
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Salma menatap curiga ke arah Tari yang masih tertawa.
"Tidak ada, aku hanya ingin tertawa saja," jawab Tari yang tak ingin menceritakan penyebab dia tertawa terbahak-bahak seperti saat ini.
"Dasar aneh," lirih Salma.
"Biarin, meski aku aneh kamu bakal bingung nyariin kalau aku gak ada." Sahut Tari dengan percaya diri yang sangat tinggi.
Salma hanya bisa diam tanpa bisa melawan kata-kata Tari yang memang benar adanya.
Kafa berjalan dengan hati yang masih di penuhi rasa gelisah, bagaimanapun saat ini dirinya harus bisa mendapatkan izin dari sang Ummi.
"Kafa!" suara Ummi terdengar saat Kafa masih berjalan di koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Ummi," sahut Kafa menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ummi seraya berjalan mendekat ke arah Kafa.
"Aku mau cari sarapan untuk Salma dan Tari." Jawab Kafa.
Ummi tersenyum mendengar jawaban Kafa, jika Kafa mau di repotkan seperti sekarang itu tandanya dia sudah bisa menerima kehadiran Salma, meskipun Ummi masih belum tahu apakah Kafa sudah mencintai Salma atau belum, yang terpenting saat ini Ummi tahu jika Kafa tidak menolak kehadiran Kafa.
"Alhamdulillah, aku tidak perlu capek-capek jalan ke kantin, ayo Ummi." Kafa terlihat begitu lega setelah Ummi mengatakan jika dirinya membawa makanan untuk Salma dan Tari, dia langsung mengajak Ummi untuk ikut bersamanya menuju ruangan Salma.
"Tunggu Ummi!" pinta Kafa sambil memegang tangan Ummi, mencegahnya agar tidak langsung masuk ke kamar di mana Salma di rawat.
"Ada apa, Kafa?" tanya Ummi dengan dahi yang mengkerut menandakan jika dirinya sedang bingung melihat sikap sang putera.
__ADS_1
"Ada yang ingin Kafa bicarakan, bisakah kita bicara dulu sebelum menemui Salma?" Kafa mengatakan tujuannya mencegah langkah Ummi.
"Bicara Kan bisa nanti Kafa, sarapan ini lebih penting sebelum mereka kelaperan karena nunggu kita, lebih baik kita temui mereka untuk ngasih makanan ini lebih dulu dari pada yang lain, setelah urusan makanan ini selesai, kamu bisa bebas bicara sama Ummi selama apapun tidak akan jadi masalah," tutur Ummi.
Apa yang di katakan Ummi memang benar jangankan Salma dan Tari, dirinya juga merasa betapa laparnya perutnya saat ini, dan betapa ramainya cacing-cacing penghuni perutnya, semua berdemo karena kosong dan minta di isi.
"Apa Ummi juga membawakan makanan untukku juga?" ragu-ragu Kafa bertanya, biasanyasang Ummi yang tidak terlalu suka ribet lebih memilih untuk menyuruh mereka yang sehat makan di kantin, dan Ummi hanya membawakan makanan khusus untuk yang sakit saja.
"Kamu tenang saja! saat ini Ummi sedang menolongmu agar Salma semakin yakin untuk menjadi pendamping hidupmu," ucap Ummi seraya penepuk pelan bahu Kafa yang justru bingung mendengar ucapan Ummi yang terdengar tidak nyambung itu, meski begituLafa tetap mengangguk sambil tersenyum sebagai tanda jika Kafa menyetujui apa yang di katakan oleb sang Ummi.
"Sudah, jangan ngobrol di aini terus! kasihan Salma dan Tari semakin lama menunggu." Ujar Ummi kembali berjalan masuk ke dalam kamar Salma.
'Ummi, Ummi yang anak Ummi itu Kafa, kenapa Ummo kadi lebih perhatian pada Saa dari pada aku,' batin Kafa.
__ADS_1