
"Mbok cantik itu bukan cuma soal rupa, tapi cantik itu soal hati, inner beauty itu jauh lebih memancar di bandingkan wajah mulus bertempel bedak," tutur Salma.
"Wahh Neng Salma bisa saja," Mbok Sumik tersenyum geli mendengar penuturan Salma yang menurutnya lucu.
"Aku bicara apa adanya Mbok, dan itu memang kenyataan yang terjadi," Salma mencoba meyakinkan Mbok Sumik tentang apa yang dia ucapkan.
"Astaghfirullah, Mbok sampai lupa, Neng Salma nyari Mbok Sumik ada apa Neng?" tanya Mbok Sumik setelah dia sadar jika tadi Salma mencarinya pasti ada sesuatu yang harus di sampaikan.
"Tidak ada apa-apa Mbok, Salma cuma mau tanya Mas Kafa ada di mana?" Salma mengatakan tujuannya mencari Mbok Sumik sejak tadi.
"Oh, Mas Kafa sedang manasin mobil di garasi, tumben Neng Salma nyari Mas Kafa?" Mbok Sumik kembali bertanya.
"Tadi Mas Kafa ngajak Salma ke Mall Mbok, apa Mbok Sumik mau ikut?" jawab Salma sambil menawarkan Mbok Sumik untyk ikut bersamanya.
"Maaf Neng, bukannya Mbok gak mau, tapi Mbok takut jadi obat nyamuk nanti," jawab Mbok Sumik.
"Obat nyamuk bagaimana maksudnya Mbok?" tanya Salma polos, dia benar-benar tudak mengerti maksud dari Mbok Sumik karena dia merasa kalau Kafa belum memiliki perasaan apapun padanya, jadi mana mungkin Mbok Sumik jadi obat nyamuk, yang ada Salma bisa punya teman ngobrol nanti.
"Sudahlah, Mbok gak bisa jelasin panjang nanti, yang penting sekarang Neng Salma cepat jalan sebelum Mas Kafa emosi karena kelamaan nunggu Neng Salma," Mbok Sumik yang enggan menjelaskan hal yang seharusnya sudah di fahami oleh Salma kini memilih menyuruh Salma segera pergi menemui Kafa di garasi.
"Baiklah Mbok, Salma berangkat dulu ya." Pamit Salma.
"Kamu mau berangkat ke mana, Neng Salma?" tanya Ghozi yang baru saja datang fan mendengar Salma berpamitan.
"Mas Kafa mengajakku ke Mall Ghozi, apa kamu juga mau ikut?" Salma juga menawarkan Ghozi untuk pergi bersamanya.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih, kamu pergi saja! bersenang-senanglah! kalau ada sesuatu yang buruk atau sesuatu yang membuatmu tidak nyaman hubungi aku!" titah Ghozi.
"Pasti, aku akan langsung menghubungimu saat ada sesuatu yang tak seharusnya terjadi, aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Salma berjalan meninggalkan Mbok Sumik dan Ghozi yang masih diam di tempat.
"Loh Mas Ghozi mau ke mana?" tanya Mbok Sumik yang heran melihat Ghozi berjalan searah dengan Salma.
"Aku akan memantau keadaan Mbok, jadi jangan berisik! aku cuma mau memastikan Neng Salma aman dan baik-baik saja sesuai dengan pesan Ummi," jawab Ghozi melenggang pergi meninggalkan Mbok Sumik yang hanya bisa manggut-manggut karena telah faham dengan apa yang di jelaskan Ghozi.
Salma berjalan menuju garasi menemui Kafa yang sedang memanasi mobilnya.
"Apa sekarang sudsh siap? atau aku harus menunggu?" tanya Salma sesaat setelah dia sampai di garasi mobil.
"Masuklah!" titah Kafa setelah melihat Salma datang.
Bukannya langsung masuk Salma malah terdiam mematung memandang Kafa yang membukakan pintu mobil untuknya, sungguh Salma sangat kaget melihat sikap Kafa saat ini.
