
Kafa langsung melebarkan mata terkejut sengan apa yang di ucapkan oleh Salma, kata maaf yang tidak seharusnya di ucapkan Salma kini lolos dari bibirnya begitu saja, Kafa benar-benar tak menyangka jika Salma mengutarakan kata maaf hanya karena dia menatap Kafa dengan lekat.
"Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena menatap diriku, apa kamu sudah lupa jika aku ini suamimu?" ujar Kafa yang masih saja heran dengan kata maaf yang terucap dari bibir Salma.
"Aku khawatir Mas Kafa merasa risih dengan tatapan yang aku lakukan tadi," jujur Salma, antara polos dan bodoh memang beda tipis jika mengenai cinta, keduanya hanya terbatasi satu satir tipis yang tidak kasat mata.
"Aku akan semakin senang jika kamu melakukan hal lebih dari pada hanya menatap tanpa melakukan apapun," ujar Kafa yang cukup membuat Salma tersenyum karenanya.
Salma merasa Kafa saat ini jauh lebih menyenangkan di bandingkan dulu, sekarang Kafa bisa mencairkan suasana yang awalnya beku ataupun tegang.
"Kalau itu sih maunya kamu Mas," sahut Salma dengan senyum manis yang masih menempel di wajahnya.
"Sudahlah, jangan terus-terusan tersenyum seperti itu!" latang Kafa.
"Loh, kenapa kalau aku tersenyum? menunjukkan senyum dan wajah berseri-seri di hadapan suami bukankah hal yang baik Mas?" tanya Salma.
"Baik untuk mu tapi tidak baik untuk kesehatan jantungku," jawab Kafa yang kini menunduk dan berusaha kembali fokus menatap lembar demi lembar kertas putih yang ada di hadapannya.
"Kesehatan jantung, apa hubungannya Mas?" Salma kembali bertanya karena dia tidak tahu apa hubungan senyum yang dia tunjukkan dengan kesehatan jantung yang di katakannya.
"Jantungku selalu saja berdebar kencang setiap kali melihat senyumanmu Salma, bukankah hal itu tidak baik untuk kesehatan jantungku?" ujar Kafa yang cukup membuat Salma terkejut dengan alasan yang baru saja di ucapkan oleh Kafa.
"Akhir-akhir ini Mas Kafa jadi sering menggombal, sepertinya sebentar lagi Mas Kafa bakal mendapat predikat raja gombal sedunia," sahut Salma yang membuat Kafa tersenyum senang mendengarnya.
"Menggombal pada istri sendiri bukankah hal yang wajar dan perlu Sayang," ucap Kafa.
__ADS_1
"Perlu bagaimana Mas? aku baru tahu jika menggombal pada istri itu di perlukan," tanya Salma yang begitu penasaran dengan pernyataan yang baru saja di ungkapkan oleh Kafa.
"Tentu saja perlu untuk keharmonisan rumah tangga, kamu harus tahu Sayang! rumah tangga tanpa gombalan ataupun hal-hal lain yang mungkin bisa membuat istri senang ataupun bahagia akan memiliki akibat yang cukup fatal," Kafa mulai menjelaskan apa yang dia maksud.
"Kok bisa begitu Mas?" Sahut Salma yang semakin penasaran dengan apa yang di katakan oleh Kafa.
"Coba kamu fikir! bagaimana sebuah hubungan yang monoton, sang suami terlalu cuek dan jarang memperhatikan istri, mungkin awalnya akan baik-baik saja, tapi lambat laun perasaan bosan dan ingin mencari suasana baru pasti akan muncul dalam benak wanita itu, awalnya mungkin rasa jenuh, kemudian bosan yang mungkin masih bisa di kontrol, tapi jika rasa bosan dan jenuh itu di biarkan bisa memicu sebuah perselingkuhan, dan pada akhirnya banyak rumah tangga yang hancur karena sang suami tidak pernah perhatian pada istrinya," Kafa menjelaskan alasan yang mendasari dirinya menjadi raja gombal saat ini.
Salma diam memikirkan apa yang di katakan Kafa memang benar adanya, kemungkinan perselingkuhan dalam suatu hubungan pasti akan terjadi jika apa yang di katakan Kafa tadi memang terjadi.
"Tapi aku bukan tipe wanita yang suka atau punya fikiran untuk berselingkuh Mas, jadi tenang saja, semua akan tetap aman meski Mas Kafa tidak menjadi raja gombal," ucap Salma mencoba meyakinkan Kafa jika dia ridaj
"Aku hanya sedia payung sebelum hujan, jadi lebih baik membuatmu senyaman mungkin berada di sisiku dari pada harus melihatmu tergoda oleh laki-laki lain," ujar Kafa yang membuat Salma tersenyum senang menatap ke arah Kafa.
"Sudah aku bilang, berhenti tersenyum Salma," sekali lagi Kafa mengingatkan Salma agar tidak terlalu sering tersenyum di hadapannya.
