Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kejujuran Ghozi


__ADS_3

Senyum bahagia kembali terukir di wajah teduh Ummi yang semakin membuat orang merasa tenang saat memandang wajahnya.


"Kenapa Ummi malah tersenyum? apa ada yang lucu?" tanya Ghozi merasa kurang enak hati saat melihat senyum Ummi yang tampak di wajahnya.


"Ini bukan senyum biasa Ghozi, Ummi tersenyum karena bahagia, Ummi akan sangat senang jika kamu menikah dengan tari," jujur Ummi.


Cukup lama Ummi menunggu hari ini, hari diana Ghozi mengatakan segalanya, mengatakan perasaannya pada Tari yang juga Ummi anggap seperti Puterinya sendiri.


"Jika kamu ingin menghitbah Tari, Ummi sangat setuju, tapi apa yang membuatmu bingung, Ghozi?" Ummi kembali mencoba mencari informasi tentang rasa bingung yang sempat di katakan oleh Ghozi.


"Aku takut Umik tidak bisa menerima Tari sebagai menantunya, Ummi," Ghozi yang cukup lama mengumpulkan keberanian akhirnya bisa mengatakan apa yang sejak lama ingin dia katakan.


"Kenapa Umikmu tidak bisa menerima Tari? apa alasannya?" tanya Ummi merasa aneh dengan pernyataan Ghozi.


"Umik tidak seperti Ummi, terkadang beliau masih sering melihat seseorang dari keturunannya," Ghozi menjelaskan alasan dirinya merasa bingung dan gelisah.


"Keturunan seorang gadis yang akan di jadikan istri itu harus memiliki keturunan yang baik, tapi lebih utama itu agamanya Ghozi, jika agamanya baik maka ke depannya pasti akan jadi lebih baik lagi," Ummi mencoba memberi penjelasan pada Ghozi yang kini sedang merangkai kata untuk menjelaskan apa yang dia maksud sejak tadi.


"Bukan seperti itu yang Ghozi maksud Ummi, keturunan yang Ghozi maksud itu nasab seperti Puteri seorang kiyai, Umik masih melihat seseorang dari nasabnya Umik, apa dia keturunan seorang Kiyai atau orang biasa, beliau ingin aku menikah dengan Puteri seorang Kiyai, sama sepertiku dan itulah yang membuat Ghozi bingung dan gelisah Ummi," jelas Ghozi sambil menundukkan kepala menutupi rasa gelisah yang kini menyerang dirinya.

__ADS_1


Ummi sejenak terdiam mencerna setiap penjelasan yang di berikan oleh Ghozi, kebanyakan Kiyai akan menikahkan putera ataupun putrinya dengan seseorang yang berasal dari kalangan yang sama, tapi rasa cinta yang di miliki Ghozi tak memandang status ataupun harta, dia yang bisa menggetarkan hati dan bisa membuat Ghozi bertekuk lutut padanya akan Ghozi pilih sebagai seorang istri, lagi pula Tari memiliki kepribadian yang cukup baik untuk di jadikan sebagai seorang istri.


"Seharusnya, Umikmu tidak melihat seorang gadis lewat status sosialnya, karena semua hal itu tidak bisa menjadi pedoman karena tak semua keturunan kiyai itu baik sama seperti orang tuanya, jadi tidak bisa di buat pedoman." Jelas Ummi berkata dengan senyum lebar berharap dengan senyuman itu, Ummi berharap Ghozi bisa sedikit tenang.


Ghozi masih diam tanpa bahasa, dia hanya memperhatikan apa yang di ucapkan oleh sang Ummi.


"Tak semua Puteri Kiyai menjadi ustadzah, ataupun bersikap seperti seorang Ibu Nyai. Dan tak semua anak orang biasa memiliki sifat buruk seperti orang tuanya, takdir seseorang itu tak di tentukan dari mana dia di lahirkan, tapi takdir seseorang itu sudah di tetapkan oleh Allah, jauh sebelum manusia itu di lahirkan, ingatlah Ghozi! manusia ini hanyalah makhluk biasa, semua memiliki drajat yang sama di hadapan sang pencipta, hanya amal ibadah yang bisa membedakan, jadi kita manusia tidak boleh membedakannya hanya karena dia bukan keturunan seorang Kiyai," sambung Ummi.


