?" tanya Kafa enteng seperti tak ada apa-apa, dan sikap Kafa benar-benar membuat Salma emosi, ingin sekali rasanya Kafa menimpuk wajah Kafa dengan benda apapun yang ada di sampingnya agar dia ingat dengan apa yang sudah dia perintahkan pada Salma.


"Kenapa diam? ada apa kamu ke sini?" pertanyaan Kafa masih sama, sama-sama membuat Salma emosi.

__ADS_1


__ADS_2