Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ummi Sakit Perut


__ADS_3

Malam semakin larut tapu semangat Salma dan yang lain tak pernah surut, rasa kantuk yang seharusnya muncul di antara keduanya kini perlahan menghilang entah ke mana.


Kebahagiaan Salma dan Kafa tak lagi busa di ukur oleh apapun, lepas dari jeratan Intan adalah hal yang sejak lama di inginkan oleh keduanya.


"Tari!" lirih Ummi yang merasakan sesuatu menyerang perutnya.


"Iya, Ummi, ada Apa?" jawab Tari merasa aneh dengan sikap dan ekspresi wajah Ummi.


"Perutku terasa tidak enak, tolong kirimkan pesan pada Kafa kalau kita langsung pulang saja, biarkan Salma dan Kafa pergi sendiri!" ujar Ummi, wajahnya terlihat sedikit pucat dengan keringat dingin yang memenuhi dahinya.


"Apa Ummi baik-baik saja? bagaimana kalau kita ke klinik dulu sebelum pulang?" tawar Tari yang mulai khawatir dengan apa yang terjadi pada Ummi, wajah Ummi yang awalnya terlihat begitu cantik kini malah terlihat pucat pasi, Tari yang melihat perubahan wajah Ummi mengusulkan untuk mengajaknya ke klinik, tapi Ummi yang sudah terbiasa merasakan rasa sakit itu saat datang bulan merasa enggan untuk pergi ke klinik, karena jawaban dan obat yang sama seperti sebelumnya yang akan Ummi terima.


"Sudah, jangan terlalu panik! Ummi baik-baik saja, cukup belikan Ummi ki**nti di supermarket Ummi akan sembuh dengan sendirinya, ini hanya nyeri saat datang bulan bukan sesuatu yang mengkhawatirkan," ujar Ummi yang tak ingin merusak malam indah putera dan menantunya yang baru saja terbebas dari jeratan Intan sang ulat bulu yang selalu mengusik ketenangan rumah tangga Kafa dan Salma.


"Ini ponselnya. Kirim Pesan pada Kafa! Ummi mau istirahat." Ummi mengulurkan ponselnya ke arah Tari.


"Ummi, letakkan kepala Ummi si sini! biar Tari memijat pelan kepala Ummi." Tari kembali menawarkan diri untuk membantu Ummi setelah mengetik bebrrapa kata di dalam ponsel Ummi yang tadi di berikan padanya.


Ummi yang mengerti dengan tawaran Tari yang memang selalu bingung saat melihat dirinya sakit.


Tanpa menjawab atau pun berucap Ummi langsung mengiyakan tawaran Salma, kini Ummi tidur dengan tenang di atas pa** Tari yang sudah di beri bantal yang Yang sengaja di taruh di dalam mobil sebelum berangkat kemarin.

__ADS_1


Mobil melaju ke arah yang berbeda setelah Tari memberitahu keadaan Ummi pada Kafa, sedang kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu tak menyadari jika mobil yang di tumpangi sang Ummi melaju ke arah yang berbeda, entah karena terlalu bahagia atau mereka memang tengah di mabuk kepayang, hanya Salma dan Kafa yang tahu jawabannya.


Jika Kafa dan seluruh keluarganyansedang perjalanan pulang, maka berbeda halnya dengan Intan yang kini sedang mendapat ceramah panjang dari Salman maka dia merasa begitu malu dengan sikap Intan yang terlihat begitu murahan.


"Katakan padaku Intan! kenapa kamu bisa melakukan hal serendah itu? jika saja aku tidak pernah tahu dan kamu benar-benar jadi menikah dengan Kafa, mau di taruh di mana wajahku ini," ucap Salman dengan nada penuh emosi dia berucap.


"Maaf," hanya satu kata yang bisa terucap dari bibir Intan.


