Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Keraguan Di Hati Intan


__ADS_3

"Apa benar yang di katakan oleh Alex? jika Salma bukan saudaranya aku bisa pastikan jika dia bukan pacarnya, apa mungkin Kafa sudah menikah dengan gadis itu? atau mereka hanya tinggal berdua tanpa status?" lirih Intan yang mulai memikirkan hal yang macam-macam.


"Tunggu-tunggu! aku yakin Kafa bukanlah laki-laki yang mudah untuk menyentuh ataupun di sentuh oleh gadis yang belum halal baginya," Intan kembali mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.


Intan yang baru menyadari apa yanh di katakan Alex langsung duduk dan mulai resah, di wajahnya tergambar jelas jika Intan sedang bingung bercampur gelisah. Dengan langkah lebar Intan meraih sweater yang tergantung indah di dalam almari.


"Bibik!" panggil Intan dengan nada tinggi agar sang asisten rumah tangga mendengar panggilannya.


"Iya, ada apa Nona?" sahut seorang pembantu rumah tangga yang sejak kecil merawat dan membesarkan Intan, meski sikap Intan sering kasar dan seenaknya sendiri, bahkan terkadang Intan terkesan kejam, tapi hal ity tak membuat Bik Ina pergi meninggalkan Intan, bagi Bik Ina sikap Intan saat ini terbentuk karena kurangnya kasih sayang yang tak di dapat oleh Intan.


"Aku akan pergi. Siapkan makanan yang lezat dan enak! karena setelah aku kembali nanti, aku pasti akan membutuhkan banyak makanan untuk mengisi energiku." Pesan Intan.


"Baik, Nona," jawab Bik Ina dengan keramahan yang tidak pernah hilang dalam dirinya meski Intan sering sekali bersikap kejam dan seenaknya sendiri.


Intan langsung berjalan mendekat ke arah garasi di mana ada satu mobil dan motor tersedia di sana, Intan yang sebenarnya juga menyukai balapan memiliki satu motor yang selalu dia gunakan untuk balapan dulu sebelum dia mengenal Kafa.


Tanpa kata dan fikir panjang Intan langsung melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata, fikiran Salma kini melayang terbang tinggi menuju rumah Kafa, ada banyak hal yang ingin Intan tanyakan, Intan ingin tahu apa Alex berbohong atau dia memang jujur.


"Kafa!!!" panggil Intan.


Entah mengapa Intan langsung emosi setelah sampai si rumah Kafa, padahal tadi dia hanya berniat untuk menanyakan apa yang baru saja dia lihat secara baik-baik, tapi Intan terbawa suasana dia malah merasa emosi dan ingin marah setelah sampai di depan rumah Kafa.


Ting tong ... ting tong ... ting tong ....


Suara bel rumah terdengar begitu kencang dan berbunyi berkali-kali dengan waktu yang berdekatan, hal itu membuat Mbok Sumik bingung, dia yang baru saja melepas baju hendak mandi setelah selesai membereskan barang-barang Salma langsung memakai kembali baju yang tadi dia lepas, bel rumah yang terpasang memang tersalur langsung ke kamar Mbok Sumik, dia yang meminta hal itu di lakukan agar Mbok Sumik tidak kedahuluan Kafa jika ada tamu penting yang datang.


"Ada tamu siapa kok tumben terdengar buru-buru," gumam Mbok Sumik berjalan keluar dari kamar sambil memakai kerudung, sedang Arif dan Ghozi sedang istirahat di kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


"Iya, sebentar,!!!" teriak Mbok Sumik sambil berlari kecil menuju ruang tamu membukakan pintu untuk tamu yang entah siapa.


"Ada ya~" suara Mbok Sumik terhenti seketika seperti sebuah tali yang putus tak berbekas.


"Kafa ke mana Mbok?" sarkas Intan dengan wajah penuh emosi Intan langsung bertanya sesaat setelah Mbok Sumik membuka pintu rumah.


