
Mendengar penjelasan Kafa membuat Ummi mengerti dengan apa yang di inginkan puteranya, Ummi hanya bisa diam sambil menyetujui apa yang Kafa lakukan.
"Ummi berharap Salma tidak berubah fikiran, dan meminta pada Ummi untuk membatalkan perjodohan denganmu hanya karena sikapmu yang kurang baik ini," ujar Ummi sebelum pergi meninggalkan Kafa yang masih setia diam di tempat.
Kafa terus memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Ummi, Kafa mengingat setiap kejadian yang telah terjadi, ingatan itu terus berputar seperti puzzle yang mulai terangkai hingga membentuk sebuah gambar yang membentuk sebuah kisah.
"Kenapa aku jadi mikirin hal gak penting itu? terserah Salma mau atau tidak di jodohkan denganku, lagi pula tidak ada untungnya juga untukku," lirih Kafa.
Kafa kini tak lagi memikirkan Salma karena alergi yang diderita semakin menjadi-jadi, rasa gatal, sakit bercampur panas kini mulai terasa semakin menyiksa sedang dokter pribadi yang di telfon Ummi tak kunjung datang, Kafa hanya bisa mengusap pelan setiap inci tubuhnya yang terasa gatal hingga Ummi datang bersama sang dokter.
"Sudah tahu alergi kenapa masih di makan Kafa?" seru sang dokter yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kafa.
"Kalau aku tahu di makanan itu ada udangnya sudah pasti tidak akan aku makan?" sahut Kafa yang terlihat menahan rasa sakit bercampur gatal.
"Ini obat yang harus kamu minum! jangan makan udang lagi!" pesan Sang Dokter sebelum pergi dari kamar Kafa, sedang Ummi hanya tersenyum melihat sang putera, alergi Kafa kali ini tidak terlalu parah karena dia tak memakan banyak udang jadi tak ada reaksi sesak atau bentol yang berlebihan di tubuhnya.
"Terima kasih," jawab Kafa dengan ekspresi datar.
"Sama-sama," jawab Sang Dokter seraya melenggang pergi meninggalkan Kafa yang masih setia duduk bersandar di kasur.
"Assalamualaikum," suara Salma terdengar dari balik pintu kamar Kafa yang tertutup.
"Masuk!" titah Kafa.
"Jangan di tutup pintunya!" sambung Kafa melarang Salma menutup pintu kamar karena saat ini mereka hanya berdua di dalam kamar.
"Baik, Mas Kafa," sahut Salma sambil membuka lebar pintu kamar Kafa.
"Buatkan aku teh hangat!" titah Kafa.
__ADS_1
"Bukankah tadi aku sudah membuatkan teh untuk Mas Kafa? dan tehnya juga belum habis, apa aku harus buat lagi?" tanya Salma sambil melirik ke arah gelas teh yang masih terisi penuh di samping nakas telat di sebelah Kafa duduk.
"Aku ingin teh hangat, bukan teh dingin," ujar Kafa membuat Salma menghembuskan nafa kasar mencoba terus bersabar dengan apa yang di katakan oleh Kafa.
"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu." Sanggup Salma berjalan meninggalkan Kafa yang kini tersenyum tipis melihat kepergian Salma.
'Lumayan sabar juga tu anak," lirih Kafa setelah Salma benar-benar peegi dari dalam kamar.
Salma berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat sesuai dengan permintaan Kafa meski rasa jengkel masih terus dia rasakan tapi Salma tetap saja mengikuti keinginan Kafa. Semua dia lakukan karena janji yang sudah terlanjur dia ucapkan.
"Ini tehnya!" Salma memberikan satu gelas teh berukuran besar ka arah Kafa.
"Ambilkan obatku!" Kafa kembali memberi perintah dan Salma hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Kafa tanpa ada perdebatan.
"Ini, silahkan di minum!" ucap Salma sambil menyodorkan satu gelas teh ke arah Kafa.
"Ini obatnya!" Salma memberikan obat pada Kafa yang langsung meminumnya.
"Aku mau istirahat. Tapi nanti setelah aku bangun, aku ingin kamu sudah menyiapkan sop ayam untukku." Pinta Kafa pada Salma.
"Maaf Mas Kafa, bukannya aku tidak mau menuruti keinginanmu, tapi apa di dapur masih ada stok bahan makanan untuk memasak sop ayam?" tanya Salma dengan nada ragu yang sangat jelas terdengar.
"Jika memang tidak ada, kamu bisa memasak apapun yang ada di Dapur. Tapi ingat satu hal! jangan sampai kamu memasak ataupun mencampurkan makananku dengan udang ataupun makanan lain yang berbahan dasar udang!" Kafa memberi perintah sekaligus peringatan agar Salma tak mengulangi kesalahan yang sama.
"Mas kafa tenang saja, ku gak bakal ngulangi kesalahan lagi kok, kalau begitu aku permisi. Assalamualaikum," Salma melenggang pergi meninggalkan kamar Kafa setelah dia mendapat izin untuk pergi dari Kafa.
"Salma!" panggil Ummi.
"Iya, Ummi," sahut Salma sejenak menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ummi.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya Ummi.
"Mas Kafa minta di masakin sesuatu di dapur Ummi, dan Salma mau ke dapur lihat bahan apa yang bisa di masak." Jelas Salma jujur.
"Ayo Ummi bantu!" ajak Ummi dengan senyum yang mengembang, saat ini Ummi memang membiarkan Kafa bersikap seenak hati, tapi dia tidak akan tinggal diam, sebisa mungkin Ummi akan membantu Salma setiap saat dan Ummi akan terus membuat Salma nyaman berada di sisinya.
"Bagaimana kalau kita buat mie goreng spesial saja?" usul Ummi setelah melihat di dalam kulkas ada stok mie basah dan bahan pelengkap lain untuk membuat mie goreng.
"Wah, sepertinya lezat, tapi apa Mas Kafa menyukainya Ummi?" Salma bertanya dengan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajahnya.
"Dia pasti bakal suka kalau kita yang memasaknya, sudah! jangan khawatir! lagi pula Kafa swlalu memakan apapun yang Ummi masak kecuali udang," ujar Ummi yang sukses membuat Salma tak enak hati karenanya.
"Maaf ya Ummi, gara-gara Salma memasakkan nasi goreng dengan terasi udang alergi Maa Kafa jadi kambuh." Salma tertunduk lesu dengan ekspresi wajah penuh penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Sudahlah, tidak perlu menyesal ataupun merasa bersalah!semua yang terjadi sudah takdir, lagi pula bukan salah kamu juga, kamu tidak tahu jika Kafa alergi udang makanya kamu masukkan terasi udang di nasi goreng itu, " Ummi mencoba menenangkan Salma yang tampak gelisah.
"Terima kasih Ummi," jawab Salma yang kini.
"Sudah jangan bahas hal yang bisa membuat kita bersedih, lebih baik kita mulai memasak!" ujar Ummi yang tak ingin berlarut2.
Keduanya memasak dengan penuh kebahagiaan dan semangat, mie goreng spesial dengan ekstra telor, sosis dan bakso telah siap di sajikan.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," lirih Salma.
"Alhamdulillah," sahut Ummi.
"sudah berikan mie goreng ini ke Kafa! Ummi mau mandi dulu." Pamit Ummi yang langsung melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih berdiri dengan ekspresi bingung yang tergambar jelas di wajahnya.
"Apa Mas Kafa sudah bangun ya?" gumam Salma yang merasa khawatir jika sang empu masih tidur dan belum bangun dari mimpi indahnya.
__ADS_1