Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Nasehat Ghozi


__ADS_3

Kafa berjalan keluar dari kamar mandi setelah merendam tubuhnya yang terasa begitu pegal, sebenarnya bukan rasa pegal yang tubuhnya rasakan tapi hati yang terasa sakit menjadi penyebab utama Kafa merasa pegal.Terlihat jelas Salma yang tengah tertidur dengan pulasnya di atas kasur berselimut bludru lembut selembut sutera.mqq


"Lah dia malah tidur nyenyak, aku yang pegal juguntuknmh gara-gara kelakuannya malah di tinggal tidur," keluh Kafa yang akhirnya keluar dari kamar untuk mencari angin segar agar otaknya terasa semakin segar.


"Mas Kafa mau Mbok buatkan kopi?" tawar Mbok Sumik saat melihat Kafa berjalan menuju ruang keluarga.


"Boleh Mbok, tolong antarkan ke ruang keluarga!" pinta Kafa.


"Baik, Mas Kafa," jawab Mbok Sumik.


"Mbok aku juga tolong buatin es jus jeruk sama bawain cemilan ya Mbok!" sahut Ghozi yang baru saja datang dan keluar dari kamarnya.


Kafa hanya memutar bola mata jengah melihat tingkah laku Ghozi, bagi Kafa apa yang di lskukan oleh ghozi adalah hal biasa yang sering dia lakukan, jadi Kafa tidak terlalu memeperdulikan ataupun mempermasalahkannya.


Kafa berjalan dan duduk di ruang keluarga tepat di depan televisi yang sedang menyala. Di ikuti Ghozi yang juga dufuk tidak jauh dari tempat duduk Kafa.


"Ngapain kamu ngikutin aku?" tanya Kafa menatap heran ke arah Ghozi yang justru tersenyum ke arah Kafa.


"Jangan sok imut! aku muak melihatnya," sambung Kafa saat melihat Ghozi justru tersenyum ke arahnya.


"Jangan sok jahat, kaku tidak pantas bersikap seperti itu," sahut Ghozi tak mau kalah dengan Kafa.


"Terserah aku, apa urusannya denganmu?" Kafa tetap bersikap jahat pada Ghozi.


"Apa kamu masih marah soal tadi?" tanya Ghozi yang kini merasa khawatir jika Kafa akan bersikap buruk pada Salma.


"Tentu saja, apa kamu fikir aku bisa terima begitu saja jika di permainkan seperti tadi," ujar Kafa.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak bermaksud memoermainkan Mas Kafa, apa lagi Salma, dia tidak pernah punya fikiran sampai seperti itu," ucap Ghozi mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Jika seperti itu, kenapa kamu tadi melakukannya?" Kafa benar-benar jengkel dengan apa yang di lakukan oleh Salma dan Ghozi.


"Harusnya kamu juga mengerti jika apa yang terjadi tadi bukan cuma salahku, tapi juga kesalahanmu, sebelum marah ataupun menyalahkan orang seharusnya Mas Kafa lihat-lihat dan periksa dulu kebenarannya, jangan main tuduh dan marah seperti tadi!" Ghozi menjelaskan siapa yang sebenarnya salah, meskipun Ghozi tahu dengan pasti kalau dirinya juga melakukan kesalahan tapi dia merasa punya kewajiban untuk mengingatkan Kafa agar tidak terulang kembali.


Kafa terdiam setelah mendengar ucapan Ghozi yang benar adanya, fikiran Kafa melayang jauh ke dunia anta berantah, mengingat setiap kepingan kejadian yang kini menjadi satu.


Bagaikan sebuah film yang sudah siap untuk di putar, Kafa memang sering sekali bersikap kejam dan seenaknya sendiri terhadap Salma yang selalu tersenyum menanggapinya.


"Aku memang salah, tapi aku tak bisa mengendalikan diri saat melihat Salma bersama laki-laki lain," jujur Kafa.


