
"Ada apa lagi?" tanya Salma menoleh ke arah Kafa yang kini terlihat jauh berbeda, mata Salma membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi pada wajah Kafa.
"Mas Kafa kenapa?" tanya Salma menatap heran ke arah Kafa.
Meski Salma sangat jengkel dan tidak meyukai Kafa, tapi melihat dia dalam keadaan seperti sekarang juga membuat Salma tak bisa diam, dia langsung berjalan mendekat ke arah Kafa.
Apa yang di lakukan Salma juga di lakukan oleh Ummi yang langsung berlari mendekat ke rah Kafa.
"Apa yang kamu masukkan ke makanan tadi?" tanya Kafa dengan ekspresi marah yang tertahan.
"Aku tidak memasukkan apapun, aku memasak seperti biasanya," jawab Salma ketakutan.
"Astaghfirullah, Ummi lupa bilang kalau Kafa alergi udang Salma," sela Ummi yang kini berjalan cepat mengambil air putih untuk Kafa.
"Apa? alergi udang?" sahut Salma yang terkejut mendengar penuturan Ummi.
"Iya, Kafa alergi udang," jawab Ummi mencoba meyakinkan Salma.
"Maaf aku tadi memasukkan terasi sebagai bumbu pelengkapnya, maaf Mas Kafa, aku tidak tahu kalau kamu alergi pada udang," ujar Salma dengan ekspresi penuh rasa bersalah.
"Sudahlah! sekarang telfon dokter langgananku dan suruh ke sini! aku tunggu di kamar!" Kafa yang merasa jika apa yang terjadi bukan sepenuhnya Salma memilih untuk pergi ke kamar mengistirahatkan diri sambil menunggu dokter datang.
"Bagaimana ini Ummi? Salma takut," ucap Salma.
"Sudah jangan takut! lebih baik sekarang kamu siapin teh hangat! biar Ummi yang menelfon dokter," Ujar Ummi mencoba menenangkan Salma yang terlihat gelisah dengan apa yang telah terjadi.
"Baik, Ummi," jawab Salma.
Selama ini Salma tidak pernah bertemu dengan seeorangyang memiliki riwayat sakit alergi seperti yang di alami oleh Kafa, pantas saja Salma terlihat begitu takut bercampur panik saat melihat wajah Kafa yang di penuhi kemerahan, apa yang terlihat di wajah Kafa seperti bidur.
__ADS_1
Salma yang sudah selesai membuat teh langsung berjalan mengantarkannya menuju kamar Kafa. Wajah Salma kini terlihat pias, rasa bersalah mulai menguasai dirinya, meski sebenarnya apa yang terjadi sama sekali bukan kesalahannya.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuklah!" suara Ummi terdengar dari dalam kamar Kafa.
"Ummi, ini teh hangat yang Ummi minta." Salma menyodorkan satu gelas berukuran besar ke arah Ummi.
"Terima kasih ya Salma," ujar Ummi.
Salma masih saja terdiam, berdiri mematung di tempat sambil menatap penuh rasa bersalah ke arah Kafa.
"Kamu kenapa Salma?" tanya Ummi yang merasa heran dengan Salma yang justru diam di tempat.
Salma beralih menatap ke arah Ummi setelah mendengar ucapan Ummi kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Kafa yang terlihat terbaring lemah di atas kasur.
"Maaf, Mas Kafa," lirih Salma tapi masih bisa di dengar oleh Kafa dan Ummi.
"Baik, Mas Kafa, aku akan merawatnu sampai kamu benar-benar sembuh seperti dulu lagi ." janji yang di katakan oleh Salma sendiri.
Kafa tersenyum tipis menanggapi ucapan Salma, hatinya senang karena jika Salma sudah berjanji seperti itu maka bisa di pastikan jika Salma pasti bisa dia suruh sesuka hati dan Kafa bisa melakukan apa yang dia inginkan untuk membuat Salma semakin jengkel dan kesal.
"Bagus," sahut Kafa.
Bukan cuma Kafa yang merasa senang bahkan Ummi yang mendengar percakapan keduanya juga merasa begitu bahagia.
