Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Car free day


__ADS_3

Mbok Sumik hanya tersenyum melihat sikap Kafa yang kini terlihat jauh berbeda dengan duli sebelum Kafa pulang ke pesantren.


Sifat dingin dan kaku juga tatapan tajam yang sering di lihat oleh Mbok Sumik seakan sirnah, entah ke mana perginya sifat buruk bin membosankan milik Kafa dulu.


"Ayo Mbok!" panggil Salma yang sudah melangkah lebih dulu.


"Iya, Neng," sahut Mbok Sumik berjalan menyusul Salma dan Kafa yang berjalan terlebih dahulu, Ghozi yang sejak tadi diam memperhatikan keadaan kini berbalik arah, dia mencoba memakan menu makanan lain.


Kafa mengajak Salma makan nasi jagung yang menurutnya paling enak di tempat itu.


"Duduklah! aku akan pesankan untukmu." Titah Kafa menyuruh Salma duduk di tempat yang sudah di sediakan sang penjual.


"Mas! jangan lupa pesanlan juga untuk Mbok Sumik!" cegah Salma.


"Baiklah, nanti aakan aku pesankan." Sahut Kafa.


Mbok Sumik yang berjalan santai kini sudah sampai di dekat Salma.


"Duduk sini Mbok!" titah Salma memberi isyarat pada Mbok Sumik agar duduk tepat di sampingnya setelah melihat Mbok Sumik berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya, Neng Salma," jawab Mbok Sumik berjalan dan duduk tepat di samping Salma.


"Apa Neng Salma sudah pesan sesuatu?" tanya Mbok Sumik berniat memesankan nasi jagung untuk Salma.


"Mas Kafa sudah pesan untuk kita Mbok, jadi Mbok duduk saja! sebentar lagi makanannya akan sampai," jawab Salma.


"Bagaimana Mas? apa sudah pesan?" tanya Salma.


"Sudah," jawab Kafa yang kini duduk di samping Salma tapi berpindah di sisi kiri, karwna ada Mbok Sumik yang dudukdi sisi kanan.


"Ghozi ke mana Mbok!" tanya Kafa saat melihat Mbok sumik datang sendirian.


"Tadi Ghozi pergi ke tempat lain, mungkin dia ingin membeli makanan lain," jawab Mbok Sumik.

__ADS_1


"Sudah jangan di cari! biarkan saja Ghozi pergi ke manapun yang dia mau, kali aja nanti dia bisa ketemu sama calin istrinya di sana," sela Salma.


"Siapa juga yang nyariin? aku cuma tanya aja," ujar Kafa, dia tersenyum senang mendengar ucapan Salma karena apa yang di ucapkan oleh Salma itu bisa jadi nyata, maka Kafa akan merasa aman, tak ada yang akan merebut Salma di rumah, meskipun Kafa sudah tahu dengan pasti kalau Ghozi tidak mungkin melakukannya tetap saja Kafa masih khawatir.


[26/6 13:00] Mas: Tapisituasinya akan berbeda jika Ghozi sudah mempunyai calon ataupun kekasih, maka Kafa akan merasa lebih aman lagi.


"Ayo makan!" ujar Kafa saat seporsi nasi jagung sudah di antar oleh penjualnya, di tempat Kafa dan yang lain makan bukan tempat mewah ataupun tempat orang kaya biasa makan.


Kali ini Kafa dan Salma sedang makan di pinggir jalan beralaskan karpet polos berwarna hijau yang sengaja di gelar tak jauh dari gerobak sang penjual.


Kafa dan Mbok Sumik makan dengan lahapnya karena keduanya memang sedang lapar karena belum sarapan, hal itu sangat berbeda dengan Salma yang hanya bisa diam memperhatikan nasi jagung yang sudah di sediakan di hadapannya.


"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Kafa saat melihat Salma hanya diam tanpa bergerak, dia tak kunjung menyantap nasi miliknya.


"Bagaimana aku bisa makan kalau wajahku saja di tutup rapat seperti ini?" keluh Salma yang sejak tadi bingung bagaimana cara dirinya makan.


