
Kafa kembali memasak dengan penuh semangat lagi hingga semua masakan siap untuk di makan, aroma semerbak ayam goreng berpadu dengan aroma sop ayam yang membuat setiap orang merasa lapar dan ingin segera makan.
"Emm, Mbok Sumik, aromanya enak banget, pasti rasa makanannya sangat enak," suara Ghozi terdengar melengking dari arah ruang tamu, dia datang tanpa aba-aba dengan satu kantong plastik berukuran kecil berisi obat yang harus di minum oleh Salma.
"Tentu saja, siapa dulu yang masak?" sahut Kafa membanggakan diri seraya membagi dua masakan yang sudah dia masak.
"Ini untuk Mbok dan Ghozi, dan yang dini untukku dan Salma," ujar Kafa setelah membagi dua makanannya.
"Loh, kok di bagi dua gitu? bukankah biasanya kita makan bersama-sama?" tanya Ghozi sambil mengerutkan dahi bingung melihat sikap Kafa.
"Aku akan makan di kamar bareng Salma, dia masih sakit dan aku tidak izinkan dia turun atau beraktifitas dulu," sahut Kafa.
"Astaga Mas Kafa, dia hanya sakit perut efek dari datang bulan, bukan terserang penyakit akut," ujar Ghozi seraya menggelengkan kepala heran melihat sikap Kafa yang terlalu berlebihan.
"Kalau yang namanya sakit ya tetap aja sakit, bagaimanapun keadaannya, dia tetap sakit dan harus istirahat!" tegas Kafa yang cukup membuat Ghozi geleng kepala karenanya.
"Ini obat yang kamu pesan tadi, salam semoga lekas sembuh untuk Salma." Ghozi menyodorkan satu kantong plastik ke arah Kafa yang sedang sibuk menata makanan di atas nampan yang cukup besar.
"Terima kasih sudah di belikan," ucap Kafa tersenyum senang seraya menaruh obat yang tadi di geli olrh Ghozi.
"Iya, sama-sama," jawab Ghozi.
"Aku pergi dulu. Kalian makan saja di sini!" pamit Kafa melangkah pergi meninggalkan meja makan dengan satu nampan penuh makanan yang akan di makan dirinya dan Salma.
"Tumben banget Mas Kafa mau masak, di bawain ke kamar pula," ucap Ghozi menatap penuh rasa aneh ke arah Kafa yang berjalan semakin menjauh kemudian menghilang di balik tembok.
"Itu namanya sayang istri, kok malah di bilang tumben sih," jawab Mbok Sumik yang masih asyik melahap buah apel yang ada di keranjang buah.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong dapat dari mana buah sebanyak ini Mbok? apa tadi ada tamu yang jenguk Salma? tapi siapa? bukankah Salma tidam punya kawan di sini," tanya Ghozi.
"Tadi ada Intan datang, dia ke sini bawa buah ini," jawab Mbok Sumik.
"Ngapain juga ulat bulu itu datang?" tanya Ghozi yang ikut-ikutan Mbok Sumik memanggil Intan dengan sebutan ulat bulu.
"Entahlah, Mbok juga gak tahu, tadi yang nemuin dia di ruang tamu itu Mas Kafa, dan Mbok tidak tahu apa tujuan dia datang, yang Mbok tahu Mas Kafa bawa buah ini setelah menemuinya dan meminta Mbok memakannya, Mas Kafa malah berpesan kalau jangan sampai buah ini di makan Neng Salma," Mbok Sumik menjelaskan apa yang terjadi.
"Apa karena buah itu dari si ulat bulu ya Mbok?" tebak Ghozi.
"Mungkin saja begitu," jawab Ghozi.
"Sudahlah, jangan fikirkan itu lagi! lebih bauk sekarang kita makan aja dulu. Masakan Mas Kafa itu enak loh," Mbok Sumik yang tak ingin terus berprasangka buruk memilih untuk mencegah apa yang di fikirkan Ghozi dari pada membenarkan ataupun menyamai ucapan Ghozi.
"Mbok benar, ayo makan Mbok!" Ghozi yabg sudah lapar sejak tadi juga ikut langsung memakannya dari pada harus mendebat hal yang tidak penting.
Kafa menaruh satu nampan makanan di atas nakas, kemudian berjalan keluar mengambil meja bundar yang ada di balkon dan di letakkan di depan sofa yang ada di kamar.
Dengan penuh semangat tanpa rasa lelah, Kafa berjalan mendekat ke arah kasur untuk membangunkan Salma yang sedang tertidur dengan lelapnya.
"Salma! bangun!" Kafa membangunkan Salma dengan gerakan dan tutur kata yang lembut selembut sutera.
"Hmm, ada apa Mas?" sahut Salma yang ternyata hanya tiduran biasa dan belum terlelap.
"Bangun, makanlah dulu!" jawab Kafa memberitahu Salma tujuan dia membangunkannya.
"Aku masih kenyang Mas," Salma menolak ajakan Kafa, dirinya merasa masih kenyang, lagi pula rasa sakit yang tadi dia rasakan baru saja reda dan Salma juga malas untuk bangun.
__ADS_1
"Kamu mau bangun dan makan sendiri atau aku paksa?" geram Kafa yang merasa jika Salma harus makan.
"Aku sungguh masih kenyang Mas," ujar Salma.
Kafa yang geram langsung mendekat dan berjongkok bermaksud menggendong Salma dan membawanya ke sofa yang ada di. dekat kasur, tapi Salma yang meraskan gerakan di kasurnya langsung membuka mata dan duduk alhasil Salma mendaratkan bibirnya tepat di pipi Kafa yang masih menunduk.
Kafa langsung tersenyum mendapat ci***an dari Salma yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Maaf," ucap Salma sambil menutup mulut yang tadi menempel sempurna di pipi Kafa.
"Kok maaf, pipi yang satunya minta juga," ucap Kafa dengan senyum yang masih menghiasi wajah Kafa.
"Ishhh, Mas Kafa selalu saja," keluh Salma.
"Kamu mau makan di sofa atau mau aku suapin?" tawar Kafa.
"Aku mau makan sendiri aja." Jawab Salma berdiri berjalan menuju sofa.
Salma langsung terdiam melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja bundar, Salma begitu takjub melihat perhatian yang di berikan oleh Kafa padanya, terselip rasa syukur dalam hati Salma, dia sudah mendapatkan suami sebaik dan seperhatian Kafa, meskipun awal dari hubungan mereka tidak berjalan dengan baik, tapi yang paling penting saat ini Kafa sudah bersikap jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Apa ini semua Mas Kafa yang menyiapkannya?" tanya Salma seraya menatap wajah Kafa penuh dengan rasa syukur yang terlihat jelas di wajahnya.
"Tentu saja, kamu fikir siapa yang akan menyiapkan semua ini kalau bukan aku," jawab Kafa.
"Terima kasih Mas, aku bersyukur punya suami sebaik kamu," ujar Salma yang membuat Kafa merasa bahagia, sungguh dia tidak menyesal telah bersusah payah memasak dan hasilnya Salma menyukai usaha yang dia lakukan.
"Jangan cuma berterima kasih! aku sudah susah payah memasaknya, jadi kalau kamu mau berterima kasih atau membalas jerih payahku itu kamu harus memakan habis semua makanan ini!"tegas Kafa yang tak ingin masakannya terbuang sia-sia.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa memakan semua ini sendirian Mas Kafa?" keluh Salma yang melihat begitu banyak makanan yang tersedia di meja bundar yang sudah di siapkan oleh Kafa.