Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Si Keras Kepala


__ADS_3

"Duduk Salma!" titah Kafa yang mengerti etika dalam pesantren jika Sang guru belum menyuruhnya duduk maka santri itu tidak akan duduk.


Salma yang mendengar perintah Kafa lansung duduk tepat di samping Ummi yang otomatis juga berada di samping Ghozi, entah mengapa ada rasa tidak suka yang menyelinap tiba-tiba di sudut hati Kafa saat melihat Salma duduk di samping Ghozi. Tapi Kafa tetaplah Kafa, sekuat tenaga dia berusaha menahan dan menyembunyikan segala rasa yang ada dalam hatinya, rasa gengsi yang terlalu tinggi membuat Kafa harus menyembunyikan rasa tidak sukanya jauh dalam lubuk hatinya.


Ke empatnya memesan makanan dan minuman kemudian menghabiskannya dan kembali ke pesantren.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," lirih Ummi sesaat setelah sampai di pesantren.


"Ummi, Salma pamit ke asrama dulu." Pamit Salma.


"Iya, pergilah!" sahut Ummi.


Kafa hanya melirik interaksi antara Ummi dan Salma, sejak dia tahu jika Salma adalah gadis yang di jodohkan dengannya Kafa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, kesabaran, ketegasan, kelembutan dan tentu kecantikan yang di miliki oleh Salma mampu membuat Kafa merasa simpati dan merasakan sesuatu yang berbeda saat berada di dekatnya.


Perasaan yang aneh itu sangat jauh berbeda dengan perasaan yang pernah di rasakan oleh Kafa saat dia bersama dengan Intan.


"Sudah jangan melamum terus! cepat masuk dan bersihkan badanmu!" tegur Ummi saat melihat Kafa sedang diam mematung di sebelah mobil.


Kafa yang merasa malu karena ketahuan melamun memilih langsung masuk ke dalam rumah dari pada menanggapi ucapan Ummi yang justru akan membuat dirinya malu.


"Dasar bocah, sok-sok'an gak mau, padahal aslinya seneng," lirih Ummi dengan senyum lucu yang menghiasi wajahnya.


~

__ADS_1


"Cieee yang baru pulang jalan-jalan," goda Tari saat Salma baru saja sampai di dalam kamar, Tari sangat suka menggoda Salma dia berbicara seraya menyenggol bahu Salma.


"Kenapa kamu mau juga?" sahut Salma.


"Kalau di ajak aku pasti maulah Salma, siapa juga yang gak mau di ajak jalan-jalan," jawab Tari.


"Kalau mau minta sono sama Ummi!" ujar Salma berjalan menuju loker mengambil baju ganti kemudian melenggang pergi meninggalkan Tari yang kini terlihat bingung juga heran dengan sikap Salma yang tiba-tiba menjawab semua perkataannya.


"Tumben amat tu anak," lirih Tari.


Salma tak lagi menghiraukan siapa pun, yang ada dalam fikirannya saat ini hanya satu, Salam ingin segera membersihkan diri menghilangkan segala penat yang ada dalam dirinya. Apa yang di lakukan oleh Salma berbeda dengan apa yang di lakukan oleh Kafa.


Seperti yang di rasakan oleh Salma begitu juga di rasakan oleh Kafa, rasa lelah juga hinggap di tubuhnya tapi Kafa tak langsung mandi seperti yang di lakukan oleh Salma, dia justru langsung berbaring merebahkan diri di atas kasur king size miliknya, menatap langit-langit kamar seraya memikirkan apa yang telah terjadi.


"Apa aku sudah mulai menyukai Salma ya? atau ini hanya perasaan yang muncul karena dia gadis yang di jodohkan denganku?" lirih Kafa meraba lebih dalam hatinya yang sering merasa sakit saat Salma berada dekat dengan Ghozi.


Getar ponsel mengusik lamunan Kafa, dengan malas dia meraih ponsel yang ada di saku baju kokohnya.


"Siapa sih? ganggu aja," keluh Kafa seraya melihat sang penelfon yang ternyata adalah Intan.