"Eh, iya, iya," sahut Salma langsung berjalan masuk ke dalam mobil sesuai dengan apa yang Kafa perintahkan.
Salma duduk dengan manis di jok depan tepat di samping Kafa yang sedang memandang serius ke arah depan.
"Pakai sabuk pengamannya!" Kafa kembali memberi perintah setelah melirik ke arah Salma yang yang duduk manis tanpa memasang sabuk pengaman.
"Kenapa diam?" Kafa heran melihat sikap Salma saat ini, dia hanya diam dan tak langsung merespon perintah dari Kafa.
"Em, sebenarnya aku bingung bagaimana cara menggunakannya?" tanya Salma jujur.
__ADS_1
"Kamu serius tidak tahu cara menggunakan sabuk pengaman ini?" tanya Kafa seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Salma.
"Aku serius Mas Kafa, dan aku tidak sedang bercanda saat ini," jawab Salma dengan pipi yang menggembung karena jengkel.
Salma memang benar-benar tidak tahu cara menggunakan sabuk pengaman karena dia tidak pernah punya mobil sebelumnya, sekalipun dia pernah naik mobil dia naik di jok tengah ataupun belakang tidak pernah naik di depan seperti saat ini.
"Jangan marah! kamu akan terlihat semakin menggemaskan saat marah," ujar Kafa yang sukses membuat Salma kembali malu karenanya.
"Biar aku yang pasangkan." Kafa mencondongkan badannya meraih sabuk yang berada di sisi kiri Salma, aroma maskulin milik Kafa sungguh membuat Salma terbuai, begitu juga tangan Kafa yang sempat menyentuh pundak Salma membuat sang empu merasakan sesuatu yang aneh yang belum pernah Salma rasakan, setiap kali dia bersentuhan dengan Kafa, ada sebuah gelenjar aneh merasuk ke dalam tubuh Salma, perasaan aneh yang menguasainya membuat Salma terkadang terbuai olehnya.
"Khem," Kafa berdehem seolah menyadarkan Salma dari lamunannya.
"kita berangkat sekarang." Sambung Kafa yang di angguki oleh Salma.
Mobil melaju membelah jalan raya yang cukup padat, hari ini kemang hari sabtu di mana sebagian besar perkantoran dan para pegawai libur, ada banyak orang berlalu lalang terlihat menikmati cuaca pagi yang begitu cerah.
Kafa mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak seperti biasanya, kali ini Kafa ingin Salma menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan yang ada, pemandangan paling megah yang pernah Salma lihat, gedung bertingkat yamg terlihat begitu tinggi dan semua dekorasi jalanan kota yang cukup menyita perhatian Salma.
"Masya allah, bangunan di sini tinggi sekali, besar pula, apa di dalamnya sama seperti rumah tingkat yang ada di desa?" ungkap Salma.
"Itu kantor Salma, bukan rumah, dan bangunan besar nan tinggi di seberang itu apartemen," Kafa benar-benar merasa seperti berjalan-jalan dengan seorang puteri yang berusia masih balita, sungguh Salma terlihat lucu dan menggemaskan.
"Oh, salah ya, apartemen itu apa Mas Kafa?" Salma kembali bertanya karena dia memang bingung dengan tempat yang baru saja di sebut oleh Kafa.
"Aku akan mengajakmu ke sana jika punya kesempatan nanti," sahut Kafa.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu hari itu tiba, tapi ingatlah satu hal! kaku harus tetap di sisiku apapun yang terjadi!" ucap Kafa tegas penuh penekanan.
"Aku masih di sini Mas Kafa, jangan khawatir!" jawab Salma, meski dalam hati Salma memiliki sejuta partanyaan yang tak mampu dia ungkapkan, tapi Salma tetap mencoba berfikir positif dan tak ingin berfikir macam-macam tentang Kafa yang sudah sah menjadi suaminya itu, Salma hanya bisa berharap keluarga nya bisa menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah meski mereka menikah tanpa di dasari rasa cinta.