Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Nasehat Ghozi


__ADS_3

"Aku tahu Salma, tenang saja, komik ini akan aman dan tidak akan di ketahui oleh orang yang bisa menghukum kita," ujar Tari.


"Terserah dirimu saja Tari, aku mau cari angin." Salma juga mengerti jika Tari memiliki sifat keras kepala akut, sekuat apapun Salma berusaha untuk memberitahu Tari, sekuat iru pula Tari akan menolaknya.


"Eh, kamu mau ke mana Salma?" cegah Tari yang langsung berdiri berjalan mendekat ke arah Salma yang lebih dulu berjalan.


"Aku mau cari angin. Kamu lanjutin aja baca! jangan ikut!" sahut Salma dan Tari yang mendengar perkataan Salma kembali duduk ke tempat semula, sama seperti Salma, Tari juga mengerti dengan sifat Salma yang selalu ingin menyendiri di waktu-waktu tertentu, dan Tari tak ingin memaksa Salma untuk bercerita dengannya, jika waktunya sudah tiba Tari yakin Salma akan bercerita dengan sendirinya.


Salma terus berjalan melewati jalan setapak yang terlihat lenggang, hanya ada beberapa santri yang berjalan dan bersantai di teras asrama. Salma terus berjalan menuju halaman belakang pesantren di mana biasanya para santri menghabiskan waktu saat libur dan saat ada waktu senggang.


Halaman yang cukup luas dengan beberapa pohon buah seperti mangga, salak, rambutan dan nangka, tempat paling pas untuk bersantai. Salma duduk di kursi yang telah di sediakan oleh pengasuh menatap lurus ke arah depan dengan fikiran yang sudah melayang jauh ke dunia anta beranta.


"Khem," suara deheman seorang laki-laki begitu mengejutkan Salma yang tengah melamun.


"Siapa?" spontan Salma dengan jantung yang berdebar kencang mengingat jika di pondok putri tidak ada laki-laki, bulu kuduknya pun berdiri, rasa merinding mulai terasa, tubuh Salma langsung menegang saat mendengar suara deheman seorang laki-laki.


"Jangan kaget! ini aku Ghozi," sahut laki-laki yang tadi berdehem.


Mendengar pernyataan jika yang datang adalah Ghozi temannya sendiri memberikan kelegaan di hati Salma yang sejak tadi khawatir jika yang datang adalah makhluk jadi-jadian, meskipun Salma tahu sangat tidak mungkin ada makhluk jadi-jadian di siang hari seperti saat ini.


"Astaghfirullah, Ghozi, aku kira kamu siapa?" ucap Salma sambil mengusap pelan dadanya, tergambar jelas kelegaan di wajah Salma saat melihat Ghozi tengah berdiri di belakangnya.


"Hantu? kamu pasti nyangka aku hantu, Kan?" tebak Ghozi.

__ADS_1


"Kamu kok tahu?" sahut Salma.


"Iyalah, di lihat dari ekspresi wajah dan gerakan tubuhmu saja sudah bisa di tebak kalau kamu mengira aku ini hantu," tutur Ghozi.


"Apa sebegitu ketahuannya jika aku ini penakut?" tanya Salma merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Ghozi.


"Sangat, tapi tenang saja, aku akan merahasiakan kelemahanmu yang penakut itu," Ghozi tersenyum lucu bukan karena kelemahan Salma, tapi ekspresi Salma terlihat begitu lucu.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Salma yang merasa aneh melihat senyum Ghozi.


"Kamu lucu Salma, makanya aku tersenyum," jawab Ghozi.


"Sayangnya aku bukan badut atau semacamnya, jadi aku tidak lucu," ujar Salma, entah mengapa Salma merasa jengkel di bilang lucu oleh Ghozi, dia meraa seperti seorang badut saat Ghozi mengatakan jika dirinya lucu.


"Kamu memang bukan badut Salma, kamu lucu versi yang berbeda apalagi kamu cantik," ungkap Ghozi, berbicara santai dengan Salma membuat Ghozi keceplosan.


