Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Protes Salma


__ADS_3

"Tidak perlu, dia bisa pergi sendiri tanpa harus kita antar, lagi pula ini bukan yang pertama kalinya dia datang dan pergi ke kota," jawab Kafa acuh, dia terlihat tidak peduli dengan kepergian Ghozi.


"Bukankah dia ke sini karena mendapat tugas dari Ummi untuk menjagaku, apa pantas jika kita tidak mengantar dia saat dia hendak pergi kembali ke pesantren Mas?" Salma kembali bertanya, mencoba membujuk Kafa agar dia mau mengantar Ghozi pulang, setidaknya dia ingin melihat kepergian Ghozi.


"Jangan membuat banyak alasan! kalau aku bilang jangan kamu harus ikuti tanpa harus banyak bertanya ataupun bernegoisasi," Kafa yang tak terbantahkan dan tidak suka di bantah kini mulai bersikap tegas pada Salma yang kini justru terlihat manyun karena Kafa melarangnya untuk mengantarkan Ghozi yang sudah di anggap seperti saudara sendiri oleh Salma.


Tanpa menjawab ucapan Kafa lagi, Salma langsung berdiri berjalan masuk je dalam kamar mandi tanpa memperdulikan Kafa lagi, Salma yang merasa punya banyak hutang budi pada Ghozi tak ingin melepas kepergian Ghozi begitu saja, tanpa sepengetahuan Kafa, Salma diam-diam menghubungi Ghozi menanyakan keberadaannya.


Tut ... tut ... tut ....


Suara nada dering ponsel terdengar nyaring tanpa ada respon dari seberang.


'Ghozi ke mana sih? telfonku gak di angkat-angkat,' batin Salma.


Hingga nada sambung terakhir Ghozi tak kunjung mengangkat telfonnya.


Tapi Salma tak putus asa, dia kembali menelfon Ghozi, hatinya merasa tidak lega sebelum dia mendengarsuara Ghozi dan juga mendengar sendiri alasan dia pergi kembali ke pesantren tanpa dirinya.


"Hallo, assalamualaikum," suara lembut Ghozi terdengar menyapa telinga Salma.


"Waalaikumsalam, kamu ada di mana Ghozi?" tanya Salma sesaat setelah mendengar suara Ghozi.


"Aku baru saja jalan, ini masih di perempatan komplek, ada apa Neng Salma?" tanya Ghozi dengan nada khawatir yang terdengar dari seberang.


"Aku hanya ingin tahu apa kamu beneran mau pergi dan kembali ke pesantren?" Ghozi langsung bertanya pada intinya.

__ADS_1


"Iya, bukankah aku sudah mengatakan segalanya pada Mas Kafa tadi," ujar Ghozi, dia merasa aneh dengan Salma yang menelfonnya dan bertanya sesuatu yang seharusnya tidak perlu di pertanyakan lagi karena Ghozi sudah mengatakan semuanya lewat ponsel tadi pada Kafa.


"Aku ingin dengar sendiri alasan kamu pergi dan kenapa kamu tidak bilang dulu padaku? kenapa kamu langsung pergo begitu saja Ghozi? apa kamu sudah lupa dengan tugas yang di berikan oleh Ummi?" Salma mencoba mencegah kepergian Ghozi yang tiba-tiba.


Sungguh dalam lubuk hati Salna yang paling dalam, dia tidak rela jika Ghozi pergi begitu saja tanpa dirinya, Salma yanh sudah terbiasa dengan kehadiran Ghozi merasa ada yang kurang jika Ghozi pergi seperti saat ini.


"Aku tidak pernah lupa dengan tugas yang di berikan oleh Ummi, Salma," jawab Ghozi.


"Jika kamu tidak lupa, kenapa kamu pergi secara tiba-tiba Ghozi?" Salma masih belum puas dengan apa yang dia dengar, Salma ingin tahu alasan yang mendasari kepergian Ghozi saat ini.


"Aku pergi juga karena tugas lain yang di berikan oleh Ummi, Salma," Ghozi mencoba memberi pengertian dan menjelaskan alasan dirinya pergi kembali ke pesantren.


