Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Rencana Salma


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita masak bersama?" tawar Salma.


"Maaf Salma, aku tidak bisa memasak, dan aku tidak mungkin memasak," tolak Intan.


"Kenapa tidak bisa? bukankah setiap gadis pasti bisa memasak?" tanya Salma penasaran setelah mendengar jawaban Salma.


"Bagaimanapun, memasak adalah pekerjaan yang sangat sulit, aku tidak mungkin bisa melakukannya Salma," jujur Intan.


"Tidak ada yang sulit jika kamu mau berusaha," Salma masih mencoba meyakinkan Intan.


Dari tatap mata dan cara Intan berbicara dia terlihat seperti seorang gadis yang kesepian, Salma sangat mengerti keadaan gadis seperti Intan karena dulu Tari juga berada di posisi yang sama dengannya, bagaimanapun Salma sangat tahu cara menghadapi gadis seperti ini tidak harus di hadapi dengan kekerasan, cukup beri dia perhatian dan kasih sayang buat dia merasa memiliki saudara maka dia akan luluh dan bisa menerima kenyataan.


"Tapi memasak itu pekerjaan seorang pembantu," Intan masih saja menolak ajakan Salma.


"Tidak selamanya pembantu itu bertugas memasak Intan, terkadang seorang istri juga memasak untuk suaminya atas permintaan sang suami dan seorang Ibu memasak untuk anaknya untuk membuat sang anak senang," Salma kembali menjelaskan apa yang menurutnya bisa merubah pemikiran Intan.


"Untuk apa memaksa orang yang memang pemalas dari dasarnya? semua akan percuma Salma, lebih baik kamu lanjutkan saja memasaknya! dan aku akan menunggu masakanmu matang." Sela Kafa yang sejak tadi diam menahan rasa jengkel karena Salma malah bersikap baik dan ramah pada Intan, padahal Salma tahu dengan pasti jika Intan ingin merebut dirinya dari sisi Salma.


"Aku akan memasak. Ayo Salma ajari aku!" ucap Intan membuat Kafa terkejut, bagaimana mungkin hanya karena ucapan pedas darinya Intan langsung mau belajar memasak, Kafa semakin khawatir dengan apa yang di lakukan Salma, Kafa khawtir jika Intan akan semakin menjadi-jadi dan semakin tidak mau lepas darinya.


"Kamu tunggu Salma di dapur! ada sesuatu yang harus aku bicarakan padanya." Ujar Kafa berjalan mendekat ke arah Salma meraih tangan Salma dan mengajaknya berjalan menjauh dari Intan.


Intan yang sejak awal mengira Salma itu saudara Kafa hanya diam melihat Kafa menarik tangan Salma dan membawanya pergi meninggalkan Intan yang kini berjalan ke arah yang lain, lebih tepatnya ke dapur untuk menemui Mbok Sumik yang sudah lama dia kenal.

__ADS_1


"Ada apa Mas Kafa?" tanya Intan sesat setelah dia sampai di tepi kolam, tempat yang Kafa fikir aman untuk berbicara.


"Kenapa kamu malah bersikap baik pada Intan, Salma?" tanya Kafa dengan wajah penuh emosi yang tertahankan.


"Kamu isteriku, harusnya kamu berusaha mempertahankanku, bukannya mencoba mendekatkanku dengan gadis lain, apa artinya aku bagimu Salma? apa pernikahan ini hanya mainan bagimu? da~" suara Kafa terhenti karena kini jari telunjuk milik Salma telah mendarat indah di bibir tipis miliknya.


"Sstttt," lirih Salma.


"Jangan keras-keras kalau ngomong Mas!" Salma mengingatkan Kafa jika di dalam rumah itu masih ada Intan yang sedang menunggu Salma kembali ke dapur dan menemuinya untuk mengajarinya memasak.


"Bagaimana aku bisa diam Salma? sikapmu seolah kamu tak ingin pernikahan ini terus berlangsung, kamu terlihat seperti seseorang yang berusaha mendekatkan suamimu sendiri dengan gadis lain," ujar Kafa penuh dengan rasa kecewa, bagaimanapun Kafa tidak ingin pernikahannya dengan Salma berakhir, saat ini dia sudah mencintai Salma dan ingin mempertahankan pernihakan yang sudah terjadi.


"Aku punya ide cemerlang Mas Kafa, dan aku yakin ide ini bisa berhasil," ujar Salma dengan penuh percaya diri Salma mengatakannya.