"Kalau begitu Salma permisi dulu." pamit Salma pada Kafa.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kafa yang sukses mencegah langkah Salma yang hendak pergi meninggalkan Kafa dan Ummi di dalam kamar.
__ADS_1
"Aku mau kembali ke asrama Mas Kafa, sudah waktunya sholat ashar, aku juga mau mandi dan ganti baju karena baju ini juga sudah kotor," Salma menjelaskan apa yang ingin dia lakukan di asrama.
"Tidak boleh! tunggu sampai dokternya datang! kamu harus tahu bagaimana keadaanku, karena kamu yang membuatku seperti ini," ujar Kafa yang sukses membuat Salma kecewa, pasalnya dia sudah berencana untuk membersihkan diri di asrama.
"Tapi, jika aku tak pergi sekarang maka aku akan semakin bingung karena semakin sore akan semakin sulit mencari antrian kamar mandi," Salma menjelaskan keadaannya dengan harapan Kafa bisa mengizinkannya segera pergi ke asrama. Tapi apa. yang di jelaskan oleh Salma justru membuat Kafa semakin giat untuk menyusahkan Salma.
"Kalau aku bilang tidak, tetap tidak boleh!" larang Kafa, wajahnya memang terlihat tegas dan penuh amarah, tapi hati nya meloncat kegirangan karena sudah berhasil membuat Salma bingung sekaligus susah.
Ummi yang sejak tadi diam dan hanua jadi penonton kini mulai berkomentar, dia sangat mengerti dengan sifat sang putera, saat ini Ummi sangat yakin jika Kafa sedang mengerjainya, dan Ummi tak ingin melihat Salma menjadi benci pada Kafa karena sikapnya.
"Kafa, biarkan Salma pergi! kasihan jika dia harus kerepotan karenamu, soal dokter biar Ummi yang menemanimu dan menjelaskan obat dan cara minumnya pada Salma." Ummi yang merasa jika Kafa sedang mempermaínkan Salma memilih untuk menolongnya sebelum Kafa semakin menjadi-jadi.
Mendengar perintah Ummi membuat Kafa tak lagi bisa menolak, tanpa banyak berfikir Kafa langsung memenuhi permintaan sang Ummi.
"Baiklah, kamu boleh pergi! tapi ingat! setelah semua urusanmu selesai kamu harus kembali karena aku tidak akan meminum obat ataupun makan jika bukan kaku yang menyiapkannya," ujar Kafa yang sukses membuat Salma terkejut karenanya.
"Siap Mas Kafa," sahut Salma dengan senyum yang terlihat manis meski sebenarnya senyum itu terpaksa dia tampakkan.
"Ummi, Salma pamit dulu, Assalamualaikum." Pamit Salma.
"Waalaikum Salam," sahut Ummi dan Kafa hampir bersamaan.
Salma yang sudah mendapat izin dan berpamitan kini berjalan keluar dari kamar menuju asrama.
"Kafa, kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Ummi pada Kafa saat Salma sudah meninggalkan kamar.
"Bersikap seperti apa, Ummi?" tanya Kafa yang tidak mengerti dengan sikap yang di maksud oleh Ummi.
"Kamu terlihat keterlaluan sama Salma, kenapa kamu harus melarangnya pergi? padahal kamu tahu dengan pasti jika saat ini Salma harus ke asrama untuk menyelesaikan urusannya." Jelas Ummi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu seberapa sabar dia menghadapiku Ummi, dan aku juga ingin tahu seberapa pantas dia bersamaku?" Kafa menjelaskan alasan dia bersikap keterlaluan pada Salma.
Meski menurut Kafa masih belum ada rasa cinta dalam hatinya, tapi Kafa akan terus berusaha menerima kehadiran Salma dengan mengetes sifat asli Salma, apa dia benar-benar baik atau hanya berpura-pura, Kafa juga tidak ingin salah memilih pasangan hidup sekalipun gadis yang akan dia nikahi adalah gadis pilihan sang Ummi.