"Bukan apa-apa, oh ya, sejak tadi aku perhatikan kamu melamun di sini. Apa kamu ada masalah?" Ghozi mencoba mengalihkan pembicaraan agar Salma tak lagi bertanya tentang apa yang baru saja dia katakan.


"Tidak, aku hanya sedang bersantai di sini," jawab Salma santai.


Sejenak suasana mrnjadi hening, tak ada yang memulai obrolan hingga Salma kembali buka suara.


"Kamu sendiri ngapain di sini? bukankah santri putera di larang masuk ke dalam pondok putri?" satu pertanyaan yang sejak awal ingin di tanyakan oleh Salma dan baru bisa di tanyakan sekarang.

__ADS_1


"Lihatlah di pojok sana ada apa!" titah Ghozi sambil menunjuk ke arah pojok halaman. Terlihat dengan jelaa jika di sana ada beberapa santri putera sedang menebang kayu nangka yang terlihat begitu besar dan tua, ada juga yang sedang memanen buah rambutan yang begitu lebat tak jauh dari pohon nangka berada.


"Sejak kapan mereka ada di sana?" pertanyaan yang terdengar begitu lucu, pasalnya sejak awal Ghozi dan teman-temannya sudah ada di sana sebelum Salma datang.


"Kita ada di sana sejak tadi, sebelum kamu datang, makanya aku tanya kamu kenapa melamun? sampai tak menyadari kehadiran kita di sana sejak tadi," Ghozi merasa senang karena dia berhasil mengalihkan pembicaraan, dan terlihat Salma tak lag menanyakan ucapan Ghozi.


"Astaghfirullah, aku gak tahu jika kamu dan teman-temanmu ada di sana," ucap Salma.


"Santai saja, di sini wilayah kekuasaan para santri putri, jadi kami santri putera akan mengalah," ujar Ghozi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Maaf, jika ucapanku tadi kurang baik," pinta Salma yang merasa jika dirinya sempat berkata sedikit ketus.


"Tidak masalah, oh ya, jika aku boleh memberi saran kalau ada masalah jangan di bawa ke sini! sholat dan minta petunjuk dari allah adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan, ingatlah kita tinggal di dunia ini berdampingan, ada dunia lain yang juga ikut tinggal di sini, sebelum terjadi sesuatu yang tak di inginkan lebih baik kita menjauhinya," Ghozi mencoba menasehati Salma yang dia tahu dengan pasti jila sedang memiliki masalah tapi enggan untuk berceeita.


"Kami benar Ghozi, tidak seharusnya aku pergi ke sini, seharusnya aku sholat dan minta petunjuk sama allah," sahut Salma yang menyadari kesalahannya.


"Dan satu lagi, jangan suka memendam sendiri masalahmu! akan lebih baik jika kamu juga mau berbagi dengan seseorang yang kamu percaya, maaf jika aku terlalu lancang, aku tak punya niat apapun hanya ingin memberimu saran," ucap Ghozi yang merasa terlalu ikut campur urusan Salma.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu gak salah, justru aku yang harusnya berterima kasih karena sudah di ingatkan," jawab Salma dengan senyum manis yang terlihat di wajahnya.


Ghozi tersenyum bahagia melihat gadis pemilik hatinya itu tidak marah, meski mereka belum lama bertemu tapi Ghozi sudah menyukai Salma.


Sedang Salma masih saja dilema dengan jawaban yang akan dia berikan pada Ummi, meski sebenarnya ada rasa kagum yang terselip di sudut hatinya pada sosok lembut Ghozi, tapi rasa itu terhalang oleh permintaan Ummi padanya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku tinggal dulu. Ingat jangan suka melamu di tempat seperti ini!" pesan Ghozi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Salma sendiri dan kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Salma hanya bisa memberikan senyum terbaiknya untuk Ghozi yang telah mengingatkan kesalahan yang telah dia perbuat.


__ADS_2