
"Terima kasih, semoga kamu juga bisa mendapatkan apa yang aku dapatkan saat ini?" ujar Salma dengan penuh ketulusan dia berkata.
"Amin," sahut Tari penuh harap, siapa yang tidak ingin mendapatkan suami dan keluarga sebaik suami dan keluarga yang Salma dapatkan saat ini.
Suasana di rumah itu jauh berbeda dari sebelumnya, Kafa dan Salma yang biasanya terlihat seperti tikus dan kucing kini justru terlihat seperti sepasang pengantin baru yang baru kemarin mengikat janji suci, Kafa yang terlihat penuh keromantisan dan perhatian di tambah Salma yang terlihat bersikap manis ke arah Kafa.
"Ummi sangat bahagia datang kemari, melihat kedekatan kalian semakin membuat Ummi senang," ujar Ummi saat melihat Kafa dan Salma bersikap begitu romantis di hadapan Ummi.
Makan malam penuh kehangatan terlewati dengan senyum penuh kebahagiaan, kedatangan Ummi memperlengkap kebahagiaan mereka.
"Tari!" panggil Ghozi saat melihat Tari duduk sendiri di tepi kolam menatap langit yang di penuhi bintang sambil menikmati semilir udara sejuk yang terasa.
"Ghozi, ada apa?" sahut Tari sekilas menengok ke arah Ghozi kemudian kembali menatap langit yang bertabur bintang.
"Aku membuatkan cokelat hangat untukmu dan ada sedikit biskuit, kita bisa menghabiskannya sambil menikmati malam yang indah ini," jawab Ghozi dengan senyum yang terlihat begitu indah memancarkan cahaya kebahagiaan yang jelas terlihat di wajahnya.
"Ngapain repot-repot bawa minuman dan makanan segala, aku tidak menginginkannya saat ini aku hanya ingin menenangkan fikiranku sambil mencoba melupakan dia yang tak pernah bisa memberi kepastian," lagi-lagi Tari mendesak Ghozi untuk memberinya kepastian, meski tidak secara langsung, tapi Ghozi sangat mengerti jika orang yang Tari maksud itu dirinya.
"Aku punya sesuatu untukmu," ujar Ghozi yang sudah tak tahan lagi mendengar Tari yang terus berucap akan melupakan dirinya, meski Tari tak mengatakannya dengan jelas, tapi Ghozi sangat mengerti maksud dari ucapan Tari.
"Apa?" sahut Tari acuh.
__ADS_1
Tari memang sangat cerdas dalam mempermainkan kata-kata, dia mampu membuat Ghozi selalu kebakaran jenggot saat berada di dekatnya, bagi Tari saat ini dia butuh kejelasan dari Ghozi bukan hanya teka-teki seperti dulu, cukup sudah Tadi menunggu dan dia tak ingin menunggu lagi.
Kafa mengeluarkan satu kotak kecil berwarna merah hati, dan Tari yang melihatnya sudah kegirangan berfikir jika Ghozi akan memberinya cincin dan melamarnya saat ini juga.
Tari tersenyum lemari dengan jantung yang berdegub kencang membayangkan kata indah yang akan dia dengar sebentar lagi, kata-kata yang sudah lama dia tunggu, kata penuh makna yang bisa mengubah hidup sekaligus statusnya.
"Apa itu?" tanya Tari, meski hatinya meyakini jika isi dari dalam kotak itu adalah cincin untuk melamarnya, Tari tetap bertanya mencoba peruntungan, kali aja Ghozi menjelaskan isi yang ada di dalamnya dan memberikan cincin itu pada Tari sebagai tanda pengikat jika dirinya akan menjadikan Tari seorang istri.
Ghozi tak menjawab pertanyaan Tari, dia lebih memilih untuk langsung membuka dan memperlihatkan pada Tari apa yang ada di dalam kotak tersebut.
