Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Aku Percaya Padamu


__ADS_3

"bukankah tadi Mas Kafa bilang kalau aku tidak boleh keluar kemanapun dan harus tetap berada di atas kasur di dalam kamar ini, kenapa sekarang Mas Kafa mau mengajakku pergi ke supermarket?" Salma menjawab pertanyaan kafa dengan pertanyaan yang cukup menyentil hati.


"Aku fikir tidak apa-apa jika hanya pergi ke supermarket dan membeli buah saja," Kafa menjelaskan alasan dirinya mengajak Salma ke supermarket dan melupakan larangan yang baru saja dia ucapkan.


Sejenak suasana kamar menjadi hening, Salma tak langsung menjawab pertanyaan Kafa, dia terdiam menatap lurus ke depan, tapi sedetik kemudian Salma langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi membasuh wajahnya dengan cepat kemudian kembali berjalan menuju tempat penyimpanan pakaian mengganti baju dan mengambil tas selempang, Salma terlihat sudah siap untuk pergi.


Kafa tersenyum lucu melihat tingkah Salma, tadi dia berkata seolah-olah menolak ajakan Kafa tapi sedetik kemudian Salma sudah siap untuk berangkat.


"Apa kamu benar-benar mau pergi? " goda Kafa.


"Tentu saja, siapa yang tidak mau diajak jalan-jalan? Berada di dalam kamar terus itu sangat membosankan maskapah andai kamu tahu itu sejak tadi?" sahut Salma.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bosan, aku hanya memikirkan keadaan bayi kita tanpa peduli perasaanmu dan apa yang kamu rasakan, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi, Sayang" ujar Kafa dengan ekspresi wajah serius menatap lekat ke arah Salma.


"Aku harap Mas Kafa selalu ingat ucapanmu tadi," ujar Salma.


"Aku akan selalu mengingatnya, kamu tenang saja aku akan diam selagi apa yang kamu lakukan tidak membahayakan bayi kita ataupun kesehatannya." Sahut Kafa.


"Dia juga bayiku Kali Mas, aku tidak akan pernah membahayakannya, bagaimanapun juga aku akan tetap menjaganya," Salma terdengar mantap mengatakan nya tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Aku percaya padamu, sayang," ujar Kafa.


Kafa baru sadar jika Salma calon ibu dan yang mengandung anaknya, Salma juga mengharapkan kehadiran bayi yang ada di perutnya itu, jadi sangat tidak mungkin Salma melukai ataupun melakukan hal yang bisa membahayakannya.


"Ayo berangkat!" ajak Salma seraya menarik lengan Kafa dan memeluknya, Salma berjalan beriringan bersama Kafa di sampingnya keluar dari kamar menuju halaman di mana ada satu mobil yang terparkir di sana.


Kafa hanya bisa diam dan berjalan mengikuti langkah Salma yang membawanya keluar dari kamar menuju halaman pesantren.


"Pelan-pelan, sayang!" Kafa kembali mengingatkan Salma yang terlihat terburu-buru masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mendengar peringatan Kafa, Salma hanya tersenyum ketir ke arah Kafa, dirinya tidak bisa menjawab ataupun mendapat pernyataan Kafa karena apa yang diucapkannya demi kebaikan Salma.


"Aku ingin membeli beberapa buah lagi selain anggur, apa boleh, Mas?" Tanya Salma sesaat setelah mobil yang mereka tumpangi mulai melaju membelah jalan raya yang terlihat lenggang karena Salma dan Kafa pergi tepat di tengah hari di mana ada banyak orang yang malas untuk keluar rumah atau hanya sekedar nongkrong di warung tepi jalan.


"Belilah apa yang kamu mau! Aku akan memenuhi semua keinginanmu hari ini, tapi ingat! Kamu harus tetap memperhatikan makanan apa yang akan kamu makan karena apa yang kamu makan saat juga ikut dimakan oleh calon anak kita," Kafa benar-benar tidak bosan dia terus saja mengingatkan Salma tentang hal-hal yang bisa membahayakan sang janin yang tengah tumbuh di dalam perut Salma.


"Mas kafa tenang saja, aku sudah mengerti mana yang boleh dan mana yang tidak boleh ku makan, jadi Mas Kafa hanya perlu membayarkannya saja," sahut Salma, dia mencoba meyakinkan Kafa dengan makanan yang ingin dibeli nanti.


Suasana mobil terasa begitu hening setelah Salma menjawab wab ucapan Kafa, kini tak ada lagi yang memulai pembicaraan hingga mobil yang mereka kendarai sampai di Penataran supermarket.


"Loh bukan kah ini supermarket milik Mas kafa?" Tanya salma saat melihat supermarket yang didatangi oleh Salma dan Kafa merupakan supermarket yang sama yang dulu pernah didatangi oleh mereka.


"Iya ini memang supermarket milik keluargaku tapi bukan milikku" jawab Salma.


"Bukankah ini milik keluargamu, Mas kenapa bisa jadi bukan milikmu?" Salma terlihat bingung dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Kafa.


