Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Aku Bukan Bahan Taruhan


__ADS_3

"Mas Kafa sedang apa di sini?" tanya Salma setelah melihat Kafa duduk termenung melihat ke arah jalan raya yang terlihat masih lenggang dan tak ramai seperti biasanya.


Kafa hanya melihat sekilas ke arah Salma kemudian kembali menatap jalan di bawahnya, Kafa terlihat enggan untuk menanggapi ucapan Salma.


"Apa Mas Kafa marah padaku?" pertanyaan konyol yang muncul begitu saja dari mulut mungil milik Salma.


"Kamu fikir saja sendiri," jawaban yang cukup membuat Salma bingung untuk menghadapi Kafa yang sedang marah padanya.


"Maaf kalau aku punya salah, aku minta maaf Mas," ucap Salma berharap Kafa luluh dengan perkataannya.


"Dengar Salma! aku bukan bahan taruhan yang bisa di perebutkan seperti apa yang kalian sepakati, aku manusia biasa yang punya rasa dan hati, bagaimana kalian bisa menjadikanku bahan taruhan tanpa persetujuan aku?" ujar Kafa yang sebenarnya tak tega jika harus mendiamkan Salma terlalu lama.


"Maaf Mas, hanya ini satu-satunya cara agar Intan bisa pergi dari kehidupan kita," ujar Salma.


"Iya kalau kamu yang menang kalau sampai dia yang menang bagaimana?" sahut Kafa dengan emosi yang menggebu.


"Aku pasti menang Mas," Salma mencoba meyakinkan Kafa jika dirinya pasti bisa memenangkan pertandingannya.


"Intan bukan gadis biasa Salma, dia sudah jago di bidang balapan, apa kamu sanggup melawannya? sedang kamu sendiri tak pernah ikut balapan seperti itu," Kafa menjelaskan keraguannya pada Salma.


"Kalau begitu ajari aku samapai aku bisa seperti Intan," permintaan yang sungguh menjengkelkan bagi Kafa yang benar-benar enggan melihat Salma berada di arena balap di kerubungi banyak orang, apa lagi jika yang melihat dan berada di sampingnya seorang laki-laki bagaimana Kafa bisa menahan diri?


"Jika aku bilang tidak tetap tidak, tak ada yang boleh melawan ataupun melanggarnya!" Kafa memberi peringatan pada Salma yang hanya bisa diam dan tak lagi bisa menjawab ucapan Kafa.


Kafa berdiri meninggalkan Salma kemudian pergi entah ke mana, saat ini Kafa terlihat begitu marah atas keputusan yang sudah di buat oleh Salma tanpa persetujuannya.


"Sepertinya Mas Kafa benar-benar marah," gumam Salma yang kini berganti menatap jalanan yang ada di bawahnya.

__ADS_1


Di Pesantren ....


Ummi baru saja selesai memasak, seperti biasa Tari membantu setiap pekerjaan Ummi termasuk memasak.


"Semakin lama keahlianmu memasak semakin baik Tari, Ummi bangga padamu," ujar Ummi setelah menikmati satu menu baru yang di masakkan oleh Tari khusus untuk Ummi.


Tari pernah mengutarakan keinginannya agar bisa memasak makanan yang enak dan beragam, karena itulah Ummi menfasilitasi Tari sebuah ponsel yang bisa di pergunakan untuk melihat dan mempelajari berbagai resep makanan melewati sebuah aplikasi, dan alhasil sekarang Tari bisa memasak makanan yang cukup enak.


"Tari!" panggil Ummi saat dia melihat Tari sesang mencuci tangan setelah memasak.


"Iya, Ummi," jawab Tari berjalan mendekat ke arah Ummi.


"Panggilkan Caca!" titah Ummi.


Ummi sudah terbiasa memanggil Caca pada Sasa yang selama ini dekat dengan Tari.


Tari berjalan pelan menuju kamar memanggil Sasa yang ternyata sudah siap menunggun Tari. Sasa merupakan santri yang paling kecil di antara para santri yang lain, karena itulah Ummi memberi keistimewaan untuknya, biasanya kalau santri yang lain makan di kantin, maka berbeda dengan Sasa yang makan di rumah Ummi bersama keluarga Ummi.


