
"Astaga!!! Salma!!" teriak Intan berlari mendekat ke arah Salma saat dia baru saja memasukkan ayam yang sudah matang ke dalam tempat penggorengan.
"Kenapa Intan?" tanya Salma keheranan melihat Intan meloncat dan mendekat ke arahnya dengan langkah yang sangat lebar.
"Apa kamu gak lihat? ayamnya meletup-meletup, bagaimana kalau letupannya terkena wajah? bisa rusak wajahku," jawab Intan yang sukses membuat Salma tersenyum karenanya.
"Kamu tidak perlu takut! tinggal di tutup pakai ini letupannya gak bakal mengenai kamu kok," ujar Salma seraya menutup ayam yang sedang berendam di dalam minyak goreng dengan letupan-letupan syahdu. Sedangkan Intan malah bersembunyi di balik badan Salma tepat di punggungnya.
"Sudahlah, jangan takut! ini hanya letupan kecil tidak ada apa-apanya dengan api neraka yang akan membakar ummat manusia yng tidak taat," ucap Salma yang sukses membuat Intan melotot karenanya.
"Apa maksudmu?" tanya Intan dengan wajah yang di penuhi amarah bercampur penasaran.
"Aku tidak bermaksud apapun, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan, tidak lebih kok," jelas Salma yang tidak ingin Intan berfikir yang macem-macem.
Ucapan Salma yang sebenarnya hanya spontanitas begitu mengena di hati Intan, entah mengapa dia tidak bisa melawan ataupun menolak ucapan Salma, Intan merasa Salma memiliki sesuatu yang tidak di miliki oleh orang lain, kelembutan hatinya memberikan ketenangan bagi siapapun yang berada di sisinya, tutur kata yang lembut senyum yang menenangkan membuat Intan merasa tenang berada di samping Salma.
"Mbak Intan!" panggil Salma saat melihat Intan terdiam dengan tatapan kosong menatap ke arah depan tanpa berkedip.
"Mbak!" kali ini Salma mencolek lengan Intan berharap sang empu segera sadar dan menyahuti panggilannya.
"Eh, maaf," sahut Intan.
Salma tersenyum mendengar kata maaf lolos begitu saja dari bibir Intan yang biasanya terdengar ketus dan seenaknya sendiri, kini dia meminta maaf tanpa banyak berfikir.
"Sudah tidak apa-apa Mbak, ayo kita masak lagi!" ajak Salma dengan tutur bahasa penuh kelembutan yang pasti akan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa senang dan tenang.
Awalnya memang canggung hingga keduanya larut dan tak lagi merasakan kecanggungan, soto ayam dan jamur crispy sudah siap untuk di makan.
"My Honey ada di mana ya?" tanya Intan pada Salma.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin dia ada di kamar atau di ruang keluarga," jawab Salma.
"Eh, Mbak Intan mau ke mana?" tanya Salma seraya menarik lengan Intan yang berjalan hendak meninggalkan Salma di dapur.
"Aku mau nyari My Honey, emangnya kenapa?" tanya Intan yang saat ini menghentikan langkahnya karena Salma menarik lengannya.
"Biar aku saja yang nyari Mas Kafa, bukankah Mbak Intan habis masak, lebih baik Mbak Intan mandi dan ganti baju biar wangi," ujar Salma mencoba mencegah Intan agar tidak menghampiri Kafa yang mungkin sedang berada di kamarnya dan bodohnya Intan kembali terpengaruh oleh ucapan Salma.
"Kamu benar juga, apa kamu punya baju ganti?" tanya Intan.
"Tunggu di sini ya Mbak! biar aku ambilkan." Pinta Salma melangkah keluar dari dapur menghampiri Mbok Sumik di kamarnya. Berharap di sana ada baju yang baru di setrika karena sangat tidak mungkin Salma mengambil baju di kamar Kafa, Intan bisa curiga jik itu terjadi.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini," sahut Intan yang kini duduk di meja makan menatap semua makanan yang baru saja dia masak bersama Salma.