"Ngapain gadis ini menghubungiku, bukankah hubungan kita sudah berakhir? untuk apa dia menelfon?" berbagai pertanyaan muncul di bebak Kafa, Intan tak se lugu yang dia bayangkan, awalnya Kafa berfikiran jika Intan itu gadis biasa yang akan menyerah saat di putuskan. Tapi dugaan Kafa salah besar, Intan bukan gadis seperti itu, ternyata Intan jauh lebih nekat dari yang di fikirkan Kafa.


Dddrrtt ... ddrttt ... dddrrrttt ....

__ADS_1


tak lama sebelum saluran terputus, dan Kafa belum menyimpan ponselnya tapi ponsel itu kembali berbunyi. Tapi Kafa tetap tak menghiraukannya hingga ponsel itu berhenti, tapi tak lama kemudian ponsel itu kembali berbunyi untuk kesekian kalinya, dan hal itu sangat mengganggu, dengan gerakan penuh kejengkelan Kafa kembali mengambil ponsel yang sempat di lempar di sampingnya dan benar saja yang menelfon itu Intan.


"Sungguh gadis keras kepala," gerutu Kafa seraya mengangkat telfon.


"Honey!!!!" suara nyaring Intan langsung menyambut telinga Kafa yang reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Hm," sahut Kafa dengan singkat.


"Kamu ke mana saja? kenapa tak pernah menghubungiku?" tanya Intan dengan nada manja seperti biasanya.


"Bukankah hubungan kita sudah berakhir? jadi untuk apa aku menghubungimu?" pertanyaan Kafa sungguh membuat Intan jengkel dan emosi, jika saja saat ini Kafa ada di dekatnya, maka sudah bisa di pastikan wajah Kafa akan mendapat tamparan yang pasti sudah mendarat di pipinya.


"Kapan aku menyetujuinya? sudah aku katakan kalau aku tak ingin putus ataupun di putuskan sepihak olehmu, ingatlah hubungan ini atas dasar persetujuan dua belah pihak, maka kau harus mendapat persetujuan dariku jika ingin putus dan mengakhiri semuanya, aku tidak suka di permainkan, dan kamu harus ingat aku akan melakukan sesuatu yang tidak kau sangka jika kamu berani melakukannya." Intan kembali memberi ancaman pada Kafa yang kini lebih yakin untuk menikah dengan Salma dan melupakan Intan yang memang tak pernah benar-benar singgah di hatinya.


"Jangan pernah mengancamku Intan! aku juga bisa melakukan sesuatu padamu jika aku mau saat ini aku akan menikah dengan orang lain! dan aku akan membuat usaha orang tuamu hancur." Kafa balik mengancamnya.


"Coba saja! kamu akan menyesal jika melakukan hal itu," sahut Intan tak mau kalah dengan Kafa.


"Sebenarnya apa yang kamu mau dariku Intan?" kini Kafa mulai bertanya baik-baik pada Intan yang terdengar tak mau mengalah.


"Kamu, aku mau kamu, Kafa, tetaplah jadi kekasihku seperti sebelumnya, kalau bisa jadilah pasangan hidupku," jawab Intan.


Intan terdengar begitu memaksa hingga membuat Kafa jengah dan malas padanya, Kafa kini mulai curiga jika Intan bukan mencintainya, melainkan terobsesi padanya.

__ADS_1


"Jangan pernah memaksakan sesuatu yang tidak mungkin kau miliki selamanya Intan, cukup sudah! hubungan kita sudah berakhir, dan aku tak ingin meneruskan semuanya." Tegas Kafa kemudian dia mematikan sambungan telfon dan kembali merebahkan diri di atas kasur setelah melempar ponsel yang tadi dia genggam di samping tempatnya tidur.


"Semua ini memang kesalahanku, berurusan dengan gadis keras kepala seperti Intan juga termasuk salahku, huft, seandainya dulu aku tidak pergi dati pesantren mungkin tudak akan seperti ini ceritanya," gumam Kafa seraya menutup kedua matanya dengan lengan, menikmati indahnya sebuah masalah yang di timbulkan oleh perbuatannya sendiri.


__ADS_2