Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Menemui Kafa


__ADS_3

Salma yang malas untuk menemui Kafa memilih untuk berlama-lama di kamar mandi, menikmati aroma shampo dan sabun yang menguar di seluruh tubuhnya, mandi seperti ini sudah cukup lama tidak dia rasakan, biasanya dia mandi dengan gerakan terburu-buru, entah itu karena ada yang mengantri, di panggil Ummi ataupun di tunghu Tari, saat ini keadaan kamar mandi sedang sepi hanya ada beberapa santri saja yang terlihat, dan Tari dia juga belum selesai melipat baju yang kemarin dia cuci, biasanya Tari akan melipat dan merapikannya saat itu juga, tapi kemarin Tari bilang malas untuk mengerjakannya, jadi hari ini pekerjaannya begitu menumpuk.


"Ahhh, leganya," ungkap Salma yang kini terlihat begitu segar setelah mandi dengan wajah yang berseri.


"Tumben kamu mandi lama banget?" tanya Tari yang ternyata sudah rapi terlihat sudah mandi dan memoles bedak di pipinya.


"Lagi pengen nikmati hidup Tari, jadi mandinya lama," jawab Salma.


"Tadi ada santri yang nyariin kamu, katanya di suruh cepetan!" tutur Tari.


"Iya, ini juga bentar lagi bakal ke sana." Jawab Salma santai.


"Emangnya kamu mau ke mana?" Tari kembali bertanya dengan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.


"Tadi di suruh nemuin Mas Kafa di halaman belakang," jawab Salma masih dengan santainya.


"Astaga, berarti sejak tadi kamu di tungguin sama Mas Kafan," seru Tari tak percaya jika sahabatnya itu masih terlihat santai saat Kafa sedang menunggunya.


"Iya," Salma masih saja menunjukkan wajah santai tanpa dosa ataupun takut.


"APa kamu gak takut di omelin atau di marahin sama Mas Kafa kalau kamu kelamaan datangnya?" tanya Tari dengan ekspresi penasaran yang tergambar jelas di wajahnya, bagaimanapun tadi pagi Salma bercerita tentang tenaganya yang habis gara-gara ngadepin Kafa.


"Tadi aku sudah bilang kalau aku ada di kamar mandi, kalau dia marah tinggal bilang aja aku tadi sakit perut makanya rada lama di kamar mandi, kan gampang," jawab Salma.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu pintar mencari alasan seperti itu?" tanya Tari heran mendengar ucapan Salma, ini pertama kalinya Tari mendengar Salma membuat alasan yang bukan sebenarnya, selama ini Salma selalu berkata jujur dan apa adanya.


"Intinya itu, aku harus bisa terlihat tegas di hadapan Mas Kafa, meskipun aku di sini hidup menumpang pada Ummi dan menerima perjodohan juga dari Ummi, tapi aku tetap terlihat kuat dan tegas agar Mas Kafa tidak memperlakukanku seenaknya," Salma menjelaskan apa yang ada di fikirannya dan apa yang terjadi harus di hadapi dengan segudang kekuatan.


"Kalau seperti itu aku setuju, semangat Salma!" Tari memberi semangat pada Salma agar dia semakin kuat menghadapi Kafa.


"Aku pergi dulu." Pamit Salma melenggang pergi meninggalkan Tari yang kini mulai membuka novel favoritnya.


"Ada apa Mas Kafa?" tanya Salma saat sampai di halaman, dia melihat Kafa sedang duduk menikmati secangkir kopi ditemani gorengan yang ada di sampingnya.


"Kenapa kamu lama sekali? kamu fikir aku gak punya kerjaan lain apa selain nungguin kamu?" protes Kafa dengan nada tidak bersahabat.


"Maaf, Mas Kafa yang terhormat, tadi perut saya sakit, jadi sedikit lebih lama di kamar mandi," Salma memberi alasansesuai dengan apa yang sudah dia rencanakan.