"Ternyata Salma jago juga masaknya, gak nyangka aku anak seorang kiyai besar yang tajir bisa semandiri itu," lirih Intan.
"Kami siapa?" tanya Intan yang bari pertama kali melihat Ghozi di rumah Kafa.
"Perkenalkan aku Ghozi sahabat sekaligus murid dari Abah orang tua Kafa," jawab Ghozi memperkenalkan diri.
"Kamu ngapain di sini? kenapa tidak belajar di pesantren? bukankah kamu murid Abah?" tanya Intan seraya mengerutkan dahi bingung dengan keberadaan Ghozi, seharusnya seorang murid itu ada di sekolah sana seperti seorang santri yang seharusnya berada di pesantren bukan malah mengekor putera gurunya pergi dari pesantren, itulah yang ada di fikiran Intan saat ini.
"Aku di beri tugas untuk menjaga Neng Salma, jadi siapapun yang berlaku kurang ajar atau berniat jahat padanya maka aku akan berada di barisan paling depan untuk melindunginya." Ujar Ghozi menatap sengit ke ara Intan yang justru membuat sang empu merasa bingung dengan tatapan dan sikap Ghozi padanya.
"Wah enak sekali Salma, dia punya penjaga yang terlihat sigap sepertimu," ucap Intan.
"Tentu saja dia putri kesayangan Ummi, dan gadis paling baik juga lembut yang pernah aku temui, wajar saja jika dia mendapat perlindungan dariku," Ghozi terus saja menyanjung Salma dan Intan hanya diam mendengar pujian yang keluar dari bibir laki-laki yang baru saja dia kenal.
"Mbak Intan!" panggil Salma.
__ADS_1
"Iya, mana bajunya!" sahut Intan menengadahkan tangan meminta baju yang sempat dia pesan tadi.
"Ini bajunya." Salma memberikan satu setel gamis ke arah Intan yang kini menatap aneh ke arah baju yang di sodorkan padanya.
"Ini baju Salma?" tanya Intan.
"Tentu saja Mbak," jawab Intan.
"Kamu gak salah ambil kan?" tanya Intan merasa aneh dengan baju yang di bawa oleh Intan.
"Tidak, ini namanya gamis, baju panjang yang sama seperti yang aku pakai ini," jelas Salma.
"Astaga, aku akan kepanasan kalau memakai baju sepanjang ini Salma," keluh Intan yang sudah terbiasa memakai baju kurang bahan seperti saat ini.
Saat ini Intan memakai celana pendek yang si padukan dengan kaos lengan panjang yang hampir menutupi seluruh celana jeansnya.
"Coba dulu Mbak! baru Mbak Intan bisa tentuin apa Mbak busa pakai baju ini atau tidak," Salma kembali mencoba meyakinkan Intan untuk memakai baju yang tadi dia pilih.
""Baiklah, aku akan mencobanya!" ujar Intan meraih baju yang ada di tangan Salma.
Intan yang memang sering sekali ke rumah ini sangat hafal dengan kamar mandi yang ada di rumah ini, Intan memang bebas nisa ke mana saja saat berada di rumah Kafa, tapi Intan sangat di larang untuk pergi ke lantai dua di mana kamar Kafa berada, si lantai dua area khusus yang tidak boleh di datangi siapapun kecuali orang-orang yang sudah mendapat izin dari Kafa.
Setelah melihat Intan masuk ke dalam kamar mandi, Salma langsung berjalan cepat menuju lantai dua untuk mandi dan berganti baju, sekaligus memberi tahu Kafa jika makanan yang dia pesan tadi pagi sudah selesai di buatkan oleh Salma sendiri.
"Siapa yang masak?" tanya Kafa yang merasa kurang senang jika yang memasak jamur yang dia pesan adalah Intan.
"Tadi yang masak jamur akua Mas, Intan hanya memasak soto saja," jelas Salma.
"Baiklah, aku turun dulu. Kamu cepatlah menyusul!" ujar Kafa berjalan keluar dari kamar berjalan santai menuju ruang makan di mana ada Ghozi yang sedang duduk santai sambil memainkan ponsel di meja makan.
__ADS_1