Kafa dan Mbok Sumik serempak melihat ke arah Salma.


"Buka saja! nanti kalau selesai makan pasang lagi!" sahut Kafa yang masih bersikeras tak ingin Salma melepas cadar yang sudah melekat di wajahnya.


"Bukankah memakai cadar itu baik untuk seorang wanita? kenapa kamu terus mengeluh Salma?" tanya Kafa menatap aneh ke arah Salma.


"Memakai cadar memang baik untuk wanita tapi si wanita juga harus memakainya dengan hati bukan paksaan biar bisa dapat pahala," bela Salma yang saat ini masih belum bisa memakai cadar seperti yang Kafa katakan.


"Baiklah, untuk saat ini aku mengizinkanmu melepas cadar itu, tapi kalau lain kali aku melihatmu merias wajah ketika keluar dari rumah maka aku akan memaksamu memakai cadar itu lagi," Kafa lebih memilih mengalah dari pada harus berdebat dan terus-terusan melihat Salma merajuk.


"Terima Kasih atas pengertiannya Mas," ujar Salma dengan senyum yang kini terlihat begitu cantik.


"Jangan tersenyum di tempat umum! makan saja!" ujar Kafa yang terlihat kurang suka dengan senyuman Salma yang menambah kecantikan yang sebenarnya sudah terpancar dalam diri Salma.


Mbok Sumik tersenyum lucu mendengar larangan Kafa yang tidak masuk akal itu.


"Senyum itu ibadah Mas Kafa," sahut Salma tidak mau kalah.

__ADS_1


"Jangan membantah! aku bilang jangan senyum sembarangan turuti saja! jangan banyak protes!" tegas Kafa tak terbantahkan.


"Mbok, dia mulai aneh," ujar Salma mencoba mengajak Mbok Sumik berbicara.


"Turuti saja Neng! titah suami itu harus di turuti tidak boleh di bantah," sahut Mbok Sumik yang terdengar membela Kafa.


"Tuh dengerin Mbok Sumik!" sahut Kafa.


"Tapi kalau perintahnya baik, kalau buruk abaikan saja!" Mbok Sumik kembali memberi arahan.


"Sebenarnya Mbok berpihak pada siapa?" tanya Kafa.


"Aku tak berpihak pada siapapun, bagiku kalian berdua sama," jawab Mbok Sumik enteng.


Kafa dan Salma langsung tersenyum mendengarnya, sungguh Mbok Sumik sudah seperti orang tua mereka sendiri ketika mereka berada di kota dan jauh dati Ummi.


"Setelah ini Mbok mau pergi jalan-jalan sendiri, nanti Mbok akan hubungi kalian jika ada sesuatu yang tidak baik terjadi," pamit Mbok Sumik yang sangat mengerti jika Salma dan Kafa pasti butuh waktu berdua.


"Apa Mbok tidak apa-apa jalan sendirian?" tanya Salma dengan ekspresi wajah khawatir.


"Tidak apa-apa, Mbok sudah biasa jalan sendiri," jawab Mbok Sumik mencoba meyakinkan Salma kalau dirinya baik-baik saja.


"Baiklah, nanti kalau sudah selesai langsung ke mobil ya Mbok," pesan Kafa.


"Iya, Mas Kafa," jawab Mbok Sumik.


Mbok Sumik benar-benar pergi berkeliling melihat suasana car free day yang begitu ramai, begitu pula dengan Salma dan Kafa yang menikmati suasana ramai dan beberapa makanan yang di sediakan di sana.


"Masya allah, ramai sekali ya Mas," ujar Salma menatap kagum ke sekeliling yang terlihat begitu ramai.


"Tentu saja, hari minggu adalah hari libur di mana ada banyak keluarga yang menghabiskan waktu liburnya bersama," jawab Kafa.


"Mas aku ingin makan itu," pinta Salma menunjuk ke arah pedagang yang berjualan cilok daging.

__ADS_1


"Ayo! aku belikan!" ajak Kafa yang selalu menggenggam erat jemari Salma seakan dia takut kehilangan istrinya itu.


__ADS_2