"Sa! di panggil Ummi," ujar Tari setelah sampai di depan kamar dan melihat Sasa duduk manis di teras kamar.


"Apa makanannya sudah siap?" sahut Sasa yang langsung mengutarakan pertanyaan mewakili perutnya yang sudah lapar.


"Sudah, ayo makan!" jawab Tari memberi isyarat agar Sasa mengikuti langkahnya.


"Kali ini siapa yang masak? Ummi atau Mbak Tari?" tanya Sasa dengan wajah berbinar.


"MbakTari yang masak," jawab Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Asyiiik, ayo Mbak makan!" Sasa terlihat begitu senang setelah mendengar Tari yang memasak kali ini.


Keduanya berjalan pelan menuju rumah Ummi untuk makan bersama, Ummi yang biasanya hanya makan berdua saja kini terasa jauh lebih ramai setelah ada Sasa dan Tari yang ikut makan bersamanya.


"Sasa, masuklah!" sambut Ummi, dia merasa kasihan melihat nasib Sasa yang sudah di tinggal sang Ibu di usia yang masi sangat kecil.


"Ummi, aku mau makan banyak hari ini," ucap Sasa penuh dengan semangat yang terlihat menggebu.


"Kenapa mau makan banyak? kok tumben?" tanya Ummi yang merasa aneh ketika Sasa mengutarakan keinginannya untuk makan banyak hati ini, biasanya Sasa selalu bilang mau makan sedikit karena tak ingin berubah menjadi gendut gara-gara kebanyakan makan, tapi hari ini Sasa langsung meminta makan banyak dan hal itu membuat Ummi terkejut.


"Aku mau makan banyak karena Mbak Tari yang memasaknya," jawab Sasa.


Ummi tersenyum lebar mendengar jawaban polos dari bibir mungil milik Sasa, Ummi sangat tahu jika Sasa mendambakan seorang Ibu yang seperti Tari, tapi Ummi tidak mungkin menjodohkan Tari dengan ayah Sasa yang berstatus sebagai duda, kecuali jika Tari sendiri yang memintanya, maka Ummi akan menikahkan keduanya dengan senang hati dan do'a restu yang pasti di berikan untuk Tari dan ayah Sasa.


"Baiklah, hari ini khusus untuk Sasa, Ummi yang akan ambilkan makanannya." Ujar Ummi dengan senyum yang tak pernah luntur, sedang Abah hanya tersenyum melihat sikap istrinya, sejak dulu Abah tahu jika Ummi sangat mengidamkan seorang anak perempuan, tapi apalah daya takdir tak memihak pada Ummi, dia tak bisa punya anak lagi setelah melahirkan Kafa.


"Apa aku boleh makan banyak Abah?" tanya Sasa dengan wajah penuh harap, Sasa bertanya karena sejak tadi Abah hanya melihat dirinya yang sedang menunggu Ummi mengambilkan makanan untuknya.


"Tentu saja, Abah akan sangat senang jika melihat Sasa makan dengan lahap dan banyak," jawab Abah dengan senyum yang mampu membuat siapapun senang karenanya.


"Terima kasih Abah," ucap Sasa dengan pipi yang menggembung karena saat ini Sasa sedang memakan masakan Tari yang menurutnya sangat enak.


Makan sore saat ini terasa begitu nikmat dan menyenangkan, Sasa terlihat sangat lahap menikmati makanan yang di masak oleh Tari, sedang Ummi selalu tersenyum melihat Sasa yang begitu lahap.


"Sudah biarkanlah di situ saja! tidak usah di bersihkan, nanti Ummi yang akan membersihkannya." Larang Ummi saat melihat Tari hendak mencuci piring sisa makanan.


"Tapi Ummi, biarkan Tari saja yang membersihkannya. Tari tidak mau Ummi kecapek'an," sahut Tari.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih sudah mau membantu Ummi dan menemani Ummi selama Kafa dan Salma pergi, Ummi senang ada kamu di sini, Ummi tidak kesepian lagi," ujar Ummi mengusap pelan lengan Intan yang berdiri di sampingnya.


__ADS_2