Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Diam Di Rumah


__ADS_3

"Sudahlah, aku malas berdebat," ujar Salma.


Kafa langsung duduk mengambil kripik kentang yang berada di tangan Kafa dengan gerakan cepat hingga sang empu terkejut karenanya.


"Astaghfirullah, Mas Kafa!!" protes Salma saat Kafa mengambil kripik yang siap masuk ke dalam mulut tanpa permisi.


"Kenapa, kaku mau yang ini?" sahut Kafa sambil menunjukkan sisa kripik yang dia gigit ke arah Salma.


"Ogah," ujar Salma seraya mengambil kripik lain yang masih ada di bungkusnya.


"Hay Neng Salma! sudah sehat?" kali ini Ghozi menyapa Salma dengan senyuman penuh keramahan dan perhatian, dia datang dari kamarnya.


"Alhamdulillah, sudah Ghozi," jawab Salma yang ikut tersenyum sebagai tanda jika Salma menyambut baik kehadiran Ghozi.


"Neng Salma lagi makan apa?" Ghozi kembali bertanya sambil duduk tak jauh dari tempat Kafa dan Salma duduk.


"Udah tahu lagi makan kripik, masih aja nanya," sela Kafa yang merasa kurang suka dengan basa-basi yang di lakukan oleh Ghozi.


"Aku tahu Neng Salma lagi makan kripik, yang aku tanyain makan kripik apa?" Ghozi tak mau kalah dengan Kafa, dia tidak habis akal untuk melawan ucapan Kafa


"Aku lagi makan kripik singkong Ghozi, apa kamu mau?" tawar Kafa dengan senyum manis yang terlihat jelas di wajahnya.


"Boleh, kalau di kasih," jawab Ghozi yang sengaja membuat Kafa jengkel karenanya.


"Issshhh enak aja, ambil sendiri di lemari sana! ngapai juga minta punya istriku." Larang Kafa yang langsung memegang tangan Salma mencegahnya mengambilkan makanan untuk Ghozi.


"Berbagi sedikit tidak akan membuatmu rugi Mas Kafa, bagilah sedikit aja! pelit amat," ujar Ghozi menggelengkan kepala melihat sikap Kafa yang telihat seperti anak kecil yang melarang Ibunya memberikan makanan pada orang lain.


"Biarin, aku gak peduli," sahut Kafa acuh.

__ADS_1


"Ishhh dasar Mas Kafa," ujar Ghozi yang langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Kafa dan Salma menuju lemari di mana Mbok Sumik biasanya menyimpan makanan ringan untuk di makan seisi rumah.


Ghozi berjalan kembali duduk di meja makan di mana tadi dia duduk. Kafa hanya menatap jengah melihat sikap Ghozi yang selalu seenaknya sendiri.


"Mbok makan malam dengan menu apa kita hari ini?" Salma yang melihat ada sinyal kurang baik dari Kafa memilih untuk menghindar dan menjauh dari kedua makhluk yang memiliki tingkat keribetan paling tinggi.


Salma memilih mendekat ke arah Mbok Sumik yang sedang menyiapkan makan untuk malam nanti.


"Hari ini Mbok spesial masak rendang untuk Neng Salma," jawab Mbok Sumik dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Hmm, pantas saja sejak tadi aku mencium aroma lezat bercampur gurih, ternyata Mbok masak rendang," ujar Salma semakin mendekat melihat apa yang sedang di masak sekarang.


"Sini Mbok aku bantuin!" pinta Salma agar Mbok Sumik memberikan sepatula yang ada di tangannya.


"Jangan Neng! Mbok gak ingin kena semprot Mas Kafa, lebih baik Neng Salma istirahat saja atau Neng Salma bisa berjemur menikmati senja di sore hari.


"Aku lagi malas untuk tidur Mbok, sejak tadi aku tidur mulu, kalau aku bersantai menikmati senja sendirian mana seru Mbok," ucap Salma.


