Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Di Taman


__ADS_3

Semua makanan yang di belikan Kafa kini sudah hampir habis, hanya tersisa beberapa potong makanan yang belum selesai di makan.


"Sayang!" bisik Kafa dengan sangat pelan dan hanya mampu di dengar olehnya saja.


"hm," sahut Salma singkat, dia sangat malas ketika mendengar Kafa berbisik yang ujung-ujungnya meminta sesuatu yang menguras energi saja.


"Kita jalan-jalan nikmati suasana taman yuk!" ajak Kafa yang kembali berbisik.


"Kalau mau pacaran jangan di sini Mas Kafa! ingatlah! di depanmu ini masih ada para jomblo yang masih mencari cinta," sela Ghozi yang merasa risih dengan sikap Kafa yang sejak tadi duduk mendekat di sisi Salma sambil sesekali berbisik.


"Kamu kenapa Ghozi? ada masalah?" sahut Kafa yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun saat melihat wajah Ghozi.


"Tentu saja, Mas Kafa dan Neng Salma mengajak aku dan Tari ke sini mau nikmati suasana di taman atau mau melihat kalian pacaran?" Ghozi menjelaskan rasa risih yang muncul dari dalam dirinya.


"Aku mau pacaran dulu, kalau kalian pengen tinggal nikah aja kan gampang," ujar Kafa yang sejak tadi berbicara tanpa di fikirkan dulu, dia asal ngomong.


"Kenapa kalian tidak pacaran atau nikah saja?" sela Salma dengan ekspresi wajah penasaran menatap lurus ke arah Ghozi yang justru menunduk karena Salma sedang menatapnya.


Tak ada yang menjawab, Tari dan Ghozi sama-sama terdiam tanpa kata.


"Sudahlah, aku hanya bercanda nanti, jika memang jadi nyata maka aku akan sangat bersyukur karenanya." Sambung Salma dengan senyum yang mampu membuat siapapun senang karenanya.


Gelagat Ghozi dan Tari menunjukkan jika di antara keduanya memang telah terjadi sesuatu yang masih belum di ketahui oleh Salma.

__ADS_1


'Cepat atau lambat aku pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi, sekarang lebih baik aku pergi meninggalkan mereka berdua, lagi pula ini di tempat umum, mereka tidak akan melakukan hal yang tidak baik bukan,' batin Salma yang mulai berfikir jauh tentang Ghozi dan Tari.


"Sayang, kenapa jadi melamun seperti itu?" tanya Kafa sambil mencolek bahu Salma yang terlihat hanya diam mematung menatap kosong ke arah depan.


"Eh, tidak apa-apa Mas," sahut Salma sambil mencoba fokus melihat ke arah Kafa dan yang lainnya.


"Ayo pergi!" ajak Kafa meraih jemari Salma, mengenggamnya seolah Kafa takut jika Salma lepas dan pergi dari sisinya.


Salma hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak, keduanya berdiri dari tempat duduk berjalan menjauh dari Ghozi dan Tari yang masih setia diam di tempatnya.


Suasana hening masih saja terasa, baik Ghozi maupun Tari tak ada yang memulai pembicaraan, semua diam seribu bahasa.


"Khem," Ghozi berdehem mencoba menetralkan perasaannya yang sejak tadi terasa campur aduk tak karuan, berada di dekat Tari membuat kesehatan jantungnya terganggu, pasalnya jantung Ghozi berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Apa kamu suka ini" tanya Ghozi yang terlihat bingung, dia memang bingung mau memulai pembicaraan dan mau membicarakan ala dengan Tari, otaknya seketika berhenti bekerja dengan baik jika berada di samping Tari yang kini masih menguasai hatinya.


"Apa kamu mau aku belikan lagi?" Ghozi kembali bertanya sesuatu yang bisa membuatnya pergi dari samping Tari, padahal hatinya merasa senang dan enggan pergi dari samping Tari.