"Ini untukmu." Ucap Ghozi seraya menyodorkan satu kalung emas putih yang terdapat di dalam kotak tersebut, sungguh tidak sesuai dengan apa yang di harapkan dan di sangka oleh Tari, dia terlalu berharap Ghozi memberikan cincin untuknya tapi ternyata Ghozi memberikan satu kalung yang entah apa maksudnya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Tari mengerutkan dahi bingung dengan pemberian Ghozi.
"Mengingat bagaimana maksudnya?" Tari terlihat semakin tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Ghozi.
"Aku harap kamu tetap menungguku sebentar saja, paling tidak satu atau dua minggu ini, Aku harus menjelaskan sesuatu pada Umikku sebelum meminangmu," jujur Ghozi.
"Sesuatu bagaimana maksudmu Ghozi?" Tari di buat semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Tari
"Bukankah kau sudah tau siapa aku sebenarnya? dan kamu juga tahu dengan pasti jika nanti kamu menikah denganku maka kamu juga akan memiliki status yang sama seperti Neng Salma," ujar Ghozi.
__ADS_1
"Apa hubungannya semua status itu dengan apa yang akan kamu jelaskan pada Umikmu?" Tari terlihat masih belum mengerti dengan maksud ucapan Ghozi.
"Umikmu tidak seperti Ummi, Tari," lirih Ghozi.
Tari semakin menajamkan penglihatan dan pendengarannya, mencoba mendengarkan setiap kata yang akan terucap dari bibir Ghozi, Tari semakin di buat penasaran dengan apa yang sebenarnya dia maksud, pasalnya sejak tadi Ghozi hanya berbelit-belit tanpa penjelasan yang pasti.
"Aku semakin tidak mengerti dengan maksudmu Ghozi," Tari mengungkapkan kebingungan yang dia rasakan karena ucapan Ghozi yang sejak tadi berbelit-belit.
"Sebelum aku menjelaskan secara detail dan jelas, Aku harap kamu akan tetap menunggu dan mencintaiku seperti saat ini, jangan pernah takut ataupun menyerah karenanya," Ghozi terlihat begitu khawatir dengan penjelasan yang akan dia beberkan.
"Kamu tenang saja Ghozi, aku bukan gadis lemah yang mudah menyerah," Tari mencoba meyakinkan Ghozi agar dia mau menjelaskan segalanya.
"Umikku masih memandang status seseorang dari keturunannya, dia i~" ucapan Ghozi terhenti karena Tari memotongnya.
"Cukup Ghozi! Aku sangat mengerti apa maksud dari ucapanku barusan," potong Tari yang cukup membuat Ghozi semakin khawatir karena nya.
"Intinya, aku hanya akan menikah dengan seseorang dengan restu orang tuanya, apapun yang akan kamu lakukan nanti, Aku akan terima, sekalipun orang tuamu tetap tidak menyukaiku, maka aku akan mundur secara perlahan, aku memang bukan anak seorang kiyai seperti dirimu dan Mas Kafa," ujar Tari yang memang sadar jika dirinya dan Ghozi memang bagaikan bumi dan langit memilih untuk mengalah dari pada harus menikah tanpa sebuah restu.
"Karena itulah aku meminta kamu memberiku waktu, meski aku tahu jika apa yang ku minta memang tak seharusnya terus aku minta," ujar Ghozi dengan wajah penuh harap dia menatap lekat ke arah Tari, berharap jika dia mau memaafkannya.
Tari terdiam, fikirannya melayang jauh ke tempat di mana sang ayah dan Ibu yang sudah bahagia dengan keluarga masing-masing, sedang Tari justru tengah di landa dilema besar yang entah bisa di selesaikan atau tidak.
__ADS_1
Tari menarik nafas dalam mencoba menguatkan hati yang kini sedang goyah, " Aku akan memberi Ghozi waktu dan aku harap Ghozi bisa memutuskan setelah waktu itu habis," akhirnya kata-kata yang di harapkan Tari sejak tadi telah terucap.
"Pasti, Aku akan menggunakan kesempatan yang kau berikan sebaik mungkin, tapi aku juga berharap kamu mau mendoakan diriku agar apa yang aku harapkan bisa terwujud," pinta Ghozi dengan wajah yang masih terlihat berharap ke arah Tari.