Mendengar ucapan Mbok Sumik membuat Salma berfikir sesuatu yang belum peenah terfikirkan sebelumnya, dia langsung berjalan mendekat ke arah Kafa dan meninggalkan Mbok Sumik yang kini melanjutkan masaknya dengan tenang, mana mungkin Mbok Sumik mengizinkan Salma membantunya masak, sedang kan Kafa sampai rela berkotor-kotor untuk memasakkan Salma yang menurutnya belum sembuh itu.


"Mas!" panggil Salma saat dia sudah duduk di kursi yang tadi dia tempati.


"Ada apa?" sahut Kafa.


"Emmm aku ingin pergi ke pantai," Salma mengutarakan keinginannya.


"Mau ngapain ke pantai Salma?" tanya Kafa merasa aneh karena Salma tiba-tiba mengajak Kafa pergi ke pantai.


"Aku ingin menikmati senja dan suara deburan ombak yang pasti bisa bikin hati dan juga fikiran tenang, di tambah dengan pemandangan indah di pantai bisa membuat mataku kembali fresh," Salma mengatakan apa yang ada di fikirannya, membayangkannya saja sudah membuat perasaan Salma merasa jauh lebih bahagia, bagaimana jika itu benar terjadi, Salma akan sangat bahagia karenanya.

__ADS_1


"Baiklah, besok kita ke pantai." Kafa menyanggupi apa yang Salma inginkan, melihat binar kebahagiaan yang terpancar jelas di mata Salma membuat Kafa luluh dan langsung mengiyakan tanpa banyak berfikir lagi.


Bagi Kafa saat ini kebahagiaan Salma adalah prioritasnya, Kafa merasa bahagia saat dia melihat Salma tersenyum senang, dan Kafaingin senyum itu terus terlihat hingga mereka tua nanti.


"Mas Kafa serius?" Salma yang terkejut dnegan persetujuan Kafa langsung menanyakannya.


"Kapan aku pernah berbohong padamu Salma?" tanya Kafa mencoba meyakinkan dirinya jika Kafa tidak berbohong.


"Alhamdulillah, aku akan ke pantai besok," Salma langsung memeluk Kafa dari samping saking senangnya.


"Aku juga mau di peluk gitu," ujar Ghozi yang kini sedang memangku wajahnya dengan kedua telapak tangan melihat ke arah Kafa yang mendapat pelukan tiba-tiba.


"Enak aja, pelukan ini khusus untukku," ujar Kafa memegang erat kedua telapak tangan Salma yang kini berada di lengannya.


"Apa besok aku juga di ajak?" tanya Ghozi.


"Tentu saja, kamu dan Mbok Sumik harus tetap ikut, kamu bisa bergantian menyupir denganku dan Mbok Sumik bisa memperhatikan Salma dan membantunya mempersiapkan barang apa saja yang perlu di bawa," Kafa menjelaskan alasan dirinya mengajak Ghozi dan Mbok Sumik.


"Kalau gitu caranya gak bakal seru donk," keluh Ghozi.


"Tetap akan seru, kamu nanti bisa jalan-jalan sendiri di sana, dan Mbok Sumik juga seperti itu, karena aku juga akan membawa anak Mbok Sumik yang kuliah di sini," Kafa kembali menjelaskan apa yang harus di lakukan Ghozi dan Mbok Sumik.


Mbok Sumik memang memiliki seorang anak laki-laki yanh sednag kuliah di kota, demi mengejar cita-citanya dia mampu membayarnya.


"Loh, Mbok Sumik punya anak Mas? kenapa aku tidak tahu Mas?" tanya Salma yang tak pernah bertemu dengan putera Mbok Sumik yang ternyata kuliah di kota yang sama.


"Kamu tidak pernah tanya," jawab Salma santai.


"Ishh seharusnya aku tahu kalau Mbok Sumik punya anak, aku kan bisa kenalan, dan aku bisa punya teman di rumah yang sepi ini" ujar Salma.

__ADS_1


"Jangan macam-macam mau kenalan ataupun menghabisakan waktu bersama anak Mbok Sumik, aku akan melarangnya datang kemari jika itu terjadi," Kafa mencoba mengingatkan Salma agar tidak macam-macam, Kafa ingin Salma diam di rumah.


__ADS_2