"Tidak usah, Aku sudah kenyang," jawaban yang cukup membuat Ghozi senang setidaknya dirinya tak harus pergi menjauh hanya demi bisa mengobrol dengannya.


Suasana sejenak menjadi sepi, tak ada yang memulai pembicaraan, hingga suara Ghozi terdengar kembali.


"Jika kamu merasa kenyang, bagaimana kalau kita jalan-jalan? sama seperti yang di lakukan Neng Salma dan Mas Kafa, kita nikmati suasana sore hari di tan ini," usul Ghozi.

__ADS_1


Sejak tadi dia mencari alasan agar bisa berada di dekat Tari lebih lama, besok setelah pulang dari kota Ghozi sudah membulatkan tekad untuk mengatakan segalanya pada Ummi, dia tidak ingin jika Tari menerima Daddy Sasa yang terlihat jauh lebih mapan darinya, meski usia Daddy Sasa jauh lebih tua dari pada Ghozi, tapi fisiknya masih terlihat begitu tampan dan muda, hal itu menjadi pertimbangan berat bagi Ghozi yang yakin jika ada banyak gadis yang rela antri untuk menjadi Ibu sambung Sasa.


"Boleh juga, sedikit jalan-jalan bisa membakar lemak yang sudah menumpuk di dalam perutku," ujar Tari yang menyetujui ajakan Ghozi untuk jalan santai bersama sore itu.


Ghozi dan Tari terlihat berjalan beriringan di tengah keramaian orang yang sedang menikmati suara milik sang penyanyi, sedang Ghozi dan Tari tak tahu apapun selain menikmati pertunjukan musik yang baru saja mereka dengar tanpa tahu jika yang menyanyi asli atau hanya peniru semata.


"Mau minum?" tawar Ghozi saat keduanya sampai di depan gerai penjual es Boba yang tengah viral di kalangan anak muda.


"Boleh juga," sahut Tari yang memang menyukai es Boba yang di tawarkan oleh Ghozi.


Ghozi langsung berjalan mendekat ke arah penjual es kemudian memesan dua es Boba dengan rasa cokelat yang biasanya di sukai para gadis.


"Minumlah!" ujar Ghozi seraya memberikan satu cup es Boba dari tangannya.


"Terima kasih," sahut Tari yang langsung mengambil alih es Boba dari tangan Ghozi dan mulai menikmatinya.


"Pemandangannya sangat indah, apa kamu menyukainya Tari?" Ghozi terus saja berusaha membuka percakapan agar bisa mengobrol bersama dengan Tari.


"Sangat indah, apa lagi di tambah cahaya senja yang menyempurnakan keindahan langit," sahut Tari, saat ini Ghozi dan Tari sedang berada di tengah taman, duduk di tengah-tengah icon dari taman tersebut.


"Tapi aku tidak terlalu suka dengan senja, aku juga tak ingin menemukan pasangan seindah senja," jujur Ghozi sambil menatap lurus ke arah Tari, sedang Tari masih asyik memperhatikan senja yang memang terlihat begitu indah.


"Kenapa bisa begitu? bukankah senja sangat indah sehingga banyak orang menyukainya?" tanya Tari dengan ekspresi wajah penuh rasa heran mendengar kejujuran Ghozi, jarang sekali sekali ada orang yang membenci senja yang memang indah.

__ADS_1


"Senja memang indah, sama halnya seperti cinta, tapi keindahan senja hanya sementara, bahkan terkesan datang hanya sekilas, dan aku tak ingin menemukan pasangan seperti itu, dia datang dengan sejuta keindahan kemudian pergi seenaknya sendiri, dia datang hanya ingin memberi keindahan sejenak kemudian pergi dengan sejuta luka dan air mata," jelas Ghozi.


Tari hanya terdiam mendengar penjelasan Ghozi yang menurutnya memang masuk akal, dan apa yang di jelaskan oleh Ghozi bukanlah hal yang buruk tapi kenyataan yang memang harus di pertimbangkan.


__ADS_2