
Usai membantu Mbok Yem, Tari dan Salma kembali melanjutkan aktifitasnya, sarapan bersama kemudian mandi dan bersiap untuk belajar bersama Ghozi.
"Tumben kamu pakai bedak dan lipglos, biasanya juga males dandan?" tanya Salma yang heran melihat Tari berpenampilan berbeda hari ini.
"Gak tahu, pengen aja," jawab Tari asal.
"Kamu serius? apa ada yang lagi kamu taksir?" Salma masih saja bertanya karena merasa tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Tari.
"Kalau gak percaya yaudah gak masalah, terserah kamu aja," sahut Tari dengan ekspresi masih santai.
"Iya, iya, aku percaya sama kamu," Salma yang mengerti sifat asli Tari hanya bisa mengalah, percuma saja terus bertanya jika Tari memang tak berniat untuk menceritakan semuanya pada Salma.
Tari yang melihat Salma langsung tersenyum manis, dia juga sangat mengerti jika Salma tidak akan memaksanya untuk bercerita. Usai bersiap keduanya berjalan beriringan menuju teras samping rumah Ummi untuk belajar bersama Ghozi.
"Assalamualaikum," ucap Ghozi saat sampai di teras samping rumah Ummi di mana Tari dan Salma sudah menunggu.
"Waalaikum salam," sahit keduanya hampir bersamaan.
"Alhamdulillah, kita bisa bertemu dan belajar bersama hari ini," ujar Ghozi sambil membuka kitab yang akan dia ajarkan pada Tari dan Salma
"Alhamdulillah," sahut Tari dan Salma hanya diam tanpa berkomentar.
"Aku senang kalian terlihat begitu bersemangat hari ini," ungkap Ghozi.
"Ilmu baru itu selalu menyenangkan untuk di pelajari," sahut Salma. p
"Iya, bener, aku sudah tak sabar mengajarkan semuanya pada anak-anak yang pasti sangat lucu itu," Tari terlihat begitu bahagia sambil menerawang ke atas membayangkan dirinya mengajar anak kecil mengaji.
Tari memang suka bersikap apa adanya sampai terkesan dia seenaknya, tapi di balik sifatnya itu ada kelembutan dan kasih sayangnya terhadap anak kecil tak bisa di ragukan lagi, dia tipe gadis yang begitu menyayangi anak kecil.
__ADS_1
"Sudah, jangan bayangin mulu! lebih baik kita belajar dengan serius biar bisa cepet ngajar mereka dari pada membayangkannya," tutur Salma dan Tari hanya tersenyum tanpa dosa ke arah Salma sebagai tanggapan atas apa yang di katakan Salma.
"Baiklah, dari pada membayangkan lebih baik kita mulai belajar." Sela Ghozi yang mencium aroma perdebatan yang akan terjadi di depannya.
Ketiganya mulai belajar menjadi guru yang baik dan mempelajari beberapa materi yang bisa di ajarkan pada anak di usia dini, menjadi seorang guru TPQ bukanlah hal yang mudah, ada banyak rintangan yang harus di lewati, begitu juga dengan kesabaran yang harus terus di pupuk juga di jaga agar bisa mengambil hati muridnya.
Ghozi mengajari semua hal yang dia tahu dan dia pelajari juga alami, sosok Ghozi memanglah idaman kebanyakan gadis termasuk Tari dan Salma, Ghozi yang terlihat sabar dan berwibawa dalam setiap pertemuan membuat benih kekaguman muncul di hati keduanya.
"Bagaimana dengan pelajaran hari ini? apa kalian sudah mengerti?" tanya Ghozi saat semua yang peelu di ajarkannya hari ini sudah selesai.
"Mengerti Ustadz," sahut Tari.
"Aku juga sudah mengerti Ustadz," Salma ikit-ikutan memanggil Ustadz pada Ghozi.
"Sudahlah, jangan manggil Ustadz!" ucap Ghozi yang merasa kurang nyaman saat Tari dan Salma memanggilnya Ustadz.