"Jelaskan padaku tugas apa yang Ummi berikan!" pinta Salma, saat ini Salma terdengar seperti seorang kekasih yang tak rela di tinggal pergi oleh kekasihnya.


Tapi sesungguhnya ada rasa takut yang terselip dalam benak Salma jika Ghozi pergi, dia merasa khawatir jika Intan melakukan hal buruk padanya, selama ini Ghozi yang selalu ada di saat Salma mendapatkan kesulitan, dalam hal apapun, Ghozi selalu menjadi yang pertama yang datang membantunya.


"Kamu tenang saja, aku hanya lima hari ada di sana, setelah itu aku akan kembali ke kota untuk membantu Kafa menjaga dan memberi dukungan padamu saat kamu bertanding dengan Intan," Ghozi yang mengerti dengan apa yang di rasakan Salma mencoba memberikan pengertian padanya.


"Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati di jalan! jangan ngebut!" pesan Salma sebelum akhirnya dia menutup telfonnya.


'Jadi berasa seperti kekasih bayangan bagi Salma,' batin Ghozi sambil memutar lagu judika yang berjudul kekasih bayangan, dia selalu saja di cari saat Salma membutuhkan bantuannya, selalu jadi bayang-bayang dan tak pernah menjadi nyata.


Ghozi kembali melanjutkan perjalanan menuju pesantren dan meninggalkan kota yang penuh dengan tantangan dan tugas yanh sebenarnya begitu berat baginya, bagaimanapun rasa cinta yang pernah tumbuh dalam hatinya tidak bisa hilang seratus persen dalam sekejap mata, Ghozi masih perlu waktu lagi untuk menghilangkan seluruh rasa yang pernah ada.


Sedang Salma keluar dari kamar mandi dengan hati yang lega, padahal dia hanya perlu mendengar suara Ghozi dan alasan dia pergi.

__ADS_1


"Kamu habis ngapain di kamar mandi? Kok lama banget?" selidik Kafa yang melihat mimik wajah Salma sudah berbeda tak seperti sebelumnya.


"Buang air besar, kenapa memangnya Mas?" sahut Salma yang tak ingin menjelaskan apapun pada Kafa saat ini.


Kafa terdiam setelah mendengar jawaban Salma yang cukup masuk akal baginya, saat ini dia hanya ingin berdua dengan Salma sang istri tercinta.


Kafa yang sangat mengerti jika Salma memikirkan Mbok Sumik di rumah kini memilih untuk menyuruh Arif datang ke rumahnya karena hari ini Kafa ingin makan malam berdua bersama dengan Salma.


"Kalau memang seperti itu, aku mau makan rawon, apa Mas Kafa mau?" jawab Salma.


"Tentu saja, kita akan makan rawon di tempat yang paling terkenal di kota ini," ujar Kafa dengan penuh semangat, kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan Salma tanpa ada Mbok Sumik dan Ghozi yang biasanya selalu hadir di antara mereka.


"Aku akan lihat masakan mana yang lebih enak, rawon di sini atau rawon di desa di mana biasanya aku makan," Salma mengungkapkan apa yang ada dalam fikirannya saat ini.


"Bagaimana kalau kita taruhan?" tawar Kafa.


"Tidak!! Mas Kafa bagaimana sih? bukannya Mas Kafa tahu kalau taruhan itu haram hukumnya, kenapa sekarang ngajak aku taruhan?" sahut Salma yang tak ingin taruhan dengan Kafa.


"Aku ngajak taruhan bukan taruhan uang Salma Sayang, aku ingin kamu memelukku semalaman jika rawon itu enak," Kafa menjelaskan taruhan apa yang dia maksud.


"Jika rawonnya tidak enak bagaimana?" tanya Salma yang kini mulai penasaran sekaligus tertarik dengan taruhan yang Kafa tawarkan.


"Jika rasa rawonnya tidak lebih enak dari rawon yang ada di desamu, maka aku yang akan memelukmu semalaman," Kafa kembali menjelaskan permainannya.


Salma terdiam mencerna dengan baik ucapan Salma barusan, dan benar saja keduanya sama-sama menguntungkan Kafa.

__ADS_1


"Tidak bisa! kalau seperti itu permainannya sama saja, ujung-ujungnya Mas Kafa yang di untungkan," protes Salma.


__ADS_2