Suasana di dalam ruangan mulai terasa begitu sunyi, Salma menatap lekat ke arah ponselnya, melihat foto-foto pernikahan yang sengaja di simpan di dalamnya oleh Ummi, sedang Kafa kembali fokus mengerjakan tugasnya, hingga suara dering ponsel mengejutkan keduanya.
"Ghozi," gumam Kafa sambil melihat layar di ponselnya, layar yang menyala menampakkanNama Ghozi di dalamnya.
"Iya, ada apa?" Kafa langsung mengajukan pertanyaan sesaat setelah nada tersambung.
"Assalamualaikum, Mas Kafa," ucap Ghozi mengingatkan Kafa jika dirinya belum mengucapkan salam.
"Waalaikum salam, cepat katakan! ada apa?" Ghozi menyuruh Kafa segera menjawab pertanyaan yang dia berikan.
__ADS_1
"Aku cuma mau pamitan Mas Kafa," jawsb Ghozidengan santai, namun berbeda dengan Kafa yang langsung terkejut mendengar Ghozi berpamitan, Kafa tahu dengan pasti tugas yang di bawa oleh Ghozi.
Ghozi bertugas menjaga keamanan, keselamatan dan kenyamanan Salma selama berada di kota , jika dia kembali pulang bagaimana dengan tugas yang harus dia jalani?
"Pamit bagaimana maksudmu, Ghozi?" tanya Kafa dengan ekspresi wajah sedih dan terlihat ingin melakukan sesuatu, Kafa terlihat ingin pergi dan menemui Ghozi yang kini sedang mengemas beberapa pakaiannya ubtuk di bawa pulang kembali ke pesantren.
"Aku rindu pesantren, dan aku ingin berada di sana untuk beberapa hari ke depan," Ghozi menjelaskanalasan dirinya pergi dan berpamitan ke Kafa, entah Mengapa saat ini Ghozi tiba-tiba ingin pergi ke pesantren, rasa rindu pada suasana di pesantren membuat Ghozi harus segera kembali ke sana.
"Tidak bisakah kamu pergi setelah Salma bertanding dengan Intan?" tanya Kafa, sebenarnya jauh dalam lubuk hati Kafa terdapat rasa khawatir yang tak bisa dia ungkapkan, Kafa sangat khawatir dengan keadaan Salma dan keamanan dia selama ada di kota, bagimanapun juga Intan memiliki sejuta cara untuk memenangkan lomba yang dia buat sendiri, Kafa khawatir Intan mencelakai Salma sebelum ataupun sesudah lomba di laksanakan.
"Aku akan kembali tiga hari sebelum lomba itu di laksanakan Mas Kafa, aku juga sudah membicarakan masalah ini dengan Ummi, lagi pula di pesantren sedang membutuhkan banyak tenaga pengajar untuk mengawasi para santri saat ujian, mungkin aku akan berada di sana selama lima hari, setelah itu aku akan kembali ke kota dan menjalankan tugas yang Ummi berikan," jelas Ghozi yang kini mulai mengerti jika Kafa juga terdengar khawatir dengan keselamatan Salma.
"Baiklah, lima hari, aku harap kamu segera kembali pulang setelahnya," sahut Kafa yang tak lagi bisa mencegah kepergian Ghozi setelah tahu alasan Ghozi pergi meninggalkan kota dan berada di pesantren untuk beberapa hari ke depan.
"Kalai begitu aku pergi dulu Mas Kafa, salam untuk Neng Salma, tolong sampaikan jaga diri baik-baik selama aku pergi," pesan Ghozi yang membuat Kafa jengkel saat mendengarnya.
"Tidak perlu kirim salam seperti itu! Kamu pergi saja! tidak perlu khawatirkan Salma, dia akan tetap baik-baik saja berada di sisiku," sahut Kafa yang mulai terpancing emosinya saat mendengar pesan Ghozi.
"Ada apa, Mas?" tanya Salma sesaat setelah sambungan telfon di tutup, Salma begitu penasaran dengan apa yang dia dengar barusan, pasalnya Salma samar-samar mendengar jika Ghozi ingin berpamitan pergi dari kota.
"Ghozi akan kembali ke pesantren, dan dia tadi berpamitan," jawab Kafa acuh, sungguh dia tidak ingin menyampaikan salam dari Ghozi yang menurutnya tidak baik di dengar oleh istrinya.
"Kenapa Ghozi hanya berpamitan sama Mas Kafa, kenapa tidak berpamitan padaku juga Mas," tanya Salma yang merasa anehdengan sikap Ghozi yang biasanya selalu memberi kabar jika ingin pergi jauh.
"Tidak sempat dia, sudah, jangan di fikirkan lagi! lebih baik sekarang kamu fokus memikirkan cara mengalahkan Intan," jawab Kafa.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kita antar Ghozi sampai tol atau sampai mana gitu Mas? kan kasihan kalau dia harus pergi sendiri tanpa kita antar," usul. Salma yang sudah pasti akan di tolak oleh Kafa.