"Aku akan menjadikan Intan sebagai teman dekatku dan membuat dia merasakan memiliki seseorang yang bisa mengerti dan bisa menjadi sahabat juga saudara baginya, aku melihat keadaan Intan saat ini sama seperti Tari waktu pertama kali aku bertemu dengannya, dan aku yakin apa yang akan aku lakukan ini akan berhasil Mas Kafa, tapi aku butuh bantuan dan dukungan darimu," Salma menjelaskan ide apa yang sedang ada di fikirannya.


Kafa terdiam mendengar penjelasan Salma, meski dalam hatinya terselip keraguan, tapi Kafa tidak ingin mengecewakan Salma yang terlihat begitu bersemangat saat ini, Salma terlihat begitu yakin dengan ide yang dia dapat barusan dan Kafa tak ingin mematahkan ide itu.


"Baiklah, aku akan mendukungmu dan menjagamu di sini, tapi ingatlah rahasia kita harus tetap aman sampai waktunya tiba nanti," Kafa akhirnya menyetujui apa yang baru saja Salma katakan, bagi Kafa tidak ada salahnya mencoba dari pada harus terus khawatir dan tak melakukan apapun ide Salma jauh lebih baik dari pada itu.


"Terima kasih karena Mas sudah mau mendukungku, aku akan terus berusaha agar berhasil dan rumah tangga kita tetap utuh seperti ini, ingatlah Mas! aku ingin menikah sekali seumur hidup dan aku akan berusaha sekuatku untuk mewujudkan keinginanku itu," Ucap Salma yang sukses membuat Kafa meleleh meski saat ini Salma sedang tidak menggombal, dia mengatakan apa yang dia rasa dan inginkan, tapi Kafa begitu bahagia mendengarnya.


Tanpa di duga Kafa langsung mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat di dahi Salma yang memejamkan mata menikmati setiap kasih sayang yang saat ini Kafa coba berikan, hubungan yang awalnya begitu keruh seperti air yang tengah banjir bercampur lumpur, kini perlahan berubah menjadi bening bak air embun yang menetes di pagi hari.

__ADS_1


"Khem," deheman seorang laki-laki sukses membuyarkan suasana romantis yang sedang terjadi antara Kafa dan Salma.


Keduanya langsung menoleh ke sumber suara, siapa lagi yang suka mengganggu keromantisan keduanya jika bukan Ghozi.


"Ghozi," panggil Kafa saat dia melihat Ghozi sedang duduk di tepi kolam tidak jauh dari tempat keduanya berada.


"Apa?" tantang Ghozi dengan tatapan penuh keberanian tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Ngapain kamu di situ? jangan bilang sejak tadi kamu menguping pembicaraan kita!" ujar Kafa.


"Salah sendiri ngobrol gak lihat-lihat, sebelum kalian datang aku sudah ada di sini kali," Ghozi yang meraa tidak bersalah membuat pembelasn.


"Kenapa kamu diam saja? kenapa tidak bilang dari tadi?" Kafa masih tidak terima jika Ghozi berada di sana sejak tadi dan mengetahui segalanya.


"Siapa juga yang mau terjebak di sini dan menjadi obat nyamuk yang sedang menjaga sepasang kekasih yang kasmaran," ujar Ghozi yang terlihat tidak mau kalah dengan Kafa yang berusaha memojokkannya.


"Sudah sana pergi! ngapain masih di situ?" usir Kafa yang tak ingin Gjozi kembali melihat kemesraan keduanya.


"Kenapa jadi aku yang di usir? kalian saja yang pergi, bukankah Intan masih menunggu Neng Salma di dapur?" Ghozi tak mau kalah dengan Kafa yang menyuruhnya pergi begitu saja.


"Sudahlah! jangan bertengkar lagi! lebih baik sekarang Mas Kafa pergi atau duduk bareng Ghozi, aku mau ke dapur untuk menemui Intan." Salma yang tak ingin keduanya terus bertengkar akhirnya memilih mengalah dan pergi menuju dapur di mana Intan sudah menunggunya, sedang Kafa akhirnya memilih bergabung bersama Ghpzi yang sedang menikmati sepiring cemilan dan secangkir kopi yang baru saja dia tuangkan dari teko kecil yang ada di hadapannya.


"Ngapain Mas Kafa ke sini?" tanya Ghozi menatap aneh ke arah Kafa.

__ADS_1


__ADS_2