"supermarket ini milik abah, aku hanya menjalankannya saja, sedangkan supermarket yang ada di kota itu milikku sendiri begitu pula dengan beberapa cabang yang ada di sana," jelas Kafa.


"Pilihlah mana yang ingin kamu ambil!" titah Kafa sesaat setelah mereka berada di dalam supermarket.


"Loh, mas Kafa mau ke mana?" tanya Salma saat dia melihat Kafa berjalan ke arah yang berbeda dengan jalan yang akan dituju oleh Salma.


"Aku akan pergi ke kantor dulu sebentar. Aku cuma butuh waktu lima menit untuk memeriksa beberapa berkas yang kemarin belum sempat aku selesaikan." Kafa menjelaskan apa yang akan dia lakukan.


"Janji lima menit ya, Mas," rengek Salma rumah dia terlihat tidak rela jika Kafa pergi meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa? apa sekarang kamu tidak jauh dariku? atau sekarang Salmaku yang tangguh ini menjadi manja dan penakut?" goda Kafa, dia bertanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Pergilah!" Sahut Salma yang meminta kakak segera pergi sebelum dia menggoda Salma lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Kalau kamu memang ingin aku temani tidak masalah, aku akan menunda lagi pekerjaanku dan akan ku selesaikan besok demi dirimu, sayang," kali ini Kafa terlihat berkata dengan serius tidak ada ekspresi bercanda di wajahnya.


"tidak usah, Mas, aku masih bisa memilih barang dan mengambilnya sendiri jika mas memang ingin pergi cuma lima menit, maka aku tidak masalah tapi aku harap mas tidak lebih dari lima menit karena jika belanjanya banyak maka nanti aku akan kesusahan untuk membawanya," Salma menjelaskan alasan dirinya yang ingin menahan Kafa agar tidak pergi meninggalkan Salma sendiri dan membawa barang cukup banyak sendirian.


"Tenang saja sayang, aku tidak akan lama kok nanti kalau aku sudah selesai akan ku kabari," sahut Kafa mencoba meyakinkan Salma agar dia bisa berbelanja dengan tenang.


"baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya, assalamualaikum," pamit Salma seraya mencium punggung tangan sang suami kemudian melenggang pergi meninggalkannya mengambil troli yang akan dia gunakan untuk memilih belanjaan.


"Hati-hati! Ingat pelan-pelan! jangan terburu-buru masih ada banyak waktu untuk berbelanja, aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padamu nanti," Kafa kembali mengingatkan Salma sebelum dia benar-benar pergi menjauh.


"Siap, Tuan," sahut Salma serayam memberi hormat meletakkan jari-jarinya di depan dahi seperti seseorang yang sedang hormat di bawah tiang bendera.


Kafa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Salma yang menurutnya lucu, entah mengapa akhir-akhir ini Salma terlihat begitu lucu dan menggemaskan sampai Kafa tidak rela melihat Salma keluar dari rumah dan dilihat oleh orang lain selain dirinya.


Jika Kafa berjalan masuk ke dalam kantor dan memulai memeriksa beberapa berkas yang kemarin belum sempat dia periksa. Maka berbeda dengan Salma yang kini berjalan melihat beberapa barang yang dijual di dalam supermarket yang terlihat begitu lengkap.


"Wah di sini sangat lengkap, ini bukan supermarket tapi swalayan semua yang ada di sana di sini juga ada oma tanda saat melihat betapa banyaknya barang yang dijual di dalam supermarket milik Abah sang mertua.


Salma benar-benar memilih makanan yang memang bisa dia makan dan menahan diri untuk tidak memakan sesuatu yang membahayakan bayinya termasuk mie instan pedas kesukaannya Salma yang memang menyukai mie instan dengan rasa yang amat pedas ini hanya bisa menelan saliva menahan diri untuk tidak mengambil ataupun memakannya.


"Salma!" Suara seorang laki-laki terdengar lembut merasuk ke dalam telinga Salma yang telah fokus memilih buah yang menurutnya bagus untuk dipilih.


Salma yang terus dengan panggilan seorang laki-laki yang berada tepat di belakangnya, dia langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya dan memberi warna dalam hidupnya yang hanya ada putih dan hitam.


"Kevin," lirik Salma sambil melihat penuh heran ke arah Kevin yang berdiri tegak di belakangnya.


"Hai! Apa kabar?" tanya seorang laki-laki yang masih setia berdiri tegak di belakang Salma.


"Kamu ngapain di sini?" Salma menata barang ke arah Kevin.

__ADS_1


"Bukankah ini tempat umum? Kau juga tahu kan kalau ini adalah supermarket, jadi seharusnya kamu juga tahu apa yang aku lakukan di sini," jawab Kevin dengan senyum meledek, sejak hubungan keduanya putus, Salma dan Kevin memang terlihat musuhan tak pernah akur atau bahkan bertemu keduanya hanya saling melihat lewat sosial media tanpa bisa bersatu.


__ADS_2