Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sikap Aneh Kafa


__ADS_3

Waktu terus berlalu, jam dinding terus saja berputar ke kanan meninggalkan setiap kenangan yang telah terjadi sebelumnya, Kafa merasa begitu bersemangat setelah tadi siang Salma menyanggupi apa yang dia inginkan.


"Mas Kafa mau makan apa?" tanya Salma yang heran dengan sikap Kafa saat ini, suaminya itu terlihat begitu bersemangat dan selalu menatapnya penuh cinta.


"Apapun yang kamu ambilkan aku akan memakannya," jawab Kafa enteng sambil terus menatap wajah teduh milik Salma.


Jawaban Kafa sukses membuat Mbok Sumik dan Ghozi terkejut, begitupun dengan Slama yang heran mendengar jawaban Kafa.


"Mas Kafa baik-baik saja bukan?" tanya Salma menatap heran ke arah Kafa yang justru tersenyum manis ke arahnya.


"Tentu saja aku baik-baik saja, memangnya aku terlihat tidak baik Salma," sekali lagi Kafa menjawab pertanyaan Salma dengan santai.


"Tidak, mungkin cuma perasaanku saja," ujar Salma.


"Memangnya kenapa perasaanmu? apa kamu merasakan sesuatu saat melihatku?" Kafa terlihat semakin aneh saat ini.


"Tidak, sudahlah, lebih baik Mas Kafa makan dulu!" Salma yang tak ingin terus mendengar ucapan Kafa yang semakin lama semakin ngelantur memilih untuk mengakhirinya dan mulai menyantap makanan yang sudah di masak oleh Mbok Sumik.


Ghozi yang merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Kafa mengangkat sedikit wajahnya memberi isyarat jika dirinya ingin tahu apa yang di lakukan Kafa saat ini? isyarat itu di tujukan pada Salma yang justru mengedikkan bahu tanda jika dia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Kafa.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," lirih Kafa setelah menghabiskan satu piring penuh makanan yang sudah di ambilkan oleh Salma.


"Kamu mau ke mana Salma?" sambung Kafa saat melihat Salma berdiri hendak pergi dengan setumpuk piring kotor.


"Aku ingin bantu Mbok sumik membereskan semua ini Mas," jawab Salma santai.

__ADS_1


"Khusus untuk hari ini, biar Mbok Sumik mengerjakan semuanya sendiri, jangan membantunya! lebih baik kamu bersiap untuk sholat isya'!" larang Kafa.


'Kok tumben Mas Kafa melarangku membantu Mbok Sumik, sejak tadi sikapnya benar-benar aneh,' batin Salma.


"Salma! apa kau dengar itu?" tanya Kafa saat dia tidak mendengar jawaban dari Salma.


"Iya, aku mendengarnya Mas Kafa," jawab Salma meletakkan setumpuk piring kotor yang tadi ada di tangannya.


Salma berjalan menuju ruang khusus untuk mengambil air wudhu' kemudian duduk dengan tenang menunggu adzan isya' yang memang akan berkumandang sebentar lagi.


"Mbok, apa Mbok tahu Mas Kafa kenapa ya? sikapnya tadi benar-benar aneh," tanya Ghozi pada Mbok Sumik yang di yakini pasti tahu tentang perubahan sikap Kafa tadi.


"Setahu Mbok, kalau Mas. Kafa bersikap seperti itu, berarti dia tengah jatuh hati, dan Mbok sangat yakin kalau sekarang Mas Kafa sedang kasmaran menikmati rasa cinta yang sedang tumbuh merekah dalam hatinya," jawab Mbok Sumik yang terdengar puitis.


"Sejak kapan Mbok Sumik jadi puitis seperti ini?" tanya Ghozi yang justru di buat heran dengan jawaban Mbok Sumik yang memang terdengar puitis.


"Terserah Mbok sajalah, aku mau ke kamar." Pamit Ghozi.


"Loh kok ke kamar Mas Ghozi?" cegah Mbok Sumik.


"Memangnya aku harus ke mana Mbok?" Ghozi menjawab pertanyaan Mbok Sumik dengan pertanyaan lain.