"Apa semua yang Nas Kafa katakan ada hubungannya dengan Bella?" Ghozi mencoba mencari tahu perubahan sikap Kafa saat ini.


"Entahlah, yang aku tahu saat ini, aku tidak ingin di khianati lagi oleh siapapun terutama Salma yang sudah sah menjadi istriku," Kafa kembali menceritakan semua yang dia rasakan saat ini.


"Apa iya aku trauma? bagaimana kamu tahu jika aku trauma dengan kejadian pahit di masa laluku," tanya Kafa seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ghozi.


"Coba Mas Kafa ingat-ingat! apa dulu Mas Kafa juga bersikap sekeras ini pada kekasih ataupun seseorang yang sedang dekat denganmu?" Ghozi mencoba meyakinkan Kafa jika apa yang di ucapkannya memang benar.


Kafa mulai menerawang mengingat -ingat jawaban yang bisa dia berikan pada Ghozi sast ini.


"Aku memang akan cemburu jika Gadis yang sudah menjadi pasanganku bersama laki-laki lain, tapi jika di tempat yang tidak seharusnya merwka berada, atau aku melihat gadis itu jalan hanya berdua dengan bergandengan tangan berkeliling tampat romantis," Kafa menjawab pertanyaan Ghozi yang sedang duduk di sampingnya.


Ghozi tersenyum ke arah Kafa yang sedang berapi-api menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lah, kamu kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Kafa yang melihat Ghozi masih duduk dengan senyuman indan tanpa p

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tersenyum saja," jawab Ghozi sambil terus tersenyum.


"Kau terlihat semakin jelek kalau tersenyum, jadi jangan senyum seperti itu di hadapanku!" larang Kafa yang merasa jika Ghozi tersenyum karena menertawai sikapnya.


"Baiklah, aku akan berhenti tersenyum, Mas Kafa harus ingat jika Mas Kafa terus seperti tadi maka jangan pernah salahkan orang lain jika pada akhirnya Salma pergi meninggalkanmu," Ghozi terus saja memperingatkan Kafa dampak buruk dari sifat tempramental yang dia miliki, bagi Ghozi keutuhan rumah tangga Salma dan Kafa akan memberinya ketenangan tersendiri.


"Aku akan berusaha mengubahnya Ghozi, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu, jadi aku minta tolong agar kamu bisa membantuku," menyerah sudah, Kafa membuang seluruh rasa gengsi yang dulu melekat dalam dirinya, kini Kafa akan berusaha berubah menjadi suami yang baik untuk Salma.


"Aku akan membantumu Kafa, ingatlah jangan mudah marah!" Ghozi kembali menekankan setiap kalimat yang harus Kafa ingat di setiap saat.


"Aku akan berusaha untuk selalu mengingat semuanya Ghozi," ujar Kafa.


"Permisi, minuman dan camilannya sudah siap," ujar Mbok Sumik yang sukses mengalihkan perhatian kedua laki-laki yang kini bersamaan menoleh ke arah Mbok Sumik.


"Wah terima kasih Mbok," ucap Ghozi.


"Astaghfirullah, kita baru saja pulang dan di sana tadi kita juga sudah makan bukan? kenapa kamu malah makan lagi?" ujar Kafa dengan ekspresi heran yang terlihat jelas di wajahnya.


"Aku tadi baru makan sate sama lontong, belum makan nasi, kamu udah marah-marah nyuruh pulang.


"Salah sendiri ngapain beli sate? padahal di sana ada banyak pedagang yang jual nasi," sahit Kafa yang terdengar tidak mau tahu dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.


"Sudahlah, kamu memang tidak akan nengerti," ujar Ghozi.


"Aku memang gak mengerti dengan jalan fikiranmu Ghozi," jelas Kafa.


"Tapi aku masih cukup baik untuk membiarkan kamu tetap tinggal dan makan di sini," sambung Kafa.

__ADS_1


Dan Ghozi hanya bisa diam tanpa melawan karena apa yang di katakan Kafa itu benar. adanya.


__ADS_2