
Ghozi yang tak bisa menghentikan Tari memilih untuk diam seribu bahasa, dia tidak bisa menahan Tari lebih Lama lagi.
'Kenapa aku selalu memiliki saingan untuk mendapatkan gadis yang aku Sayang?' batin Ghozi yang terus mengeluh merasakan apa yang sedang terjadi sambil menghembuskan nafas kasar.
Ghozi yang tak berdaya kembali melanjutkan pekerjaannya, sedang Tari berjalan mengikuti langkah Sasa yang lebih dulu berjalan di hadapannya menuju rumah Ummi.
"Assalamualaikum, Ummi!" panggil Sasa dengan suara cukup keras, dia terlihat begitu bersemangat saat ini.
"Pesankan suaramu Sasa!" titah Tari dengan suara lembut penuh kasih sayang.
"Kenapa aku harus pelankan suara Mbak? aku sedang bersemangat saat ini, dan aku ingin Ummi segera tahu kalau aku datang dan segera keluar menemuiku," ujar Sasa dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran dia menatap Tari.
"Seorang gadis itu harus bersikap lemah lembut, kalau berteriak bukan gadis namanya," tutur Tari sambil menatap lekat ke arah Sasa yang sedang diam melihat ke arahnya.
"Kalau bukan gadis, terus apa namanya Ummi?" Sasa yang tak pernah puas jika tidak mendapatkan jawaban yang melegakan hatinya terus saja bertanya.
__ADS_1
"Kalau teriak-teriak itu bukan perbuatan seorang gadis, tapi tukang bakso," jawab Tari dengan tegas.
"Waalaikum salam," sahut Ummi yang baru membukakan pintu, padahal Tari dan Sasa sudah cukup lama menunggu di depan pintu.
"Ummi ke mana saja?" tanya Sasa menoleh ke arah Ummi yang baru melihatnya muncul dari balik pintu dan melupakan perdebatan yang tadi terjadi.
"Ummi tadi ada di kamar mandi, tapi suara Sasa terdengar menggema dan penuh semangat, ada apa Sayang?" tanya Ummi sambil mencubit pelan pipi Sasa yang terlihat menggembung.
"Ummi, Daddy Sasa sudah datang dan Sasa ingin merayakan ulang tahun bersama dengan Ummi dan Mbak kamar lainnya, apa boleh Ummi?" tanya Sasa dengan wajah berbinar dan penuh kebahagiaan menatap harap ke arah Ummi.
"Apa Ummi setuju kalau Sasa mengadakan acara di depan kantor?" tanya Sasa dengan wajah penuh harap dia berucap.
"Tentu saja, Ummi akan setuju selama itu tidak mengganggu kegiatan di pesantren," jawab Ummi dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Ummi tidak akan pernah tega menolak permintaan Sasa yang terus saja menatap penuh harap ke arah Ummi.
"Asyik, akhirnya aku bisa merayakan ulang tahun dengan keluarga yang lengkap," seru Sasa dengan wajah penuh gembira dia berucap, sedang Ummi dan Tari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Ketiganya berjalan menuju balai di mana Daddy Sasa sedang berdiri menunggu sang putri yang tadi berpamitan untuk menyusul Ummi dan Mbak Tari.
"Daddy!!" Sasa berlari kencang menghampiri Daddy nya yang langsung merentangkan tangan memberi tanda jika Sasa bisa memeluk sang Daddy.
"Puteri kesayangan Daddy," sahut Daddy Sasa yang kini tengah memeluk erat sang puteri.
"Daddy, Sasa sudah dapat izin dari Ummi untuk merayakan ulang tahun di depan kantor, apa Daddy sudah menyiapkan kuenya?" ujar Sasa dengan mata berbinar dan senyum yang tak pernah pudar.
"Tentu saja Sayang, Daddy sudah menyiapkan segalanya untukmu, tunggu sebentar! biar Daddy suruh Dimas menyiapkan segalanya." Ujar Daddy Sasa yang kini menurunkan Sasa dari gendongannya kemudian berjalan tempat parkir mobil.
Dari jauh terlihat sebuah mobil alph***rd keluaran terbaru berwarna putih terang terlihat sedang terparkir cantik di halaman pesantren, tak luput juga ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang duduk mengelilingi mobil itu.
Daddy Sasa terlihat begitu berwibawa, dan tegas juga tampan, definisi duren sesungguhnya ada pada diri Daddy Sasa, hanya gadis bodoh yang tidak ingin menikah ataupun menggantikan posisi Mama Sasa di kehidupan keluarganya.
"Bawa keluar semua barangnya!" titah Daddy Sasa yang langsung di turuti oleh semua anak buahnya.
__ADS_1
Daddy Sasa datang dengan satu mobil Alp***rd yang di kendarai dirinya berisi satu kado cukup besar untuk Sasa, sedang tida mobil yang mengiringinya berisi makanan dan kue untuk merayakan ulang tahun Sasa, bagi sebagian besar santri ulang tahun Sasa saat ini di rayakan dengan meriah dan cukup mewah, tapi bagi Daddy Sasa, ulang tahun puterinya saat ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun Sasa saat ini sangat sederhana dengan biaya cukup murah, sangat berbeda dengan pesta ulang tahun Sasa di tahun sebelumnya, sangat mewah dan meriah karena dirayakan di hotel berbintang dan hanya orang-orang tertentu yang bisa datang untuk memberinya ucapan selamat maupun kado spesial yang pasti di peroleh oleh