"Itu pemikiran Ummi, berbeda dengan pemikiran Umik yang masih membedakan orang dari statusnya, di tambah latar belakang Tari yang berasal dari keluarga broken home, Ghozi semakin khawatir Umik tidak menerimanya," Ghozi kembali mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya.


"Apa kamu sudah menyelidiki latar belakang Tari?" tanya Ummi saat mendengar pengakuan Ghozi tentang asal usul Tari.


"Apa kamu bisa menerima asal usul Tari yang kini menjadi kekurangannya itu?" tanya Ummi yang kini memasang wajah serius menatap intens ke arah Ghozi mencari jawaban paling jujur dari tatapan matanya.


"Aku sudah menerimanya, lagi pula bukan salah Tari jika kedua orang tuanya bercerai, semua bukan kehendak atau kemauannya, Tari hanyalah korban dari keegoisan kedua orang tuanya Ummi," Ghozi kembali menjawab pertanyaan Ummi dengan jujur.


Meski terbesit sedikit rasa khawatir dengan sikap Tari yang mungkin menuruni salah satu orang tuanya yang egois, tapi Ghozi tetap berusaha berfikir positif sambil membuang segala fikiran negatif yang mungkin masih tersisa di dalam dirinya.


Ummi kembali tersenyum mendengar jawaban Ghozi yang terdengar begitu yakin tanpa ada keraguan dalam dirinya.Ummi terus berfikir bagaimana caranya dia meyakinkan orang tua Ghozi agar mau menerima Tari.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Ummi menjadi wakil dari orang tua Tari?" tawar Ummi.


"Maksudnya apa Ummi?" sahut Kafa yang sejak tadi memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir sang Ummi.


"Tari tetap menikah di dampingi kedua orang tuanya termasuk walinya, tapi Ummi juga ikut sebagai orang tua angkat Tari, Umikmu tidak akan menolak jika berbeda dengan Ummi, katakan saja jika gadis yang kau nikkahi itu Puteri angkat Ummi!" sebuah ide brillian keluar dari bibir Ummi membuat Ghozi kembali bersemangat.


"Ide yang bagus, Ummi, aku yakin Umik tidak akan menolak jika dia tahu kalau Tari merupakan anak angkat Ummi," ujar Ghozi kegirangan setelah mendengar penjelasan Ummi.


"Sekarang rencanamu apa?" Ummi yang merasa jika akar permasalahannya sudah selesai kini kembali bertanya.


"Aku akan mengatakan semuanya pada Umik, setelah itu aku akan bilang ke Tari jika aku akan melamarnya," jelas Ghozi.


"Bagus, Ummi akan tunggu hari baiknya, semoga semuanya lancar dan kalian berjodoh," untaian do'a terucap dari bibir Ummi dengan tutur kata halus penuh kasih sayang.


"Amin, mohon do'anya Ummi," sahut Ghozi dengan ekspresi wajah penuh harap dia berucap.


Satu masalah telah terselesaikan, Ghozi berharap sang Umik bisa menerima Tari saat ini, sekarang tugas Ghozi mengatakan semuanya pada Umik.


"Ummi, Ghozi pamit pulang nanti sore dan besok siang Ghozi janji akan kembali ke pesantren untuk mengajar, apa Ummi mengizinkan?" pamit Ghozi yang kini tak mau lagi menunda niatnya untuk segera melamar Tari.

__ADS_1


"Ummi mengizinkannya, pulangkan dengan sepeda motor yang biasa kamu pakai! supaya kamu bisa sampai lebih cepat," sahut Ummi, beliau terdengar begitu mendukung keputusan Ghozi untuk segera melamar Tari.


__ADS_2