Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Senyum Bahagia Ummi


__ADS_3

"Jangan hanya bisa mengatakan jika Ghozi! kamu memang harus melupakan Salma yang tidak mungkin kamu raih lagi, sekalipun orang banyak mengatakan jika tidak ada kata tidak mungkin di dunia ini," tegas Tari yang cukup membuat Ghozi terkejut karenanya.


"Kenapa kamu begitu ngotot ingin aku segera melupakan Salma?" tanya Ghozi yang merasa aneh dengan sikap tegas yang di tunjukkan oleh Tari saat ini.


Pertanyaan Ghozi cukup membuat Tari terdiam mematung karena bingung, entah mengapa dia tiba-tiba bisa bersikap tegas seperti saat ini, Tari hanya tahu satu hal, dia ingin Ghozi segera melupakan Salma karena dia tidak ingin Ghozi melakukan hal yang bisa membahayakan Salma jika rasa itu terus di biarkan tumbuh.


"Tari! jawab aku!" suara Gjozi kini terdengar sedikit lebih keras dan jauh jauh lebih tegas dari sebelumnya, Ghozi berusaha keras karena dia merasa aneh dengan sikap Tari.


"Aku hanya tidak ingin kamu terhasut oleh setan karena rasa cinta yang terus tumbuh itu bisa saja menuntutmu untuk melakukan sesuatu yang dapat merugikanSalma yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri," jawab Tari setelah cukup lama dia berfikir akhirnya dia mendapatkan jawaban yang tepat untuk Ghozi tanpa memberitahukan apa yang sebenarnya dia rasakan.


Setelah mendengar jawaban Tari yanh memang cukup masuk akal, kini Ghozi mulai menunduk memikurkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya, haruskah dia terus terpuruk dengan perasaaan yang tidak terbalaskan, ataukah dia harus segera bangkit mulai mencoba melupakan Salma yang memang sangat tidak mungkin untuk dia raih.


"Ajari aku untuk melupakan Salma!" pinta Ghozi yang masih tertunduk.


Permintaan Ghozi cukup membuat Tari terkejut, bagaimana bisa dia bisa membantu Ghozi melupakan Salma?


"Apa kamu bisa membantuku untuk melupakan Salma?" Ghozi mulai mengangkat kepala melihat ke arah Tari yang terlihat bingung dengan permintaan yang Ghozi ajukan.


"Bagaimana aku bisa membantumu melupakan Salma? jika kamu memberitahuku caranya dan aku masih sanggup untuk melakukannya maka aku siap untuk membantumu," jawab Tari dengan mantap sambil menatap lekat ke arah Ghozi yang juga ikut menatapnya saat ini, keduanya saling memandang tanpa mereka sadari jika saat ini keduanya masih berada di tempat umum.

__ADS_1


"Khem," deheman seorang pria mengejutkan keduanya yang masih setia saling menatap tanpa jeda.


"Abah, ada apa?" ucap Ghozi setelah sadar dan melihat siapa yang baru saja berdehem mengejutkan dirinya.


"Jangan pandang-pandangan seperti itu! akan jadi zina mata jika itu tetap kalian lakukan sedang kalian bukan muhrim," Abah mengingatkan Ghozi dan Taei yang baru saja melàkukan kesalahan.


"Maaf, Abah," Ghozi meminta maaf karena merasa telah melalukan kesalahan.


"Dosamu bukan padaku, tapi pada penciptamu, maka minta maaflah padanya jangan padaku!" sahut Abah yang kini terlihat sedikit lebih rileks.


Mendengar sahutan Abah membuat Ghozi terdiam seribu bahasa, bagaimanapun apa yang di katakan Abah memang benar, Ghozi kembali melakukan kesalahan yang tidak seharusnya dia lupakan.


Tari langsung mendongak menatap ke arah Abah yang menyuruh Ghozi menjadikan Tari sebagai muhrimnya.


'Seandainya saja aku yang jadi ratu dalam hatimu Ghozi, maka aku akan jauh lebih bahagia dari sekarang saat aku mendengar Abah menyuruhmu menjadikanku sebagai muhrimmu,' batin Tari yang tidak pernah bisa berhenti mengharapkan Ghozi menjadi pendampingnya.


