
Salma berjalan begitu anggun mendekat ke arah Kafa yang masih setia duduk di depan penghulu. Salma kini duduk di samping Kafa bergantian menandatangani surat-surat penting termasuk buku pernikahan yang akan menjadi bukti jika saat ini Salma dan Kafa sudah sah menjadi suami istri.
"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri," ucap sang penghulu.
"Sebagai tanda bakti mempelai wanita di persilahkan mencium punggung tangan mempelai pria," sambung sang penghulu yang cukup membuat Salma sport jantung.
Jantung Salma berdetak begitu kencang seperti kuda hendak berperang setelah mendengar ucapan sang penghulu yang memintanya untuk mencium tangan Kafa, dwngan gerakan sedikit gemetar Salma mengangkat tangan meraih punggung tangan Kafa kemudian menciumnya.
__ADS_1
Kafa dan Salma merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan, ada getaran aneh yang mulai merayap masuk ke dalam raga, mengalir seperti darah yang menyebar ke seluruh tubuh, bersentuhan setelah menikah memiliki sensasi tersendiri bagi keduanya karena ini pertama kalinya mereka bersentuhan, sebelumnya Kafa seperti seorang laki-laki yang tidak tersentuh sedikitpun oleh seorang wanita karena Kafa terlihat sangat menjaga dirinya.
Keduanya terlihat begitu canggung dan kaku jangankan mengobrol bertengkar seperti biasanya saja rasanya sangat aneh dan sulit, Salma tak lagi bisa berbicara seenaknya sendiri mengingat statusnya yang sudah menjadi istri Kafa, begitu pula dengan Kafa yang tak bisa bersikap seenaknya sendiri pada Salma karena kini dia sudah jadi suaminya dan Kafa harus menjaga hati dan diri Salma.
Apa yang di rasakan Salma dan Kafa sangat berbeda dengan apa yang di rasakan oleh Ghozi, dia hanya bisa duduk di sudut ruangan tepat di depan Salma dan Ghozi yang saat ini duduk bersanding di atas pelaminan, Ghozi menatap penuh rasa hancur ke arah keduanya, impian yang sempat tumbuh dalam hatinya kini harus sirnah dalam sekejap mata, Salma tidak akan pernah bisa di miliki ataupun di raih olehnya karena kini Salma telah sah menjadi milik Kafa seutuhnya.
"Sabar, mungkin dia bukan jodohmu, dan mungkin kelak akan ada jodoh yang terbaik yang sudah di persiapkan untukmu," ujar Tari saat melihat Ghozi hanya diam menatap nanar ke arah Salma dan Kafa yang kini terlihat duduk berdampingan di atas pelaminan.
__ADS_1
"Yang terbaik menurutmu belum tentu terbaik menurut Allah, ingatlah jika Allah lebih tau mana yang terbaik untuk hambanya dan pengetahuannya itu jauh lebih baik dari pada pengetahuan hamba itu sendiri," Tari kembali berbicara.
"Tari," lirih Ghozi saat menoleh ke samping dan melihat siapa yang berbicara dengannya sejak tadi, Ghozi memang tidak menoleh dan tidak melihat siapa yang berbicara dengannya sejak tadi karena dia masih fokus menatap Salma san Kafa.
"Kenapa?" sahut Tari dengan senyum lebar yang terlihat mengembang di wajahnya.
"Kamu sedang apa di sini?" Ghozi lebih memilih kembali bertanya dari pada menjawab pertanyaan Tari yang menurutnya tidak perlu di jawab.
__ADS_1
"Aku sedang melihat seorang pujangga yang menatap nanar pujaan hatinya yang sudah bersanding dengan orang lain, seharusnya pujangga itu belajar ikhlas dan mencari cinta baru agar bisa melupakan dia yang sudah jadi milik orang," ucapan Tari sungguh membuat Ghozi sadar jika apa yang di lakukan dia saat ini bukanlah hal yang baik.
"Jika saja aku bisa menemukan cinta yang baru dan melupakan dia yang sudah menjadi milik orang lain, tentu aku akan jauh lebih bahagia," sahut Ghozi berjalan mencari tempat duduk di ikuti Tari yang ikut berjalan di sampingnya.