"Duduk!" sambung Kafa memberi perintah yang langsung di turuti oleh Salma tanpa protes ataupun bertanya, dia langsung menuruti perintah Kafa untuk duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.


Sejenak suasana menjadi hening, Kafa nampak diam memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia ungkapkan, sedang Salma hanya menunduk menyembunyikan wajah kesalnya setelah mendengar Kafa mbembentaknya.


"Apa sebelumnya kamu tahu tentang rencana Ummi yang mau menjodohkan kita?" satu pertanyaan terdengar dari bibir Kafa.


"Iya, aku mengetahuinya," jawab Salma cepat tegas dan jelas.


"Kenapa kamu tudak menolaknya?" Kafa kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah busa menolak keinginan Ummi yang sudah ku anggap seperti Ibuku sendiri," jawab Salma yang sukses membuat Kafa mengingat semua cerita yang pernah di ceritakan oleh Ummi.


"Bagaimana dengan Ghozi?" Kafa terus saja bertanya meluapkan segala perasaan yang mengganjal di hatinya.


"Mungkin dia bukan jodohku, jadi tak ada alasan untuk aku menerima Ghozi ataupun menolak permintaan Ummi karenanya, bagiku Ummi sudah seperti Ibuku sendiri setelah Ibu kandungku meninggal, jadi apapun yang beliau putuskan atau inginkan aku akan menurutinya dengan sepenuh hati," lagi-lagi Salma memberi jawaban tegas kepada Kafa.


"Bagaimana kamu bisa. menjalin rumah tangga tanpa ada rasa cinta? apa kamu mampu melaksanakan semua tugas seorang istri nanti?" Kafa terlihat menatap lekat ke arah Salma mencari kejujuran di sana.


"Aku yakin pada takdir yang telah di gariskan padaku, siapapun yang akan menjadi pendamping hidupku nanti, aku yakin kalau seiring berjalannya waktu rasa. cinta itu akan datang dengan sendirinya, karena aku menikah bukan dengan niat menyatukan rasa cinta yang ku yakini berdasarkan nafsu sesaat, tapi aku menikah karena ibadah, menjalankan sunnah dan mencari pahala sebanyak mungkin lewat pernikahan itu," kata-kata Salma benar-benar membuat Kafa diam tak bisa berkata lagi.


"Apa kamu siap menjadi istriku dan melayaniku sebagai seorang istri?" Kafa kini mulai bertanya lebih dalam tentang kesiapan Salma, karena Kafa ingin menikah sekali seumur hidupnya, meski dia belum mencintai ataupun menyayangi Salma, tapi dia juga tak busa menolak keinginan Ummi, dan Kafa jugabutuh alasan untuk melepas Intan.


"Siap atau tidak jika waktunya sudah tiba, aku akan tetap melaksanakan tugas dan kewajibanku sebagai seorang istri nanti," Salma masih menunjukkan wajah tegas dan kuat di hadapan Kafa, sekalipun saat ini perasaan Salma terasa campur aduk, jantungnya berdetak begitu kencang saat mendengar Kafa menanyakan kesiapannya untuk melayaninya sebagai seorang istri.


Fikiran Salma melayang jauh ke awan, membayangkan jika setiap pagi, sore dn malam hari dia akan terus melihat Kafa dan yang paling dia takuti ketika Kafa meminta hakny sebagai seorang suami, bagaimana bisa Salma melayaninya dengan baik jika melihatnya saja sudah membuat Salma takut bercampur emosi.


"Salma!" tegur Kafa saat melihat Salma diam dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan.


"Eh, iya, kenapa?" spontan Salma.


"Jika kamu tidak siap, katakan saja! aku akan membantumu berbicara pada Ummi sebelum semuanya terlambat," ujar Kafa.


"Tidak, aku tidak akan mengubah keputusanku, aku tak ingin mengecewakan Ummi," jawab Kafa.

__ADS_1


"Kamu tak ingin mengecewakan Ummi atau sebenarnya kamu memang inginmenikah denganku?" tanya Kafa yang sukses membuat Salma terkejut karenanya.


__ADS_2