Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sarapan Bersama


__ADS_3

Kafa yang mengerti dengan keadaan Salma langsung mendorong troli yang telah terisi penuh dengan makanan ke arah kasur dan mulai membayarnya.


"Sini Mas! biar Salma bantu bawa barangnya." Pinta Salma saat barang yang sudah di bayar terbungkus rapi di dalam kardus, barang yang sudah mereka beli menjadi beberapa kardus yang terlihat berat.


"Tidak usah! biar Mas saja yang membawa semuanya. Kamu lebih baik duduk tenang di dalam mobil nunggu Mas selesai mengangkat semua ini. aku yakin kamu pasti sudah lelah," tolak Kafa yang tak ingin melihat Salma kelelahan dan mengangkat barang yang menurutnya sangat berat bagi seorang wanita.


"Tapi aku ingin membantumu Mas," ucap Salma dengan ekspresi penuh harap Salma ingin tetap membantu Kafa meski Kafa sudah menolaknya.


Kafa tak lagi memperdulikan ucapan Salma, dia berjalan kembali masuk ke dalam swalayan, apa yang di lakukan Kafa sukses membuat Salma bingung, tapi dia tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam dan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Kafa.


Kafa masuk ke dalam Swalayan tak terlalu lama, dia kembali dengan satu kantong plastik yang berisi roti sobek dan air minum dalam kemasan dengan dua varian, yang pertama air putih biasa dan yang kedua air dalam kemasan dengan rasa lemon yang terlihat begitu segar.


"Duduk dan makan ini di mobil!" titah Kafa sambil menyerahkan satu kantong kresek ke arah Salma.


"Apa ini Mas?" tanya Salma dengan ekspresi bingung menerima satu kantong kresek yang di berikan oleh Kafa.


"Itu roti sobek dan minuman, masuklah ke dalam mobil! tunggu aku menyelesaikan ini. sambil makan di sana!" Kafa kembali menjelaskan apa yang harus di lakukan Salma, Kafa tidak ingin Salma semakin lelah.


"Baiklah," ucap Salma pasrah, dia tak lagi bisa menjawab ataupun membantah perintah dari Kafa saat ini, karena apa yang di perintahkan oleh Kafa adalah hal baik untuk dirinya meskipun Salma tahu dengan pasti kalau Kafa juga lelah dan lapar.


Salma berjalan masuk ke dalam mobil melakukan apa yang Kafa perintahkan padanya, sedang Kafa mulai memasukkan satu per satu kardus berisi makanan yang tadi dia beli ke dalam bagasi mobil.


'Brak'


Kafa masuk dan menutup pintu dengan gerakan sedikit kasar, karena sikap Kafa itulah membuat Salma yang sedang asyik menikmati makanan dan minumannya langsung terkejut.


"Kenapa, Mas?" tanya Salma menatap penuh rasa penasaran ke arah Kada.


"Huft," bukannya menjawab Kafa malah menghembuskan nafas kasar.


"Apa Mas haus? kalau iya, minumlah ini!" Salma memberikan satu botol air mineral yang sama sekali belum dia sentuh.


"Ternyata mengangkat barang seperti tadi sangat melelahkan Salma, aku butuh air lemon untuk menyegarkanku kembali," ucap Kafa.


"Tapi air lemonnya sudah aku minum Mas Kafa," ucap Salma penuh rasa bersalah, jika saja dia tahu kalau Nas Kafa menginginkannya, maka Salma tidak akan meminum air itu dan akan memberikannya pada Kafa.


"Coba sini aku lihat!" pinta Kafa seolah tak peduli dengan apa yang baru saja Salma katakan.


Salma memberikan botol air yang di minta oleh Kafa dengan gerakan ragu, dalam hatinya ada banyak pertanyaan, kenapa Mas Kafa meminta air yang sudah dia minum meski ada air mineral yang di tawarkan, meskipun Kafa sudah mengatakan alasannya karena Kafa butuh asupan untuk energinya tapi kenala harus air yang sudah di minum oleh Salma kenapa tidak beli yang baru saja.