"Bukankah sebentar lagi waktunya sholat isya'? kenapa Mas Ghozi tidak ikut sholat berjamaah beragama Mas Kafa dan neng Salma di mushollah?" Mbok Sumik mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Aku tidak mau jadi obat nyamuk atau mengganggu mereka yang lagi kasmaran, lebih baik aku ke kamar dan sholat di sana, Mbok juga, lebih baik melakukan hal yang sama dari pada harus jadi obat nyamuk di sana." Jelas Ghozi.

__ADS_1


Mbok Sumik berdiri mematung memikirkan apa yang di katakan Ghozi memang ada benarnya, meskipun Mbok Sumik diam dan tak lagi menyahuti ucapan Ghozi, tapi dia sangat mengerti maksud dari ucapan Ghozi, tanpa banyak bicara lagi mbok Sumik langsung berjalan menuju kamarnya dan melakukan hal yang sama seperti apa yang di katakan oleh Ghozi.


"Mas, Mbok Sumik dan Ghozi ke mana? kenapa cuma kita berdua saja yang sholat di sini?" tanya Kafa yang heran melihat Ghozi dan Mbok Sumik tak ikut berjamaah seperti biasanya.


"Mungkin mereka sholat di kamar," jawab Kafa yang tak ingin ambil pusing ke mana dua makhluk yang biasanya selalu hadir saat keduanya bersama.


"Kok tumben, bukankah biasanya mereka ikut berjamaah bareng kita?" apa yang terjadi justru membuat Salma heran dan bingung, karena biasanya Ghozi dan Mbok Sumik selalu terlihat bersemangat saat akan melaksanakan sholat berjamaah bersama di mushollah rumah.


"Sudah jangan di fikirkan! mungkin mereka lelah dan ingin segera beristirahat," Kafa uang tak ingin Salma berfikur yang tidak-tidak memilih untuk mengakhiri obrolan dan mulai menjadi imam bagi Salma, mengingat waktu sholat isya' sudah datang, dan Kafa yang ingin menunaikan kewajibannya sebagaiseorang suami merasa tidak sabar dan ingin segera melaksanakannya.


Sholat isya' kali ini terasa begitu berbeda dari sebelumnya, tapi perbedaan itu tak lagi di gubris oleh Kafa, hanya Salma yang merasakan perbedaan yang terjadi.


"Apa kamu sudah siap untuk malam ini?" tanya Kafa setelah keduanya sudah sholat dan membaca witir.


'Astaghfirullah, aku lupa kalau Mas Kafa meminta haknya malam ini, pantas saja sikap dia berubah dan jauh berbeda dari hari sebelumnya,' batin Salma yang baru mengingat apa yang di minta oleh Kafa.


"Kenapa kamu diam Salma?" Kafa kembali bertanya karena Salma tidak meresponapa yang dia tanyakan.


"Aku tidak apa-apa Mas," jawab Salma gugup, dia menunduk untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Apa kamu sudah siap?" Kafa mencoba bertanya kembali karena Salma tak kunjung menjawabnya.


"Aku akan selalu siap jika Mas Kafa menginginkannya, karena apa yang Mas Kafa minta sudah menjadi hak Mas Kafa setelah Mas Kafa mengucapkan ijab qobul waktu itu," jawab Salma dengan penuh keyakinan dan keberanian, bagaimanapun juga apa yang di minta Kafa memang sudah menjadi haknya, dengan sekuat tenaga Salma mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan semua yang baru saja dia katakan.


"Alhamdulillah jika kamu sudah siap, aku tunggu kamu di kamar!" pesan Kafa sebelum dia pergi meninggalkan Salma.

__ADS_1


'Kenapa aku jadi deg-deg'an begini ya? apa yang harus aku siapkan lebih dulu agar malam ini tak terlewati begitu saja,' batin Salma.


Salma meraih ponsel yang sengaja dia letakkan di samping tempat dia sholat dan mulai berselancar mencari tahu bagaimana cara membuat malam pertamanya begitu indah dan berkesan.


__ADS_2