Ghozi hanya bisa diam tanpa bisa menjawab apapun setelah mendengar perkataan Abah yang menyuruhnya untuk menjadikan Tari muhrim, kediaman Ghozi bukan berarti dia menolak ataupun langsung menerimanya, tapi Ghozi masih saja bingung dengan perasaannya sendiri yang masih terisi penuh oleh Salma.


"Fikirkan! dan ambil keputusan yang terbaik untuk hidupmu juga sholat istoghorolah, minta padanya agar kamu bisa memilih pilihan yang benar!" pesan Abah sambil menepuk pundak Ghozi kemudian berlalu meninggalkannya yang masih setia berdiri dan menundukkan kepala.

__ADS_1


Tari yang melihat kepergian Abah dan Ghozi yang hanya terdiam mematung sambil menunduk memutuskan untuk segera pergi mengikuti langkah Abah meninggalkan Ghozi sendirian.


Sedang Ghozi masih saja bingung dan terus memikirkan setiap kata yang terucap dari bibir Abah yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri, Apa yang harus dia lakukan dan keputusan apa yang bisa dia ambil hingga dia sadar dan ingin mencoba membuka hati mulai melupakan Salma dan berharap Tari bisa membantunya.


"Ta~" suaranya terhenti saat dia menatap kursi yang di tempati Tari tadi sudah kosong melompong tak berpenghuni.


"Kemana Tari? kenapa aku tidak tahu jika dia ikut pergi?" lirih Ghzoi bertanya pada dirinya yang telah melewatkan sesuat sambil menoleh ke arah kiri dan kanan mencari keberadaan Tari yang masih saja belum terlihat batang hidungnya.


Jika Ghzoi terlihat begitu bingung dengan keberadaan Tari yang tiba-tiba menghilang sangat jauh berbeda dengan Salma yang kini mulai merasa lelah dengan apa yang dia lakukan, sejak pertama dia duduk di kursi pelaminan suasana ramai dan para tamu yang ingin bersalaman begitu banyak seolah tidak ada hentinya, Salma harus duduk dan berdiri berulang kali untuk menyambut para tamu dan hal itu benar-benar menguras tenaga.


"Apa acaranya masih lama?" lirih Salma tepat di samping telinga Kafa, apa yang di lakukan Salma cukup membuat Kafa terkejut, suara lirih Slama dan hembusan nafasnya terasa begitu aneh di telinga Kafa, saat ini Kafa merasakan sesuatu yang mampu menggetarkan hatinya, sesuatu yang menyengat bak aliran listrik bertegangan tinggi sedang merasuk ke dalam tubuhnya.


"Mas Kafa, kapan semua ini selesai? apa masih lama?" Salma kembali bertanya, kali ini dia berkata seperti biasa tidak melirihkan suaranya karena Kafa tidak menjawabnya malah terdiam mematung.


"Khem," Kafa berusaha menetralkan segala hal aneh yang timbul dalam dirinya.


"Masih ada dua gaun yang harus kamu pakai! jadi bersabarlah sampai acara ini selesai!" jawab Kafa yang cukup membuat Salma tercengang, bagaimana mungkin dia bisa terus bertahan jika masih ada dua gaun yang harus dia pakai setelah ini.


Kafa memang tidak berbicara sekejam dulu, tapi tetap saja ucapannya selalu membuat resah Salma. Saat ini Salma tak lagi bisa mengeluh karena tanpa sengaja dia melihat Ummi yang terus saja tersenyum sambil menyalami para tamu yang hadir, senyuman kebahagiaan tergambar jelas di wajah Ummi dan hal itu cukup memberi kekuatan pada Salma agar dia bisa tetap berada di atas pelaminan meski jiwa dan raganya telah lelah dengan semua yang telah dia lewati, sejak pagi Salma sudah sibuk mulai di rias memakai gaun menjalani sesi pemotretan setelah akad sampai saat ini duduk di pelaminan bak ratu dan raja sehari dengan senyum yang terpaksa dia tunjukkan meski hatinya masih belum mencintai Kafa sang suami.

__ADS_1


__ADS_2