"Jangan ini Mas Kafa! biar Salma belikan yang baru." Salma menarik kembali botol yang sempat dia tawarkan.


"Sudahlah, aku ingin air milikmu itu, tidak perlu beli yang baru!" sahut Kafa langsung mengambil alih botol yang ada di tangan Salma tanpa banyak bernegoisasi lagi.


"Ta~" ucapan Salma terpotong saat dia melihat Kafa telah meminum air dalam botol itu sampai tandas tak tersisa.

__ADS_1


Salma terdiam menatap heran ke arah Kafa yang meneguk habis botol yang tadi ada di tangan Salma.


"Mas Kafa tidak jijik?" tanya Salma.


"Jijik kenapa?" Kafa kembali bertanya mendengar pertanyaan Salma yang menurutnya aneh, minum dari botol yang sama dengan botol yang telah di pakai Salma.


"Itukan botol dan air minum bekasku Mas," jelas Salma.


"Untuk apa jijik? lagian bekas istri sendiri bukan bekas orang lain," jawab Kafa dengan senyum yang mengembang dan terlihat jelas di wajahnya.


Salma hanya terpaku menatap Kafa setelah mendengar jawaban yang di berikan oleh Kafa barusan, sungguh Kafa saat ini jauh sangat berbeda dwngan Kafa yang menyebalkan, jika seperti ini Kafa terlihat begitu tampan dan mempesona.


"Khem," tegur Kafa saat melihat Salma tidak lagi merespon apa yang di katakannya, lagi pula di tatap seperti tadi oleh Salma cukup membuat Kafa salah tingkah.


"Jangan menatapku terus! kalau kamu terus menatapku seperti itu, bisa aku pastikan jika setelah pulang dari sini kamu akan jatuh hati padaku," ujar Kafa tanpa menoleh ke arah Salma yang justru tersenyum senang melirik ke arah Kafa yang sedang fokus menyetir.


"Ishhh, pe de sekali kamu Mas," ujar Salma.


"Aku hanya mengatakan apa yang akan terjadi," ujar Kafa acuh.


"Terserah Mas sajalah, oh ya apa Mas mau roti ini?" tawar Salma.


"Aku tidak bisa makan sekarang Salma, lihatlah! aku masih fokus menyetir," jawab Kafa.


"Kalau kamu tidak keberatan gak apa-apa," jawab Kafa yang merasa senang karena ternyata Salma juga perhatian padanya.


Tanpa banyak bicara Salma langsung menyuapkan roti sobek yaņg sejak tadi dia makan, roti berisi selai rasa coklat itu terasa semakin nikmat saat Salma menyuapkamnya ke dalam mulut.


"Sekarang kamu ingin makan apa?" tawar Kafa setelah dia selesai menghabiskan satu suapan dari Salma.


"Aku makan apa saja, yang penting makanannya enak dan halal," jawab Salma terlihat acuh dengan pilihan makanan yang akan mereka makan.


"Bagaimana kalau pagi ini kita makan nasi rawon?" Kafa kembali memberi tawaran pada Salma.


"Boleh," jawab Salma dengan senyum manis yang sering muncul setiap kali dia bersama Kafa.


Perkembangan hubungan mereka begitu pesat, Kafa dan Salma kini saling bersikap manis satu sama lain, sangat berbeda dengan apa yang terjadi sebelumnya, keduanya mulai saling menerima satu sama lain.


Kafa mencari warung nasi rawon yang menurutnya enak dan paling dekat dengan tempatnya saat ini.


"Turulah!" titah Kafa seraya membukakan pintu mobil ubtuk Salma.


Sungguh sikap Kafa jauh berbeda dari dulu, dia kini lebih peka dan pengertian.


"Terima kasih Mas Kafa," ucap Salma.

__ADS_1


"Hm," jawab Kafa.


Salma dan Kafa berjalan masuk ke dalam warung dan memilih tempat duduk yang menurut mereka nyaman.


