
"Tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja," jawab Salma dari dalam rumah.
"Kenapa kamu teriak kalau baik-baik saja? kalau ada sesuatu yang terjadi kamu bisa ngomong sama aku," ujar Kafa dengan ekspresi penuh kekhawatiran dia berkata.
"Tidak, Mas, semua baik-baik saja, Mas tidak perlu khawatir! lebih baik sekarang Mas kembali duduk saja, aku mau lanjut mandi," sahut Salma mencoba meyakinkan suaminya yang sejak tadi terdengar begitu mengkhawatirkannya.
"Baiklah, hati-hati!" pesan Kafa sebelum dia pergi meninggalkan Salma yang melanjutkan aktifitasnya membersihkan diri.
Salma tadi berteriak bukan tanpa alasan, dia berteriak saat berada di depan cermin dan melihat jika saat ini dirinya hanya memakai baju dalam tanpa ada pakaian lain yang menempel di tubuhnya.
Salma yang terkejut spontan berteriak tanpa berfikir panjang, dalam benaknya dia tadi berjalan melewati Kafa dengan baju yang sungguh tidak pantas, meski Salma tahu dengan pasti jika apa yang di lakukan dirinya masih wajar-wajar saja karena ini bukan pertama kalinya Salma memakai pakaian seprti itu, tetap saja Salma merasa malu dan risih jika harus memakai baju seperti saat ini.
Jika Salma kembali melakukan aktifitasnya, maka berbeda halnya dengan Kafa yang kini duduk diam di sofa dekat kasur menatap lekat ke arah pintu kamar mandi mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi pada Salma, karena Kafa yakin kalau Salma tidak akan berteriak tanpa ada alasan.
"Salma kenapa ya?" gumam Kafa sambil terus menatap lurus ke arah pintu di mana Salma sedang mandi.
Salma hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan ritual mandinya, waktu yang mepet menjadi penyebab dirinya yang harus cepat-cepat menyelesaikan mandinya.
Kafa tidak langsung bertanya saat melihat Salma berjalan dengan cepat keluar dari kamar mandi dan segera meraih mukenah yang tersimpan rapi di dalam lemari kamar.
"Kamu kenapa tadi?" tanya Kafa, dia masih belum puas karena dia penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Tidak ada, aku hanya terkejut saja melihat busana yang aku pakai dan aku juga terkejut dengan banyaknya bekas merah hasil karyaku Mas," jelas Salma yang membuat Kafa tersenyum karenanya.
__ADS_1
"Tidak usah terkejut, karena aku sangat senang saat melihatmu memakainya," sahut Kafa.
"Kalau begitu aku akan pakai setiap hari," ucap Salma dengan senyuman licik yang menandakan jika Kafa sedang merencanakan sesuatu.
"Aku setuju, pakai saja busana seperti tadi setiap hari," Kafa mengatakannya penuh dengan semangat yang menggebu-geby.
"Aku akan memakainya di kamar ataupun di tempat-tempat yang lain, yang aku tahu aku akan memakai busana itu setiap waktu di manapun aku berada," ujar Salma dengan senyum yang mulai membuat Kafa kebakaran jenggot.
"Hey! mana boleh seperti itu, jangan pakai busana yang tadi jika berada di luar rumah! aku melarangku keras," larang Kafa yang terdengar begitu emosi saat mendengar Salma akan memakai busana yang pasti akan menjadikan Salma pusat perhatian itu.
"Susah, Mas Kafa gak konsisten, tadi bilangnya di suruh pakai setiap hari, tapi sekarang malah melarang aku untuk memakainya, padahal kalau menurut aku baju itu bagus kok di pakai, apa lagi kalau sedang berada di tepi pantai, aku pasti akan mirip dengan bule-bukd yang suka berjemur di sana.
"Jangan pernah punya fikiran akan memakai busana itu di luar kamar karena aku pasti akan mengurungmu seharian di kamar dan aku bisa pastikan kamu tidak akan pernah bisa berjalan normal setelahnya," ancaman yang selalu sukses membuat Salma takut, kejahilannya tiba-tiba sirna tak berbekas dan entah pergi ke mana saat mendengar kata keramat keluar dari bibir Kafa.
Sedang Kafa yang mendengar ucapan Salma langsung berdiri berjalan keluar dari kamar meninggalkan Salma karena moodnya yang tiba-tiba berubah, dia yang tadinya senang penuh dengan semangat langsung down setelah mendengar ucapan ekstrem dari Salma.
"Lah dia pergi," lirih Salma yang hanya bisa dia dengar sendiri, melihat tingkah lucu Kafa saat ini, sungguh rasanya Salma ingin tertawa melampiaskan segala kelucuan yang sedang terjadi di hadapannya, tapi Salma tak bisa melakukannya karena jika dia sampai melakukannya Salma khawatir Kafa akan murka dan mewujudkan ancaman yang baru saja di ucapkan.
Kafa berjalan menuju kolam menikmati suasana subuh yang masih terasa, dengan langit berwarna jingga di lengkapi dengan semilir angin yang menyejukkan, sedang Salma kini turun perlahan dari tangga, menikmati tubuhnya yang terasa begitu letih, tapi Salma tetap memaksakan diri untuk turun dan melihat Mbok Sumik sedang memasak di dapur.
"Loh Ummi kok ada di sini?" tanya Salma saat melihat Ummi sedang sibuk mengiris sayur wortel.
"Ummi sengaja bangun pagi karena ingin membantu Mbok Sumik memasak," jawab Ummi dengan senyum yang tak pernah luntur sejak kemarin.
__ADS_1
Binar kebahagiaan di wajah Ummi tak bisa di tutupi, Dia terlihat begitu bahagia dengan segala yang dia temui di hadapannya saat ini.
"Kamu juga ada di sini Tari," sambung Salma saat melihat Tari berdiri di samping Mbok Sumik dan membantunya menggoreng ikan.
"Aku akan selalu ada di manapun Ummi berada, benar Kan, Ummi?" jawab Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Tentu saja," sahut Ummi yang menoleh ke arah Tari sambil menunjukkan jempolnya ke arah Tari tanda jika dia setuju dengan apa yang di katakan oleh Tari.
"Seharusnya Ummi istirahat, perjalanan dari pesantren ke sini cukup jauh Ummi," ucap Salma yang kini duduk di samping Ummi membantunya mengupas sayur yang ada di hadapannya.
"Sudah tidak apa-apa, Ummi sudah lama tidak memasak untuk kamu dan Kafa karena itulah hari ini Ummi ingin memasak untuk kalian," Ummi menjelaskan alasan dirinya membantu Mbok Sumik memasak hari ini.
Salma tak bisa lagi menolak ataupun mendebat ucapan Ummi, dia hanya bisa diam dan ikut membantu yang lain agar apa yang di masak bisa cepat selesai dan matang.
Suasana pagi penuh kebahagiaan dan kehangatan.
"Salma!" panggil Ummi saat melihat Salma baru saja selesai menata piring di atas meja.
"Iya, Ummi," sahut Salma berjalan mendekat ke arah Ummi yang baru saja mencuci tangannya setelah selesai memasak.
"Tolong panggilkan Kafa dan kamu Tari," jawab Ummi.
"Iya, Ummi," Tari yang sejak tadi sibuk menaruh peralatan yang baru saja dia pakai kini menghentikan kegiatannya dan di teruskan Mbok Sumik.
__ADS_1
"panggil Ghozi! kita makan bersama," titah Ummi yang mendapatkan anggukan kepala tanda jika Tari bersedia melakukan apa yang Ummi printahkan.