
Perlahan tapi pasti Kafa mulai terlelap dalam mimpi yang mampu mengalihkan fikirannya, bagaimanapun Kafa perlu persiapan untuk menghadapi Intan yang terkenal keras kepala dan nekat, apapun bisa di lakukan oleh gadis itu dan Kafa tidak ingin orang-orang di sekitarnya merasakan akibat dari apa yang telah dia perbuat dulu, biarlah Kafa sendiri yang akan merasakan dan menyelesaikan apa yang telah dia mulai dan dia perbuat.
"Lah yang di suruh jagain malah ikut molor," lirih Tari saat melihart Kafa telah lelap dalam mimpi yang terlihat indah, terbukti dari senyum yang tampak dari wajah Kafa.
Tari yang melihat Kafa terlelap lebih memilih untuk ikut beristirahat dan dia memilih duduk di sisi ranjang tempat Salma tidur dan merebahkan kepalanya di dekat lengan Salma.
Jarum jam terus berputar ke arah kanan tanpa bisa berhenti ataupun berbalik arah, yang dia tahu hanya terus berjalan tanpa mau tahu apa saja yang telah terjadi. Kafa yang begitu lelap perlahan mulai membuka mata melihat sekeliling, sungguh dia baru sadar jika dirinya berada di rumah sakit saat melihat Salma dan Tari yang berada tidak jauh dari tempatnya tidur, kamar pasien dengan kelas VVIP memang memberikan kenyamanan yang hampir mirip dengan rumah, yang membuatnya berbeda hanya satu, yaitu bau yang biasanya harum jika ada di rumah tapi di sini, bau khas rumah sakit yang lebih mendominasi.
"Astaghfirullah, aku malah tertidur," lirih Kafa berdiri berjalan ke arah lemari untuk mencari air mineral di sana.
"Kosong," lirih Kafa, entah sejak kapan dia punya kebiasaan minum air dingin setelah bangun tidur, tapi kebiasaan itu kali ini tidak bisa di lakukan karena di dalam lemari es tidak ada air dingin.
Kafa yang merasa jika tenggorokannya kering memilih mengambil air biasa yang tersedia di galon yang ada di samping kulkas kemudian meneguknya dengan tumpukan gelas yang terlihat baru dan tersusun rapi di samping galon penyimpanan air.
"Mas Kafa sudah bangun," lirih Tari saat mendengar suara air yang keluar dari galon.
"Hmm, jika aku tinggal ke mushollah dan kamu sendiri di sini tidak apa-apa?" tanya Kafa yanv berusaha memaatikan jika Tari bisa menjaga Salma seorang diri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas Kafa, tapi kalau ada apa-apa aku bingung harus ngehubungi siapa?" jujur Tari.
"Tunggu, sepertinya aku bawa ponsel lamaku tadi," ujar Kafa saat menyadari jika dirinya membawa dua ponsel di saku baju kokohnya.
Kafa mengambil satu ponsel di saku kirinya kemudian memberikannya ke Tari.
"Telfon nomor ini jika ada sesuatu yang tidak bisa kau lakukan sendiri!" pesan Kafa memberitahu sandi dalam ponselnya dan dia juga memberitahukan nomor mana yang bisa di hubungi saat Tari butuh bantuan.
"Baiklah, terima kasih dan selamat beribadah dengan tenang," sahut Tari tersenyum manis ke arah Kafa.
"Hmm," Kafa hanya menanggapi ucapan Tari dengan deheman tanpa ada niat untuk mengeluarkan kata, baginya saat ini dia harus segera pergi ke mushollah karena waktu sholat sudah sangat mepet, lagi pula Tari sudah bisa dia tinggal dengan ponsel lama yang baru tadi pagi dia sentuh.
Tari yang kini sendirian dan baru terbangun dari tidur mulai merasa jenuh karena tidak ada satupun orang yang bisa di ajak bicara olehnya, Tari berdiri mencoba mencari sesuatu yang bisa di makan di lemari es dan ternyata ada cukup banyak buah-buahan di sana, tanpa banyak bicara Tari langsung mengambil dan memakan satu bungkus anggur merah yang terlihat menggiurkan di depannya itu.
Setengah bungkus anggur merah telah ludes di makan oleh Tari, dan kini dia mulai merasa bosan lagi, Tari mulai melirik ponsel yang di tinggalkan oleh Kafa dan perlahan rasa penasarannya mulai muncul menguasai hati Tari.
'Kalau aku intip isi ponsel itu, kira-kira boleh gak ya?' batin Tari masih bimbang untuk melihat apa yang ada di dalam ponsel Kafa.
__ADS_1
Tari masih berusaha menahan diri agar tidak mengambil dan melihat ponsel Kafa yang kini tergeletak di atas nakas tepat di samping dia duduk.
"Tapi aku penasaran banget sama isinya, kira-kira ada foto Salma gak ya di sana?' setan dalam diri Tari mulai menguasainya, godaan yang sehatusnya tidak dia dengar kini malah terus berbisik di telinga Tari.
"Sudahlah, aku akan lihat saja, toh Mas Kafa gak bakal tahu juga kalau aku buka-buka ponselnya," lirih Tari yang kini sudah mulai tergoda untuk membuka isi dari ponsel yang Kafa tinggalkan.
Pertama kali Tari melihat walpaper yang terpajang di ponsel itu sungguh membuatnya terkejut, foto seorang gadis berhijab pink sedang tersenyum begitu manis dan cantiknya menatap ke arah kamera.
"Ini foto siapa?" Tari mulai bergumam karena rasa penasarannya mulai tidak terbendung lagi.
"Apa ini foto artis ya? tapi aku kok gak pernah lihat? au ah aku lihat dalamnya, kali aja aku dapat petunjuk siapa gadis ini," rasa penasaran Tari benar-benar sudah menguasainya, bahkan dia lupa jika ponsel itu bukan miliknya melainkan milik tunangan sahabatnya sendiri.
Tangan Tari mulai menjelajah ke segala fitur yang ada di dalamnya, ternyata ada beberapa chat penuh cinta yang tersimpan di sana, meskipun tanggal dan tahun yang tertera di sana sudah lama berlalu tapi Tari masih saja penasaran dengan siapa Bella yang tertulis di kontak yang tersimpan.
"Apa ini Bella? dan itu artinya walpaper tadi foto Bella donk," Tari mulaiberasumsi saat melihat satu foto di chat yang tadi dia baca dengan nama kontak (Bella, Bidadariku).
Kini tangan Tari mulai beralih mencari fitur lain yang bernama galeri, dan benar saja ada banyak foto Bella termasuk foto saat Kafa bertunangan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Astaga, kenapa Mas Kafa masih menyimpan semua ini? apa mungkin dia masih belum move on dari gadis ini? jika benar bagaimana dengan nasib Salma?" Tari mulai khwatir dan semakin larut dalam asumsinya sendiri.