"Kamu mau pesan apa Salma?" tawar Kafa setelah dia memesan satu porsi nasi rawon untuknya.


"Aku sama seperti yang Mas Kafa pesan," jawsb Salma.


"Baiklah, kamu tunggu di sini! biar aku pesankan." Sahut Kafa.


Di warung sederhana seperti yang di datangi Kafa dan Salma saat ini memang tidak memiliki banyak kariyawan seperti di restauran, pembeli akn memesan dan datang sendiri untuk memesan makanan ke pemilik warung yang sedang menyajikan makanan untuk para pelanggannya.


Salma dan Kafa makan penuh dengan rasa syukur yang membuat rasa nikmat ti.bul di antara mereka, bagaimanapun keadaannya tak membuat Kafa dan Salma merasa terganggu, keduanya makan dan kembali pulang setelah semua makanan yang mereka makan telah tandas tak tersisa.


"Assalamualaikum, Mbok Sumik!" panggil Salma setelah sampai di rumah.


"Waalaiku salam Neng," jawsb Mbok Sumik berjalan mendekat ke arah Salma yang baru saja datang.


"Mbok sudah sarapan?" tanya Salma yang menenteng makanan yang tadi sempat di pesan, Salma sengaja membungkus makanan untuk Mbok Sumik dan Ghozi di rumah meskipun Kafa sudah menjelaskan kalau keduanya sudah makan.


"Alhamdulillah sudah Neng," jawab Mbok Sumik yang memang sudah sarapan dengan nasi goreng yang tadi dia masak.


"Apa Ghozi juga sudah sarapan Mbok?" Salma kembali bertanya.


"Sudah Neng, tadi tadi Mbok masak nasi goreng untuk sarapan," jelas Mbok Sumik.


"Aku bungkusin nasi rawon untuk Mbok dan Ghozi, aku fikir kalian belum sarapan," lirih Salma dengan ekspresi wajah kecewa.


"Tadi aku sudah jelaskan, tapi kamu malah gak percaya," sahut Kafa yang baru saja datang dan mendengar ungkapan rasa kecewanya.


"Ya maaf," ujar Salma yang menyesal karena tak mau mendengar ucapan Kafa.


"Sudahlah, jangan pasang wajah menyesal seperti itu! lebih baik kamu keluar dan berikan pada orang yang membutuhkan, biasanya jam segini ada pemulung yang akan mencari barang bekas di tong sampah depan rumah," Kafa yang tak ingin melihat wajah memelas Salma lebih memilih memberi solusi untuknya dari pada menyalahkan Salma.


Salma tak lagi menjawab ucapan Kafa, dia berjalan keluar dari rumah dan mencari pemulung yang di katakan oleh Kafa. Dan benar saja ada seorang pemulung yang sedang sibuk mengorek tempat sampah dan mencari sesuatu yang entah apa itu.


"Permisi Pak," sapa Salma.


"Maaf, saya cuma sedang mencari barang bekas, saya tidak melakukan apapun," sahut sang pemulung dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Kenapa bapak minta maaf? saya cuma mau ngasih makanan ini untuk Bapak," ucap Salma merasa heran dengan reaksi yang di berikan oleh pemulung itu.


"Kemarin saya di tuduh mencuri emas sama orang, padahal saya cuma nemuin emas itu di tong sampah dan berniat untuk mengembalikannya, jadi saya takut kalau ada orang kaya seperti nyonya menyapa, maaf, dan terima kasih makanannya nyonya," jelas sang pemulung yang sukses membuat air mata Salma menetes tanpa di perintah.


"Jangan panggil nyonya Pak, saya bukan majikan Bapak, lain kali Bapak harus berhati-hati! tidak selamanya niat baik bisa langsung di terima oleh orang, kalau begitu saya permisi." Pamit Salma melenggang pergi meninggalkan Sang pemulung yang terus mengucapkan kata terima kasih dan merapalkan do'a untuk kebaikan Salma.

__ADS_1


__ADS_2