"Ingatlah Intan! orang tuamu menitipkan kamu padaku bukan tanpa alasan, kamu tetap puteri mereka sekalipun mereka tidak pernah perhatian dan sibuk dengan dunia mereka sendiri, tapi satu hal yang harus kamu tahu, kesibukan yang mereka miliki juga untuk Kita, demi kesempurnaan hidup kita Intan, aku tidak ingin kamu berhubungan dengan Kafa lagi, mulai detik ini lupakan Kafa! jika tidak aku akan melaporkan semua ini pada orang tuamu dan kamu tahu apa yang akan terjadi jika aku mengatakan segalanya pada orangtuamu bukan," ancam Salman yang tak ingin adik sepupunya itu tersesat atau salah jalan lagi, bagaimanapun juga Intan sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


Sedang Intan hanya menunduk tanpa kata, serakah kata maaf terucap tadi, Intan tak mampu mengeluarkan suaranya meski hanya satu kata, dia sadar apa yang dia lakukan memang salah dan jika tadi dirinya menang tidak secara langsung Intan menjadi pelapor dalam rumah tangga Kafa dan Salma.


Semua masalah telah usai, Intan sudah dapat di atasi oleh Kafa dan Salma, kini tiba saatnya Salma dan Kafa menikmati hari-hari penuh cinta dan cita untuk menuju rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah.


"Entahlah, biar Mas hubungi Ghozi dulu." Kafa yang ikutan panik langsung mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya.


Satu notif pesan masuk tertera di beranda ponsel Kafa yang itu berarti ada pesan dari seseorang untuknya.


"Ummi," lirih Kafa ketika tanpa sengaja dia melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Ada apa Mas?" tanya Salma saat mendengar Kafa memanggil sang Ummi meski hanya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Ada pesan dari Ummi," jawab Kafa santai sambil terus mengutak atik ponselnya.


Kafa langsung menelfon Ummi saat membaca pesan dari Ummi dan mengatakan kalau dirinya sedang sakit perut.


Tut ... tut ... tut ....


Suara nada ponsel tersambung terdengar cukup lama membuat jantung Kafa semakin berdebar tak karuan, bagaimana bisa Ummi tidak menelfonnya tadi, seharusnya Ummi menelfon Kafa dan membatalkan rencana makan-makannya.


"Ummi, di mana Ummi sekarang? apa semuanya baik-baik saja?" tanpa mengucapkan salam Kafa langsung membrondongi Ummi dengan berbagai pertanyaan.


"Ummi tidak apa-apa, tadi Ummi hanya sakit perut biasa dan Ummi memutuskan untuk pulang, kamu dan Salma teruskan saja acara makannya, jangan khawatirkan Ummi," jawab Ummi yang tak ingin menjadi penyebab batalnya acara makan Kafa dan Salma saat ini.


"Ummi sekarang ada di mana?" Kafa tak menghiraukan ucapan sang Ummi, yang dia ingin tahu sekarang sang Ummi ada di mana.


"Ummi di rumah, kamu tenang saja! Ummi baik-baik saja di sini, sakit Ummi juga sudah reda kok," Ummi kembali berusaha menenangkan Kafa agar dia tidak lagi mengkhawatirkan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu Kafa tutup dulu Ummi, assalamualaikum," pamit Kafa tanpa banyak bicara lagi.


"Ummi kenapa Mas? apa beliau sakit?" tanya Salma yang masih khawatir dengan keadaan sang Ummi.


"Ummi sakit perut, dia memintaku tidak memikirkan dirinya dan tetap makan sesuai rencana," jawab Kafa.

__ADS_1


"Mana bisa seperti itu, kita lebih baik pulang saja Mas, aku mau lihat keadaan Ummi," ucap Salma yang tidak akan bisa makan sebelum dia melihat sendiri keadaan Ummi.


"Kita bungkus saja makanannya, kita makan di rumah, lagi pula sayang juga kalau mau langsung pulang, kita juga sudah sampai di sini," sahut Kafa yang tak setuju dengan ucapan Salma, sedang Salma hanya bisa mengikuti kemauan Kafa seperti biasanya tanpa ada perlawanan ataupun perdebatan.


__ADS_2