"Memangnya kenapa kalau manggil Ustadz? bukankah seorang guru di pesantren itu mendapat julukan Ustadz?" Tari justru menimpali ucapan Ghozi dengan sebuah pertanyaan.
"Sudahlah, jangan berdebat! sebutan ataupun julukan itu tak penting, yang penting itu akhlak dan amal ibadah kita sama Allah," Salma kembali menyela perdebatan Ghozi dan Tari.
"Kamu bener Salma, dan aku setuju padamu," sahut Ghozi sambil menunjukkan deretan giginya yang putih ke arah Tari dan Salma.
Belajar hari ini terasa begitu menyenangkan, hingga ketiganya lupa waktu saat belajar dan sesekali membahas sesuatu yang menyenangkan.
"Untuk hari ini cukup. Besok kita lanjutkan lagi semoga ilmu yang kalian dapat bisa bermanfaat untuk orang banyak dan bermanfaat," kata penutup yang sering di ucapkan oleh Ghozi setiap kali waktu belajar telah habis.
"Amin," jawab Tari dan Salma hampir bersamaan.
"Assalamualaikum," pamit Ghozi berjalan melenggang pergi meninggalkan halaman samping rumah Ummi untuk kembali ke pondok putera.
__ADS_1
"Apa kalian sudah selesai belajar?" tanya Ummi yang baru saja datang menghampiri Tari dan Salma yang sedang bersiap akan pergi.
"Sudah Ummi," jawab Salma.
"Salma, ada yang ingin Ummi bicarakan, bisakah kita berbicara berdua di ruang keluarga?" ujar Ummi.
"Ummi, Tari permisi balik ke asrama dulu ya." Pamit Tari yang mengerti jika Ummi butuh waktu berdua dengan Salma.
"Maaf Tari, Ummi tak punya maksud apapun, hanya ada hal penting yang ingin Ummi bicarakan sama Salma, jangan tersinggung ya, Nak!" Ummi yang merasa tak enak hati mendengar Tari langsung berpamitan pergi setelah beliau mengungkapkan keinginannya untuk berbicara hanya berdua bersama Salma.
"Ummi tenang saja, Tari bukan tipe orang yang mudah tersinggung, lagi pula Tari masih harus melipat baju di kamar, Jadi Tari pamit balik duluan," ucap Tari dengan senyum yang terlihat begitu manis.
"Alhamdulillah, jika seperti itu," jawab Ummi.
"Salma, aku pamit dulu ya," kini Tari bergantian pamit pada Salma yang mengangguk sebagai jawaban.
" Ummi ingin bicara apa?" tanya Salma yang begitu penasaran dengan apa yang ingin Ummi bahas bersamanya, pasalnya selama ini Ummi selalu mengatakan apapun di hadapan Tari dan dirinya, tapi saat ini Ummi malah meminta berbicara berdua hanya dengan Salma.
"Lebih baik kuta duduk dulu, Nak! setelah itu baru bicara," ajak Ummi yang berjalan lebih dulu menuju ruang keluarga dan duduk di sofa yang biasa dia duduki.
Salma hanya bisa mengikuti apa yang Ummi minta, dia berjalan mengikuti langkah Ummi menuju ruang keluarga kemudian duduk di lantai beralaskan permadani yang berada tak jauh dari tempat Ummi duduk.
"Salma!" panggil Ummi.
"Iya, Ummi," jawab Salma sambil berjalan mendekat ke arah Ummi.
"Sudah berapa kali Ummi bilang padamu Salma? duduklah di samping Ummi! kenapa kamu malah duduk di bawah?" ungkap Ummi yang sedikit gemas dengan apa yang di lakukan oleh Salma.
"Maaf Ummi, bukannya Salma tak menuruti perintah Ummi, hanya saja Salma merasa belum pantas duduk di samping Ummi," Salma mengatakan apa yang menjadi alasan dirinya selalu memilih duduk di lantai dari pada duduk di samping Ummi.
__ADS_1
"Pantas atau tidak yang nentuin itu bukan orang apa lagi diri sendiri, tapi Allah yang berhak menilai pantas atau tidaknya manusia," ucap Ummi membuat Salma mengangguk faham.