"Mas Kafa sedang istirahat, apa ada sesuatu yang perlu di sampaikan?" Mbok Sumik balik bertanya, dia begitu enggan menanggalkan Kafa, bukan karena Mbok Sumik malas, dia hanya tidak ingin mengganggu Kafa yang sejak tadi terlihat badmood.


"Aku ingin bertemu dia sekarang!" tegas Intan tak teebantahkan.


"Mas Kafa sedang tidur, dia baru saja pulang, kasihan kalau harus di bangunin," Mbok Sumik mencoba memberi pengertian pada Intan.


"Aku harus ketemu dia sekarang! kalau Mbok Sumik tidak mau memanggilnya, aku akan memanggilnya sendiri." Ancam Intan yang tak mau kalah dengan Mbok Sumik.


"Baiklah, silahkan masuk! biar Mbok Coba panggilkan Mas Kafa," mengalah jauh lebih baik dari pada terus berdebat dan mengharapkan Intan pergi adalah hal yang paling mustahil, semuanya terasa percuma dan sia sia.


Mbok Sumik berjalan meninggalkan ruang tamu, meski rasanya begitu malas untuk memanggilkan Kafa, Mbok Sumik tetap menuruti keinginan Intan tanpa membantah lagi.


Tok ... tok ... tok ....


"Assalamualaikum, Mas Kafa!" panggil Mbok Sumik setelah mengetuk pintu kamar Kafa.


"Mas Kafa!" Mbok Sumik kembali memanggil Kafa yang tak kunjung menyahuti panggilan Mbok Sumik.


"Iya, tunggu sebentar!" sahut dari dalam, bukan suara Kafa yang terdengar, tapi suara Salma yang terdengar jelas menyahuti panggilan Mbok Sumik.


'Ceklek'

__ADS_1


Pintu kamar perlahan terbuka, menampakkan Salma yang berdiri tegak berada di tengah pintu.


"Iya, Mbok, ada apa?" tanya Salma saat melihat Mbok Sumik berdiri di depan Sapintu.


"Di depan ada Intan Neng," jawab Mbok Sumik memberi tahu maksud dirinya datang.


"Untuk apa anak itu ke mari," keluh Salma yang tiba-tiba datang tanpa di undang.


"Entahlah Neng, Intan bilang dia ada perlu sama Mas Kafa tadi, tapi Mbok tidak tahu perlu apa," Mbok Sumik mengatakan apa yangterjafitnpa mengurangi ataupun menambahkan ucapatnnya.


"Mbok kembali saja ke dapur,! biar aku yang akan menemui Intan." Titah Salma yang tak ingin ada keributan ataupun menyusahkanMbok Sumik yang sudah bersusah payah makan seadanya.


"Baiklah Neng, Mbok Sumik permisi dulu." Pamit Mbok Sumik berjalanlurus ke arah kamar meninggalkan Salma yang kini bersiap dan mulai berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Intan.


"Intan ada apa?" tanya Salma sesaat setelah sampai di tuang tamu.


"Kenapa jadi kamu yang nemuin aku? ke mana Kafa?" sarkas Intan sesaat setelah Salma sampai di ruang tamu.


'Kenapa Intan jadi tidak bersahabat denganku?' batin Salma yang merasa aneh dengan apa yang di lakukan olrh Intan.


"Kenapa diam? aku cuma mau ketemu kekasihku bukan kamu!!!" Intan kembali berkata, kali ini nada bicara Intan jauh lebih tinggi dan terlihat menyeramkan.


"Mas Kafasedang istirahat di kamarnya, dia baru pulang dan tidak bisa di ganggu,"Salma mencoba menjelaskan apa yang membuat Kafa tidak bisa datang menemuinya saat ini.


Tanpa banyak kata, Intan berjalan sendiri meninggalkan ruang tamu menuju kamar tanpa peduli pada siapapun termasuk Salma yang berdiri tepat di depannya.


"Kamu mau ke mana?" Salma mencoba mencegah langkah Intan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar tanpa peduli pada Salma yang sampai saat ini tidak berhenti berfikir tentang Salma seperti yang lain.

__ADS_1


__ADS_2